Konten dari Pengguna

Dari Captain Tsubasa ke Panggung Piala Dunia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nastiti Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya bukan penggemar fanatik sepak bola. Tapi menonton timnas Jepang di Piala Dunia 2026, saya justru terpaku pada hal yang tampak sederhana: wajah para pemain. Hampir semuanya “sangat Jepang”—tanpa aroma proyek naturalisasi instan, tanpa nama-nama asing yang tiba-tiba menjadi warga negara demi mengisi posisi krusial di lapangan. Di balik skuad yang tampak homogen itu, ada jejak panjang yang tidak dimulai dari stadion, melainkan dari sebuah halaman komik bernama Captain Tsubasa.

Ilustrasi Anak Muda Jepang dan Bola. Foto : Magnific AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Muda Jepang dan Bola. Foto : Magnific AI

Pertandingan lawan Brasil memberi momentum yang pas untuk membaca jejak panjang itu. Jepang kalah 1-2 setelah sempat unggul lebih dulu lewat Kaishu Sano, lalu dibalas Casemiro sebelum Gabriel Martinelli menutup laga pada masa injury time. Melawan Brasil—tim lima kali juara dunia, negara yang nyaris identik dengan mitologi sepak bola—jelas bukan urusan enteng. Kekalahan itu memang pahit, tetapi justru menunjukkan seberapa jauh Jepang telah bergerak: dari tim yang dulu hanya bermimpi tampil di Piala Dunia menjadi tim yang bisa membuat Brasil bekerja sangat keras sampai menit terakhir.

Jepang pertama kali tampil di putaran final Piala Dunia pada 1998 di Prancis, setelah akhirnya lolos lewat playoff melawan Iran. Debut itu datang setelah trauma besar yang dikenal sebagai Agony of Doha pada 1993, ketika Jepang hanya butuh sedikit lagi untuk lolos ke Piala Dunia 1994, tetapi kebobolan gol penyeimbang Irak dan tersingkir secara menyakitkan. Doha menjadi luka kolektif, tetapi juga titik balik: kekalahan itu memaksa Jepang berhenti memandang sepak bola sebagai harapan romantik semata, lalu mulai menatanya sebagai proyek nasional yang serius.

Di sinilah Captain Tsubasa menjadi menarik, bukan hanya sebagai nostalgia pop, tetapi sebagai mesin pembentuk imajinasi. Manga dan anime itu memberi anak-anak Jepang sebuah bahasa baru tentang sepak bola: lapangan sebagai ruang mimpi, nomor punggung sebagai identitas, latihan sebagai kehormatan, dan tim nasional sebagai horizon yang masuk akal untuk dikejar. Menggunakan perspektif cultural studies, komik semacam itu bukan hiburan netral. Ia adalah teks budaya yang memproduksi hasrat, membentuk cita-cita, dan menanamkan gambaran tentang tubuh ideal: tubuh yang disiplin, tahan banting, dan terus bergerak mengejar bola.

Meminjam Foucault, pengaruh Captain Tsubasa bisa dibaca sebagai bagian dari diskursus: cara masyarakat berbicara tentang mimpi, latihan, kompetisi, dan kebangsaan sampai semuanya terasa wajar dan alamiah. Anak-anak yang membaca Tsubasa tidak sedang diperintah masuk akademi sepak bola, tetapi mereka dibiasakan membayangkan diri sebagai subjek yang layak bercita-cita menuju tim nasional. Dari sana, budaya populer bertemu institusi: sekolah sepak bola, liga usia muda, J.League, hingga federasi yang menyusun visi jangka panjang. Komik, dalam pengertian ini, bekerja seperti propaganda halus yang membuat sebuah proyek nasional terasa menyenangkan untuk diikuti.

Ada sentuhan kriminologis yang tak kalah menarik. Energi anak muda, di manapun, cenderung hadir dalam pola yang mirip: keinginan untuk berkompetisi, mendapat pengakuan, menguji batas, dan sesekali menyalurkan agresi. Dalam teori kontrol sosial Hirschi, olahraga seperti sepak bola adalah salah satu “kegiatan konvensional” yang mengikat anak muda pada dunia sah: mereka punya latihan, jadwal, pelatih, dan tim yang harus dipertanggungjawabkan. Semakin kuat ikatan itu, semakin kecil peluang energi kompetitif mereka bocor ke bentuk-bentuk deviasi. Dari sudut ini, proyek sepak bola Jepang bukan cuma soal mencetak gol, tetapi juga soal kontrol sosial dan manajemen risiko perilaku menyimpang.

