Konten dari Pengguna

Tonic Immobility, Bagaimana Hubungannya dengan PTSD?

Naswa Ratisa Azzahra

Naswa Ratisa Azzahra

Mahasiswi S-1 Program Studi Psikologi, Universitas Brawijaya.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naswa Ratisa Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : RODNAE Productions / Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : RODNAE Productions / Pexels

Isu kekerasan seksual merupakan isu yang sedang kontroversial dibicarakan dan diberitakan terutama di Indonesia. Seringkali saat seorang korban mengalami kekerasan seksual, tidak jarang masyarakat yang malah melakukan victim blaming terhadap korban dikarenakan respons korban yang tidak melakukan apa-apa saat dilecehkan. Tidak sedikit pula masyarakat yang akhirnya malah menyalahkan korban dan bukannya mendukung korban. Padahal sebenarnya ada penjelasan ilmiah dibalik respons yang dialami oleh korban dan respons tersebut merupakan hal yang sangat wajar terjadi. Kali ini saya akan membahas tentang tonic immobility dan hubungannya dengan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Apa itu tonic immobility?

Menurut Abraham et. al (2009), Tonic immobility adalah ketidakmampuan seseorang dalam bergerak untuk merespon situasi yang melibatkan ketakutan yang ekstrem. Tonic immobility biasanya dialami oleh korban kekerasan seksual. Hal tersebut berdasarkan sebuah penelitian, dimana sekitar 70% dari partisipan melaporkan bahwa mereka mengalami tonic immobility, setidaknya untuk sebagian dari serangan kekerasan seksual yang mereka alami. Bahkan, penelitian mengenai tonic immobility sebenarnya sudah dilakukan terhadap hewan dari beberapa dekade terakhir. Menurut Ratner (1967), tonic immobility dianggap sebagai pertahanan terakhir melawan jebakan oleh predator dalam urutan respons defensif yaitu diam, lari, lawan, dan tonic immobility. Contohnya, untuk menyelamatkan diri dari predator, hewan berpura-pura mati agar meningkatkan kemungkinan untuk tidak diketahui keberadaannya oleh predator.

Jadi, tonic immobility merupakan hal yang normal untuk dialami dan bukan berarti korban kekerasan seksual tidak mau melawan, tetapi memang dikarenakan itu merupakan respons dari otak yang didominasi oleh sirkuit rasa takut. Dengan demikian, menurut saya sangat tidak pantas bagi kita untuk menyalahkan korban yang tidak bisa melawan, apalagi seringkali ada yang mengatakan bahwa korban sebenarnya menikmati hal tersebut. Tidak jarang akhirnya korban merasa semakin bersalah, bahkan sempat ada berita tentang korban kekerasan seksual yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Hal tersebut merupakan bukti bahwa kultur dimana masyarakat kita menghakimi seseorang atau sesuatu tanpa mencari tahu lebih dalam tentang hal tersebut memang masih mendarah daging. Apa yang masyarakat dengar dari berita langsung dijadikan justifikasi terhadap korban. Seperti contohnya, jika korban tidak melawan, maka akan langsung disimpulkan bahwa korban "menikmati" dan sengaja tidak melawan.

Adapun sekelompok orang yang juga menyalahkan korban yang speak up setahun setelah peristiwa tersebut menimpanya. Kata-kata seperti "Kenapa tidak lapor dari awal?" atau "Kenapa baru lapor sekarang?", tidak jarang juga terlontar dari mulut mereka. Maka, harus kita ketahui bahwa tanpa disadari, penyebab korban tidak memiliki keberanian untuk speak up salah satunya adalah masyarakat sendiri. Karena ketika korban sudah memberanikan dirinya untuk speak up berarti korban sudah berhasil melawan rasa bersalah dan ketakutan yang dimilikinya. Namun, ternyata korban juga harus melawan penghakiman dari masyarakat sekitarnya. Padahal tugas masyarakat adalah untuk memberikan perlindungan serta dukungan penuh kepada korban, tetapi malah sebaliknya.

