Mencetak Sarjana atau Mencetak Pengangguran Terdidik?

S1 - Pendidikan Ekonomi (UM Metro) S2 - Pendidikan Ekonomi (UNS) Dosen Tetap Yayasan Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nasmal Hamda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, ribuan perguruan tinggi di Indonesia meluluskan ratusan ribu sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Prosesi wisuda menjadi simbol keberhasilan setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi. Di balik senyum para wisudawan dan kebanggaan keluarga, tersimpan sebuah kenyataan yang tidak selalu indah.
Tidak sedikit lulusan yang harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuannya. Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah perguruan tinggi sedang mencetak sumber daya manusia yang siap menghadapi dunia kerja, atau justru tanpa disadari ikut menambah jumlah pengangguran terdidik?
Persoalan pengangguran sarjana bukan sekadar disebabkan oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Realitas saat ini menunjukkan bahwa dunia kerja mengalami perubahan yang sangat cepat. Perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, ekonomi digital, dan transformasi industri telah mengubah jenis kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Banyak pekerjaan administratif yang dahulu membutuhkan tenaga manusia kini mulai digantikan oleh sistem digital. Sebaliknya, kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki kemampuan analitis, kreativitas, pemecahan masalah, literasi digital, dan kemampuan beradaptasi justru semakin meningkat.
Sayangnya, sebagian lulusan perguruan tinggi masih menghadapi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan dunia kerja. Banyak perusahaan tidak lagi hanya melihat indeks prestasi kumulatif atau gelar akademik, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman organisasi, kemampuan bekerja dalam tim, komunikasi, kepemimpinan, serta kemampuan memanfaatkan teknologi.
Akibatnya, lulusan yang memiliki nilai akademik tinggi belum tentu lebih mudah memperoleh pekerjaan apabila belum memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Di sisi lain, tidak adil jika seluruh tanggung jawab dibebankan kepada mahasiswa atau lulusan. Perguruan tinggi juga perlu melakukan refleksi terhadap kurikulum dan proses pembelajaran yang diterapkan. Masih terdapat program studi yang lebih menekankan penguasaan teori dibandingkan pengalaman praktis.
Mahasiswa sering kali menguasai konsep akademik, tetapi kurang mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi dunia usaha, industri, maupun masyarakat. Padahal, dunia kerja membutuhkan lulusan yang mampu berpikir kritis, mengambil keputusan, dan beradaptasi terhadap perubahan.
Realitas lain yang tidak dapat diabaikan adalah meningkatnya jumlah lulusan setiap tahun yang tidak selalu diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja formal. Kondisi ini menyebabkan persaingan memperoleh pekerjaan semakin ketat.
Dalam satu lowongan kerja, ratusan bahkan ribuan pelamar dapat bersaing untuk posisi yang sama. Situasi tersebut diperparah oleh perlambatan ekonomi global, efisiensi perusahaan, serta perubahan strategi rekrutmen yang lebih selektif. Akibatnya, banyak lulusan baru harus menerima pekerjaan di luar bidang studinya atau memilih bekerja secara informal demi memperoleh penghasilan.
Fenomena ini seharusnya menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk mengubah paradigma pendidikan. Kampus tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang pembentukan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi dengan dunia industri, magang yang berkualitas, penguatan literasi digital, serta pembelajaran berbasis pemecahan masalah perlu diperluas agar mahasiswa memiliki pengalaman yang lebih dekat dengan realitas dunia kerja.
Selain itu, budaya kewirausahaan juga perlu ditanamkan sejak mahasiswa memasuki bangku kuliah. Selama ini, sebagian besar lulusan masih berorientasi menjadi pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja.
Padahal, perkembangan ekonomi digital membuka peluang yang sangat besar bagi generasi muda untuk membangun usaha berbasis teknologi, ekonomi kreatif, maupun bisnis lokal yang memiliki daya saing. Perguruan tinggi perlu mendorong mahasiswa agar berani menciptakan inovasi, membangun jejaring, dan mengembangkan usaha yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pemerintah juga memiliki peran strategis dalam mengurangi pengangguran terdidik. Kebijakan pendidikan tinggi harus diiringi dengan pengembangan sektor industri yang mampu menyerap tenaga kerja berkualitas.
Investasi, hilirisasi industri, ekonomi hijau, transformasi digital, dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah perlu terus didorong agar tercipta lebih banyak peluang kerja. Di sisi lain, akses pelatihan vokasional dan program peningkatan keterampilan bagi lulusan baru juga harus diperluas sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.
Mahasiswa sendiri juga perlu menyadari bahwa gelar sarjana bukan lagi tujuan akhir, melainkan awal dari proses belajar sepanjang hayat. Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat membuat kompetensi yang dimiliki hari ini dapat menjadi usang dalam beberapa tahun ke depan.
Oleh sebab itu, lulusan perlu memiliki kemauan untuk terus belajar, mengikuti pelatihan, memperoleh sertifikasi kompetensi, meningkatkan kemampuan berbahasa asing, serta membangun portofolio yang menunjukkan kemampuan nyata, bukan hanya sekadar ijazah.
Pada akhirnya, fenomena pengangguran sarjana bukanlah kegagalan individu semata, melainkan tantangan bersama yang harus dijawab secara kolaboratif.
Perguruan tinggi perlu menghasilkan lulusan yang adaptif, pemerintah harus menciptakan iklim ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja, dunia usaha perlu memperkuat kemitraan dengan kampus, sementara mahasiswa harus membangun kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kolaborasi tersebut menjadi kunci agar pendidikan tinggi benar-benar menghasilkan sumber daya manusia yang produktif.
Pertanyaan "Mencetak Sarjana atau Mencetak Pengangguran Terdidik?" sejatinya bukan ditujukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan ini merupakan pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari banyaknya wisudawan setiap tahun, tetapi juga dari sejauh mana lulusan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, dunia kerja, dan pembangunan bangsa.
Ketika perguruan tinggi mampu melahirkan lulusan yang inovatif, adaptif, dan berkarakter, maka gelar sarjana akan kembali menjadi simbol kompetensi dan harapan, bukan sekadar selembar ijazah yang menunggu peluang datang.
