Hidup Gen Z di Tengah Sorotan Media Sosial: Terkoneksi Tapi Kesepian

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nasya Aulia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya Gen Z. Sehari-hari hidup dengan dua dunia: dunia nyata dan dunia layar. Tapi jujur, akhir-akhir ini saya makin sering merasa tenggelam di dunia yang kedua. Media sosial yang dulu saya anggap tempat hiburan, sekarang lebih sering terasa seperti ruang penghakiman yang tak pernah tidur.
Saya sadar, hampir semua teman saya termasuk saya sendiri secara nggak langsung hidup untuk dilihat. Bukan untuk dijalani, tapi untuk ditonton. Nongkrong harus ada Instastory. Foto harus diedit sampai mulus. Liburan bukan tentang istirahat, tapi soal konten. Bahkan sedih pun harus tetap kelihatan “estetik”. Lelah? Jelas. Tapi nggak ada yang mau kelihatan kalah.
Gaya hidup kami sekarang banyak dipengaruhi oleh apa yang kami lihat di layar. Ada yang rela utang demi beli barang branded biar bisa pamer. Ada yang ikut-ikutan gaya hidup “healing” padahal dompet sekarat. Ada yang jadi kehilangan arah karena terus-terusan merasa hidupnya nggak sekeren orang lain.
Saya pernah kok ngerasa nggak berguna cuma gara-gara lihat teman seangkatan udah punya usaha, punya followers ribuan, dan rutin dapat endorse. Padahal saya juga berproses, juga capek. Tapi algoritma nggak peduli. Yang ditunjukin terus ya itu-itu aja: orang yang sukses, cantik, punya privilege, dan keliatan bahagia 24/7. Lama-lama kita percaya, kalau kita nggak kayak mereka, berarti kita gagal.
Media sosial bikin kami jadi generasi paling terhubung, tapi ironisnya juga paling kesepian. Kita bisa chatting kapan aja, tapi ngomong jujur tentang perasaan sendiri? Susah. Karena takut dibilang lemah, takut nggak keren, takut “nggak pantas” tampil rapuh di tengah banjir pencitraan.
Saya nggak bilang media sosial itu jahat. Tapi kenyataannya, dia sering jadi cermin palsu. Kita ngaca, tapi yang kita lihat bukan diri sendiri melainkan versi yang ingin dilihat orang lain. Dan itu pelan-pelan bisa menggerus kita, secara mental dan emosional.
Mungkin sudah saatnya Gen Z kayak saya mulai jujur. Jujur kalau kita capek jadi sempurna. Jujur kalau kita butuh istirahat dari sorotan. Dan jujur bahwa validasi terbaik nggak datang dari likes atau views, tapi dari kenyataan bahwa kita tetap bertahan, meski dunia layar terus mendorong kita untuk berpura-pura kuat.