Karena itu pula, istilah samurai mentality terasa punya tempat. Ia bukan sekadar tempelan eksotis dari luar, tetapi ringkasan dari sejumlah nilai yang terus diputar dalam kultur sepak bola Jepang: disiplin, ketekunan, kesediaan menahan frustrasi, dan keberanian bertahan sampai peluit akhir. Julukan Samurai Blue sendiri menautkan tim nasional dengan simbolisme historis. Nippon.com bahkan mencatat pemakaian warna biru indigo kachi-iro yang diasosiasikan dengan kemenangan dalam tradisi samurai.

Maka ketika Jepang bisa membuat Brasil kerepotan sampai injury time, yang tampak bukan sekadar kejutan pertandingan, melainkan hasil dari budaya latihan yang panjang dan kesediaan untuk terus belajar dari rasa sakit. Di balik performa kolektif itu, ada figur-figur yang memadatkan cerita Jepang tentang disiplin, pengetahuan, dan samurai mentality dalam satu tubuh.

Sebut saja Kaoru Mitoma, sosok yang menunjukkan bahwa pemain Jepang modern tidak identik dengan atlet yang hanya mengandalkan naluri. Mitoma menunda jalur profesional demi kuliah di University of Tsukuba, mengambil pendidikan jasmani, lalu menulis tesis tentang dribel dan pemrosesan informasi dalam situasi satu lawan satu—bahkan memasang kamera di kepalanya untuk merekam arah pandang dan gerak tubuh saat menggiring bola.

Pendekatan itu membuatnya tampak bukan cuma pemain bola, tetapi juga semacam peneliti atas tubuhnya sendiri. Karya ilmiahnya tentang “the art of dribbling” banyak dikutip, membuatnya dikenal sebagai a student of the game yang membawa cara berpikir ilmiah ke lapangan. Lahir pada 1997, ia memulai karier profesional di Kawasaki Frontale sebelum bergabung ke Brighton & Hove Albion pada 2021 dan bersinar di Premier League, meski cedera hamstring jelang Piala Dunia 2026 membuatnya absen dari skuad Jepang.

Dalam kacamata Foucault, tubuh Mitoma adalah titik temu antara diskursus dan praktik: dibentuk oleh narasi populer tentang sepak bola, didisiplinkan oleh rezim latihan yang ketat, lalu direfleksikan lewat riset sport science yang ia lakukan sendiri. Samurai mentality yang sering dilekatkan pada timnas Jepang—disiplin, ketekunan, keberanian menahan frustrasi—di tubuh Mitoma tampil dalam versi yang lebih modern: bukan hanya “berlatih lebih keras”, tetapi juga “memahami tubuh lebih dalam”. Ia berlari dengan etos samurai, tetapi melihat dribelnya dengan mata seorang peneliti.

Akhirnya, kekalahan 1-2 dari Brasil tetaplah kekalahan. Namun skor itu juga bekerja sebagai pengingat bahwa Jepang tidak lagi hadir di Piala Dunia sebagai pelengkap. Dari luka Doha 1993 ke debut 1998, dari halaman Captain Tsubasa ke lapangan terbesar dunia, dari disiplin kolektif ke figur seperti Mitoma yang memadukan kecerdasan akademik dan teknik lapangan, Jepang menunjukkan bahwa sepak bola bisa dibangun bukan lewat jalan pintas naturalisasi massal, melainkan lewat kultur yang disemai lama.

Pada titik itu, sepak bola Jepang menarik bukan semata karena hasilnya, melainkan karena ia memperlihatkan bagaimana budaya populer, tata kelola tim, dan imajinasi nasional dapat bertemu dalam satu proyek yang terus bergerak, bahkan ketika harus pulang dengan air mata dari tribun.