Selain itu, korban kekerasan seksual juga sangat rentan terhadap beberapa gangguan mental, terutama PTSD. Banyak penelitian yang menemukan asosiasi yang kuat antara tonic immobility terhadap PTSD dimana korban kekerasan seksual yang pernah mengalami tonic immobility sangat rentan menunjukkan gejala PTSD.

Apa itu PTSD dan apa hubungannya dengan tonic immobility?

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan gangguan mental atau stres pasca-trauma yang dialami seseorang setelah orang tersebut mengalami suatu kejadian traumatis seperti kekerasan seksual, kecelakaan atau kejadian lainnya yang dapat mengancam kehidupan seseorang dan memiliki gejala seperti mimpi buruk serta kenangan-kenangan yang menyedihkan terkait trauma yang dialaminya (Erlin & Sari, 2020). Menurut Marx et al. (2008), memang kebanyakan penelitian tonic immobility manusia difokuskan kepada PTSD.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Malgahaes et al. (2021) mengasosiasikan tonic immobility dengan gejala PTSD dengan subjeknya adalah remaja yang memiliki trauma. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa PTSD dan tonic immobility memang memiliki keterkaitan yang kuat terutama di masa remaja. Kenapa terutama di masa remaja? karena masa remaja merupakan tahap perkembangan otak yang paling krusial, dimana tonic immobility merupakan faktor kerentanan pada kelompok usia tersebut. Tidak sedikit remaja sekarang yang sedari kecil sudah memiliki trauma yang mendalam dan hal tersebut tidak hanya berbahaya bagi kesehatan mental mereka, tetapi juga berdampak besar terhadap perkembangan serta kondisi kejiwaan mereka di masa yang akan datang.

Kemudian, bagaimana tonic immobility bisa menyebabkan gejala PTSD? berdasarkan penelitian tersebut, tonic immobility bisa menyebabkan seseorang menyalahkan diri sendiri dan rasa bersalah tersebut dapat menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan tonic immobility dengan gejala PTSD. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, rasa bersalah hadir karena korban merasa tidak bertindak dengan tepat saat terjad serangan. Maka dari itu, rasa bersalah merupakan salah satu kunci utama dari berkembangnya gejala PTSD. Karena dengan korban menyalahkan dirinya sendiri, maka akan menyulitkan proses pemulihannya. Ditambah dengan rasa bersalah yang memiliki asosiasi yang kuat dengan PTSD. Kuatnya asosiasi tersebut dibuktikan dengan banyak orang yang biasanya melekatkan peristiwa mereka dengan jalan cerita hidup dan identitas mereka, walaupun kejadian tersebut terjadi di masa lalu. Contohnya, jika ada seseorang yang trauma karena dahulu pernah mengalami kecelakaan mobil, maka kemungkinan dia tidak akan mau naik mobil lagi atau bahkan takut jika berpapasan dengan mobil di jalan karena mobil telah menjadi sebuah trigger bagi traumanya.

Hal tersebut juga berlaku untuk korban kekerasan seksual. Contohnya, ada perempuan yang merupakan korban kekerasan seksual. Setelah kejadian itu menimpanya maka ada kemungkinan dia akan merasa takut bukan hanya terhadap pelaku tetapi kemungkinan terhadap laki-laki secara umum. Kemudian, ada kemungkinan sang korban akan menjadi sangat defensif apabila ada seorang laki-laki yang terlalu dekat kepadanya. Hal tersebut membuktikan bahwa walaupun kejadian tersebut terjadi di masa lalu, tetapi trauma beserta luka yang didapatkan masih dapat dirasakan sampai sekarang.

Solusinya bagaimana? Apa yang bisa kita lakukan?

Menurut opini saya, penting sekali bagi mereka yang pernah mengalami tonic immobility untuk diberikan dukungan sebanyak mungkin dan kita harus membantu mereka untuk menjauhkan diri dari rasa bersalah. Korban membutuhkan lingkungan yang suportif, agar bisa pulih dan menjalani kehidupan dengan baik kembali. Selain itu, lingkungan yang suportif dapat mengurangi kemungkinan PTSD ataupun gangguan mental lainnya.

