Baking Therapy : Memanggang Kue, Menenangkan Pikiran

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Nasywa Aqeela tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

One day, saat sedang stres karena berbagai tuntutan dan pikiran yang seolah tidak ada habisnya, aku menemukan satu kegiatan sederhana yang justru membuatku merasa lebih tenang, yaitu baking. Awalnya, aku hanya ingin mencoba membuat kue untuk mengisi waktu luang. Namun, tanpa kusadari, proses mengukur bahan, mengaduk adonan, hingga menunggu kue matang perlahan membuat pikiranku terasa lebih ringan. Untuk beberapa saat, aku tidak lagi memikirkan tugas yang menumpuk, kekhawatiran tentang masa depan, atau berbagai hal yang membuatku lelah secara mental. Saat itu, yang ada hanyalah aku, adonan, dan proses yang sedang berlangsung.
Dari pengalaman tersebut, aku mulai bertanya-tanya, apakah hanya aku yang merasakan ketenangan seperti ini ketika baking?
Ternyata, jawabannya tidak. Banyak orang juga merasakan hal yang serupa. Baking bukan hanya sekadar kegiatan membuat makanan atau mengisi waktu luang, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk merawat diri dan menjaga kesehatan mental. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, aktivitas sederhana seperti membuat kue ternyata mampu memberikan ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak dan menikmati momen yang sedang dijalani.
Saat baking, perhatian kita secara alami tertuju pada setiap langkah yang dilakukan. Mulai dari menyiapkan bahan, mengikuti resep, mencampur adonan, hingga menghias hasil akhir, semua proses tersebut menuntut fokus dan keterlibatan penuh. Tanpa disadari, perhatian yang sebelumnya dipenuhi oleh berbagai kekhawatiran perlahan beralih pada aktivitas yang sedang dilakukan. Inilah yang membuat baking sering kali terasa menenangkan dan membantu mengurangi stres.
Lebih dari itu, baking juga berkaitan dengan konsep mindfulness, yaitu kemampuan untuk hadir sepenuhnya pada momen saat ini. Ketika tangan sibuk mengaduk adonan, mata memperhatikan perubahan tekstur, dan hidung mulai mencium aroma kue yang perlahan memenuhi ruangan, pikiran menjadi lebih terpusat pada apa yang sedang terjadi. Kita tidak lagi terlalu sibuk memikirkan kesalahan di masa lalu ataupun mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi di masa depan. Ada perasaan tenang yang muncul karena kita benar-benar hadir dalam proses tersebut.
Baking juga mengajarkan sesuatu yang sering kali terlupakan dalam kehidupan sehari-hari: kesabaran. Tidak ada kue yang bisa matang dalam hitungan detik. Setiap tahap membutuhkan waktu dan perhatian. Kita harus mengikuti prosesnya, menunggu adonan mengembang, menanti kue matang di dalam oven, dan menerima bahwa hasil akhirnya mungkin tidak selalu sesuai dengan yang dibayangkan. Dari sini, kita belajar bahwa tidak semua hal harus sempurna untuk bisa dinikmati. Kadang-kadang, justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat proses menjadi lebih bermakna.
Selain memberikan ketenangan, baking juga mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat bahan-bahan sederhana seperti tepung, telur, gula, dan mentega berubah menjadi sesuatu yang dapat dinikmati. Perasaan berhasil menyelesaikan satu proses dari awal hingga akhir dapat memberikan rasa pencapaian yang positif. Meskipun terlihat sederhana, pengalaman ini mampu meningkatkan keyakinan bahwa kita mampu menyelesaikan sesuatu dengan baik.
Menariknya lagi, baking sering kali menghadirkan pengalaman emosional yang lebih dalam. Aroma kue yang baru matang atau rasa tertentu dari makanan yang dibuat dapat membangkitkan kenangan tentang rumah, keluarga, atau momen-momen hangat di masa lalu. Bagi sebagian orang, aroma tersebut mampu menghadirkan kembali perasaan nyaman, aman, dan dicintai. Tidak heran jika banyak orang merasa lebih tenang dan bahagia ketika berada di dapur atau menikmati hasil panggangan mereka sendiri.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Vanessa Tsao (2024), baking dapat berfungsi sebagai bentuk self-care karena mampu membantu regulasi emosi, meningkatkan mindfulness, serta memberikan ruang bagi individu untuk melakukan refleksi diri. Aktivitas ini juga melibatkan berbagai indra sekaligus, mulai dari penglihatan, penciuman, peraba, pendengaran, hingga pengecap. Keterlibatan berbagai indra tersebut membuat seseorang lebih terhubung dengan pengalaman yang sedang dijalani, sehingga membantu mengalihkan perhatian dari stres dan tekanan yang dirasakan.
Pada akhirnya, baking mengajarkan bahwa healing tidak selalu harus dilakukan melalui cara-cara yang besar atau rumit. Terkadang, ketenangan bisa ditemukan dari hal-hal sederhana, seperti mengaduk adonan di sore hari, mencium aroma kue yang baru keluar dari oven, atau menikmati hasil kerja tangan sendiri. Di balik setiap adonan yang mengembang dan setiap kue yang matang, ada proses yang mengajarkan kesabaran, penerimaan, dan perhatian terhadap diri sendiri. Mungkin itulah alasan mengapa bagi banyak orang, baking bukan sekadar hobi, melainkan juga cara untuk pulang sejenak kepada diri sendiri.
________________________________________________
Oleh Nasywa Aqeela, Dr. Rachmat Mulyono M.Si.,Psikolog
