Pangandaran Di Malam Hari: Pariwisata Heboh, Keselamatan Terlupakan

Undergraduate Communication Science Student at Univertas Padjadjaran.
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Nasywa Ghina Wardhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangandaran dikenal luas sebagai destinasi wisata alam yang memikat, selalu digunakan sebagai primadona pariwisata Jawa Barat. Namun, di balik gemerlap promosi dan citra destinasi unggulan, tersimpan ironi yang menghantam keras realitas di lapangan, yaitu minimnya infrastruktur penerangan jalan umum (PJU), bukan hanya di jalan raya Pangandaran saja, namun juga di beberapa desa-desa yang ada di Pangandaran. Kondisi ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan warga dan wisatawan, serta sebuah pukulan telak bagi keberlangsungan pariwisata itu sendiri. Fenomena ini mencerminkan kegagalan pemerintah daerah dalam menyediakan infrastruktur dasar yang esensial secara merata untuk mendukung sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Pemerintah seolah hanya fokus terhadap satu pusat sehingga titik-titik pendukung yang ada terlupakan. Saya berpendapat bahwa kegelapan ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi cerminan ketidakpedulian yang harus segera dibongkar dan diperbaiki. Berdasarkan laporan media detikjabar, yang ditulis oleh Aldi Nur Fadillah, menunjukkan bahwa Pangandaran secara umum telah lama mengalami masalah serius dengan penerangan jalan. Sejumlah lampu jalan di kawasan wisata, terutama jalur utama menuju Pantai Pangandaran dan sekitarnya, banyak yang mati atau tidak berfungsi, sehingga jalanan tampak gelap gulita saat malam hari. Penyebabnya bukan hanya usia lampu, tetapi juga kerusakan teknis, korosi, sambaran petir, bahkan pencurian kabel lampu jalan yang parah. Kondisi ini menjadi perhatian utama Dishub Kabupaten Pangandaran saat berupaya memperbaiki fasilitas PJU meskipun anggaran dan koordinasi kewenangan menjadi kendala. Sayangnya, meskipun isu ini sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan menjelang musim liburan besar, seperti Nataru respons pemerintah daerah masih bersifat tambal sulam, bukan solusi struktural. Dalam kondisi dimana hampir seluruh ruas jalan wisata dan akses penghubung menuju obyek wisata hampir gelap total di jam malam, pemerintah justru menambah armada perbaikan, seperti crane agar pemeliharaan lebih cepat dilakukan, tanpa mengalami akar masalah yang lebih dalam. Kegelapan yang Mengancam Nyawa Jalanan yang gelap mempersulit pengemudidalam mengantisipasi kondisi jalan, terutama di daerah yang berbukit dan berkelok. Berdasarkan laporan warga dan beberapa artikel berita lokal, sering terjadi kecelakaan ringan hingga berat di kawasan ini pada malam hari akibat minimnya penerangan. Ketidaknyamanan ini tentunya akan menurunkan daya Tarik wisata, karena pengunjung cenderung menghindari daerah yang berisiko. Parahnya ancaman kriminalitas juga akan meningkat di area gelap, yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan wisatawan. Pemerintah memang menyatakan komitmennya untuk memperbaiki, tetapi fakta bahwa pada tahun 2025 ini, situasi belum menunjukkan perbaikan signifikan. Wisatawan dan masyarakat terus mengeluhkan PJU yang padam di jalur utama Pangandaran, bahkan ada tiang yang rusak parah. Kondisi ini membuat jalan-jalan utama gelap gulita pada malam hari, bahkan di kawasan wisata. Berdasarkan pendataan Dinas Perhubungan (Dishub) Pangandaran pada September 2025, terdapat 1.999 titik PJU yang membutuhkan perbaikan.
Pariwisata Pangandaran Tidak Seserius Itu? Pangandaran dikenal sebagai destinasi wisata utama yang menarik kunjungan ratusan ribu bahkan jutaan pelancong setiap tahun. Namun, fakta bahwa fasilitas dasar semacam penerangan jalan saja tidak terawat menunjukkan adanya disparitas tajam antara promosi pariwisata dan pemenuhan kebutuhan dasar infrastruktur. Lampu jalan yang terpercaya adalah kebutuhan fundamental, sama pentingnya dengan toilet publik, akses air bersih, dan rambu keselamatan. Bayangkan seorang wisatawan asing atau domestik yang tiba di Pangdandaran saat malam hari, namun tidak menginap pada pusat keramaian setelah perjalanan panjang, hanya menemukan jalan yang gelap, tanpa penerangan memadai. Pengalaman negatif seperti itu lebih mudah viral daripada pujian terhadap keindahan pantai, dan itu berdampak langsung pada reputasi destinasi. Kenyamanan wisatawan bukan hanya soal spot foto Instagramable, tetapi juga soal aspek keselamatan dan kepastian pengalaman yang menyenangkan. Dan ketika fasilitas sekecil lampu jalan saja merana, betapa rapuhnya citra pariwisata Pangandaran sebagai tujuan kelas dunia. Ketidakjelasan Tata Kelola Pariwisata Secara Profesional Masalah lainnya terletak pada tata kelola yang tidak jelas dan pembagian kewenangan yang memecah-belah, antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat (untuk jalan nasional). Saat lampu jalan di jalur nasional padam, diskusi tentang kewenangan sering menjadi alasan untuk tidak ada tindakan cepat. Dishub harus menunggu instruksi dan kolaborasi dengan Kementerian Perhubungan dan Pemprov Jawa Barat, sementara masyarakat tetap berada dalam gelap. Sebagai daerah yang mengandalkan sektor pariwisata, seharusnya pemerintah mampu mengalokasikan anggaran secara tepat untuk infrastruktur pendukung yang esensial. Namun, kenyataannya, perhatian terhadap aspek keselamatan dan kenyamanan pengunjung masih sangat kurang. Hal ini menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi tuntutan pengelolaan pariwisata yang profesional dan berkelanjutan. Dalam era di mana wisatawan semakin kritis memilih destinasi yang aman dan nyaman, ketidakseriusan ini berpotensi menurunkan reputasi Pangandaran secara signifikan. Waktu untuk Bertindak Tidak Bisa Ditunda Melihat situasi ini, saya menegaskan bahwa Pangandaran harus menjadikan penerangan jalan sebagai prioritas strategis, bukan sekadar titik anggaran musiman. Ada beberapa langkah konkrit yang perlu segera dilakukan: 1. Perencanaan infrastruktur penerangan yang terintegrasi 2. Kolaborasi lintas lembaga yang jelas 3. Perlindungan aset publik dan pengawasan masyarakat 4. Anggaran yang memadai dan transparan Jangan biarkan Pangandaran hanya menjadi "melesat" dalam promosi, tetapi juga "meleset" dalam implementasi nyata infrastruktur vital seperti PJU. Jika langkah-langkah ini diabaikan, reputasi Pangandaran sebagai destinasi aman akan terkikis dan yang paling menderita adalah warga dan pelaku usaha lokal yang mengandalkan pariwisata. Bagaimana mungkin sebuah daerah pariwisata unggulan dapat menarik dan mempertahankan kunjungan jika infrastruktur dasarnya, seperti penerangan, masih jauh dari memadai?
