Konten dari Pengguna

Dari Sawah ke Kota: Kisah Awal Kampung Setu

Nasywa Hafizhah

Nasywa Hafizhah

Saya, Nasywa adalah mahasiswa universitas Pamulang, Prodi Sastra Indonesia

ยทwaktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nasywa Hafizhah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto kelurahan setu (sumber: dokumen pribadi) kamis, 31 Oktober 2025
zoom-in-whitePerbesar
Foto kelurahan setu (sumber: dokumen pribadi) kamis, 31 Oktober 2025

Kampung Setu merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan geografis dan sosialnya. Terletak di pinggiran Jakarta, daerah ini awalnya dikenal sebagai kawasan yang dikelilingi oleh sawah, rawa, dan situ atau danau. Berada di bawah naungan pepohonan bambu berduri yang tumbuh liar, kampung ini dahulu sangat identik dengan keasrian alamnya. Namun, seiring berjalannya waktu, pembangunan dan urbanisasi yang pesat telah membawa banyak perubahan pada lanskap dan kehidupan masyarakat di sana.

Meski demikian, Kampung Setu tetap memiliki akar tradisi yang kuat, di mana masyarakat setempat masih memegang teguh nilai-nilai lokal yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka,Dalam perkembangan sejarahnya, Kampung Setu mengalami berbagai transformasi, dari sebuah wilayah pedesaan yang didominasi oleh aktivitas pertanian dan perikanan, hingga menjadi daerah pemukiman yang padat dan terintegrasi dengan perkembangan kota. Masjid menjadi pusat spiritual dan sosial bagi warga, menggambarkan peran agama yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di sana. Kampung ini tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga memelihara warisan budaya yang terus hidup di tengah modernisasi.

Foto setu yang sekarang ganti nama menjadi telaga purnama (sumber: dokumen pribadi) kamis, 31 Oktober 2025

Nama "Setu" dalam konteks lokal mengacu pada adanya situ atau danau kecil yang dahulu mendominasi lanskap kampung tersebut. Dalam bahasa Sunda, "setu" berarti danau, dan penggunaan istilah ini di wilayah Jakarta dan sekitarnya merupakan warisan dari masa lalu ketika pengaruh budaya Sunda sangat kental di kawasan tersebut. Daerah Setu dulunya memang memiliki situ yang menjadi sumber air bagi masyarakat setempat, yang memanfaatkannya untuk irigasi sawah serta sebagai tempat mencari ikan, Seiring waktu, situ yang menjadi ciri khas tempat ini berangsur-angsur menyusut, baik karena faktor alamiah maupun akibat dari pembangunan yang terjadi di sekitar wilayah tersebut.

Namun, nama "Setu" tetap melekat sebagai penanda identitas sejarah dari tempat ini, meskipun banyak warga baru yang mungkin tidak lagi mengenal asal usul nama tersebut. Nama ini juga berfungsi sebagai pengingat bahwa kampung ini dulu merupakan kawasan yang bersinggungan erat dengan alam, terutama dengan sumber daya air.

Terkait asal-usul nama Setu, terdapat beberapa versi dan interpretasi yang berkembang di masyarakat. Sebagian orang berpendapat bahwa nama ini murni diambil dari keberadaan situ yang pernah ada di wilayah itu, sementara yang lain meyakini bahwa nama tersebut juga berkaitan dengan legenda atau kisah lokal yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi,Salah satu versi menyebutkan bahwa situ tersebut bukan hanya sekadar danau, tetapi juga dianggap memiliki nilai spiritual.

Ada cerita lama yang berkembang di masyarakat bahwa di sekitar situ tersebut, pernah ada seorang tokoh atau sesepuh kampung yang memiliki pengaruh besar dalam mengelola kehidupan sosial dan religius warga setempat. Kehadiran tokoh ini konon terkait dengan pemilihan nama Setu, meski bukti historis yang menguatkan cerita ini tidak pernah terdokumentasikan secara resmi,Versi lain mengaitkan nama Setu dengan peristiwa atau fenomena alam tertentu yang pernah terjadi di wilayah tersebut, seperti banjir besar atau pembentukan danau secara tiba-tiba akibat gempa bumi atau longsor. Meski demikian, cerita-cerita semacam ini lebih bersifat legenda dan belum dapat diverifikasi dengan data sejarah yang akurat.