Lalu, sebaiknya kita harus bagaimana jika mendapati orang yang kita kenal mengalami kejadian tersebut? Hal pertama yang harus kita lakukan saat mengetahui bahwa orang yang kita kenal dilecehkan adalah memberikan mereka ruang. Ruang untuk melepaskan emosi yang mengekang mereka, ruang untuk mengeluarkan isi hati mereka dan ruang untuk mereka bersandar. Tunggu sampai mereka tenang dahulu dan jangan paksa apabila korban tidak ingin bercerita. Temani sang korban dan selalu tanyakan kondisinya secara berkala. Oleh karena itu, kita harus bisa peka terhadap lingkungan sekitar kita, mulai dari keluarga, teman terdekat, sampai lingkup masyarakat yang lebih luas.

Kemudian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait gangguan mental pada remaja dan hubungannya dengan tonic immobility ataupun kekerasan seksual itu sendiri. Karena hal tersebut sangat penting dan juga merupakan salah satu cara untuk meminimalkan kemungkinan berkembangnya gangguan mental terutama terhadap mereka yang tinggal di daerah yang kurang mampu dengan tingkat kekerasan yang tinggi atau layanan kesehatan dan sosial yang buruk.

Dengan demikian, sudah saatnya kita menerapkan ”talk less and do more”, yaitu kita harus lebih sedikit menghakimi atau mengomentari apa yang terjadi kepada korban. Jika ingin berbicara maka berikan kata-kata yang baik, membangun dan memberikan rasa aman kepada korban. Lakukan yang terbaik mulai dari hal kecil seperti menemani korban saat sedang sendiri, selalu membantu jika korban membutuhkan bantuan dan hal lainnya. Harapannya dengan kita berfokus pada hal-hal tadi, kita dapat menciptakan lingkungan yang positif tidak hanya bagi korban atau orang lain tetapi bagi diri kita sendiri.

Berikut adalah daftar pustaka yang saya gunakan dalam tulisan ini :

Abrams MP, Carleton RN, Taylor S, Asmundson GJ. Human tonic immobility: measurement and correlates. Depress Anxiety. 2009;26(6):550-6. doi: 10.1002/da.20462. PMID: 19170102

Marx B.P., Forsyth J.P., Gallup G.G., Fuse T., Lexington J.M. (1977). Tonic immobility: The role of fear and predation. Psychol. Rec., 27, pp. 41-61

Erlin, F., & Sari, I. Y. (2020). Gejala PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) Akibat Bencana Banjir pada Masyarakat Kelurahan Meranti Rumbai Pesisir Pekanbaru). Jurnal Dinamika Lingkungan Indonesia,7, 17-21.

Ratner S.C. (1967). Comparative aspects of hypnosis. J.E. Gordon (Ed.), Handbook of Clinical and Experimental Hypnosis, Macmillan, New York , pp. 550-587

Marx, B.P., Forsyth, J.P., Gallup, G.G., Fusé, T., & Lexington, J.M. (2008). Tonic immobility as an evolved predatory defense: Implications for sexual assault victims. Clinical Psychology: Science and Practice, 15(1), 74-90. http://dx.doi.org/10.1111/j.1468-2850.2008.00112.x

Magalhaes A. A., Gama C. M. F., Goncalves R. M., Portugal L. C. L., David I. A., Serpeloni F., Pinto L. W., Assis G. S., Avanci J. Q., Volchan E., Figueira I., Vilete L. M. P., Luz M. P., Berger W., Erthal F. S., Mendlowicz M. V., Mocaiber I., Pereira M. G., & Oliveira L. D. (2021). Tonic Immobility is Associated with PTSD Symptoms in Traumatized Adolescents. Psychol Res Behav Manag, 14, 1359–1369. doi: 10.2147/PRBM.S317343

Möller, A., Söndergaard, H. P., & Helström, L. (2017). Tonic immobility during sexual assault–a common reaction predicting posttraumatic stress disorder and severe depression. Acta obstetricia et gynecologica Scandinavica.