Foto setu yang masih tersisa di pinggir Puspiptek (sumber: dokumen pribadi) kamis, 31 Oktober 2025

Selain itu, kontroversi mengenai asal-usul nama Setu juga menyentuh pada bagaimana identitas lokal bertransformasi seiring modernisasi. Beberapa pihak menyayangkan bahwa semakin banyak pendatang di wilayah ini yang tidak memahami atau menghargai sejarah dan asal-usul nama tersebut, yang dianggap sebagai bagian penting dari warisan budaya daerah,Secara geografis, Kampung Setu dulu dikenal sebagai daerah yang didominasi oleh hamparan sawah, rawa, dan lahan basah yang kaya dengan pepohonan bambu berduri. Bambu ini menjadi salah satu ciri khas alam setempat, yang tidak hanya memberikan perlindungan alami bagi lingkungan, tetapi juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan, seperti bahan bangunan atau alat-alat pertanian. Wilayah yang dulu subur dengan persawahan ini mendukung kehidupan warga yang mayoritas bertani padi serta mencari ikan di rawa-rawa sekitar.

Namun, kondisi geografis ini lambat laun mengalami perubahan drastis. Pembangunan infrastruktur di daerah tersebut, seperti perumahan, jalan raya, dan pusat-pusat komersial, telah mengubah wajah alam Kampung Setu. Sawah-sawah yang dulu terbentang luas kini berubah menjadi kompleks pemukiman, dan rawa-rawa yang dulunya menjadi sumber perikanan bagi warga lokal kini sebagian besar telah mengering atau tertimbun oleh proyek-proyek pembangunan,Transformasi ini membawa dampak pada perubahan ekonomi masyarakat. Dahulu, warga bergantung pada hasil tani dan perikanan, namun kini banyak yang beralih profesi menjadi pekerja di sektor jasa atau industri, sesuai dengan tuntutan urbanisasi yang berkembang di daerah tersebut. Meski demikian, masih ada segelintir warga yang mempertahankan profesi tradisional mereka, meskipun lahan untuk bertani semakin berkurang.

Perubahan yang terjadi di Kampung Setu sangat erat kaitannya dengan proyek pembangunan yang diluncurkan pemerintah daerah serta pihak swasta. Pembangunan jalan dan akses transportasi yang lebih baik telah menarik banyak pendatang baru ke wilayah ini, mengubah Kampung Setu dari kawasan pedesaan menjadi bagian dari kota besar yang terus berkembang. Kompleks perumahan dan pusat perbelanjaan modern kini berdiri di bekas area pertanian, memberikan wajah baru pada daerah tersebut,Pembangunan infrastruktur ini, di satu sisi, memberikan akses yang lebih mudah dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa perubahan ini mengancam identitas tradisional kampung tersebut. Banyak warga asli Kampung Setu yang merasa bahwa lahan mereka tergerus oleh proyek pembangunan, dan hal ini menimbulkan ketegangan antara penduduk lama dan pendatang baru.

Konflik seputar penggunaan lahan menjadi salah satu isu yang sering dibicarakan, terutama karena banyaknya spekulasi tanah yang terjadi di wilayah tersebut, Sebelum era pembangunan besar-besaran, kehidupan masyarakat Kampung Setu sangat bergantung pada hasil alam. Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani padi atau nelayan di rawa dan situ yang mengelilingi kampung. Aktivitas pertanian dan perikanan menjadi bagian integral dari ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Kebiasaan mencari ikan di danau dan rawa menjadi salah satu tradisi yang masih diingat oleh generasi tua, meskipun kegiatan tersebut kini semakin langka dilakukan.

Kampung Setu merupakan salah satu contoh dari bagaimana sebuah daerah dengan akar sejarah yang kuat mengalami transformasi yang signifikan akibat pengaruh pembangunan dan urbanisasi. Nama Setu yang berasal dari situ atau danau kecil yang pernah menjadi pusat kehidupan masyarakat, kini tetap dikenang meskipun banyak perubahan yang terjadi. Masyarakat Kampung Setu terus beradaptasi dengan perubahan, tetapi mereka juga tetap menjaga nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi, dengan masjid sebagai pusat spiritual dan sosial. Transformasi Kampung Setu menjadi refleksi dari dinamika yang dialami banyak kampung tradisional di Indonesia yang berada di bawah tekanan modernisasi dan pembangunan.

Nasywa Hafizhah, Mahasiswa Sastra Indonesia UNPAM