Konten dari Pengguna

Fenomena “Digital Hoarding” yang Diam-Diam Bikin Stres

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nasywa Khoirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi handphone. Foto: Andrey Matveev/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi handphone. Foto: Andrey Matveev/Pexels

Berapa banyak foto, dokumen, dan video di ponselmu yang sudah berbulan-bulan tidak pernah kamu buka? Ratusan? Ribuan? Kemungkinan besar jumlahnya lebih banyak dari yang kamu kira.

Ternyata, kamu tidak sendirian!

Berdasarkan penelitian internasional, hampir separuh mahasiswa mengaku kesulitan mengatur file digital mereka dan merasa kewalahan dengan banjir informasi di dunia maya. Dan fenomena ini punya nama: digital hoarding—perilaku menimbun file digital secara berlebihan hingga sulit atau enggan untuk menghapusnya.

Bukan Sekadar "Sayang Dihapus"

Digital hoarding bukan sekadar kebiasaan malas-malasan. Para peneliti mendefinisikannya sebagai akumulasi file digital yang sudah melampaui batas kendali, hingga berujung pada stres dan kekacauan organisasi data pribadi.

Apa yang membedakannya dari sekadar menyimpan file biasa? Ada rasa tidak nyaman yang muncul saat hendak menghapus sesuatu. Menghapus foto lama terasa seperti kehilangan kenangan, menghapus dokumen lama terasa seperti membuang bagian dari diri sendiri.

Dan rupanya, perasaan itu memang nyata secara psikologis, lho!

Empat Alasan Kita Sulit Berhenti Menimbun File

Penelitian internasional mengidentifikasi setidaknya ada empat faktor utama yang mendorong seseorang menjadi penimbun file digital:

Pertama, Fear of Missing Out (FoMO). Takut ketinggalan informasi penting membuat kita menyimpan segalanya—artikel yang "nanti mau dibaca", screenshot chat, video tutorial yang "kapan-kapan mau dipraktikkan." Ironisnya, sebagian besar tidak pernah benar-benar dibuka lagi.

Kedua, keterikatan emosional. Foto, voice note, dan dokumen lama membawa kenangan. Otak kita memperlakukan file-file itu layaknya benda fisik yang bermakna dan melepasnya terasa seperti kehilangan nyata.

Ketiga, kelebihan informasi (information overload). Di era media sosial, arus informasi datang terlalu deras. Daripada memilah, kita memilih jalan termudah: simpan semuanya, lalu urus nanti. Tapi, "nanti" yang sering tidak pernah datang.

Keempat, kelelahan mengambil keputusan (decision fatigue). Setelah seharian membuat banyak keputusan kecil, otak kita lelah. Memilih mana file yang perlu dihapus dan mana yang perlu disimpan terasa terlalu melelahkan. Akhirnya, semua dibiarkan menumpuk.

Dampaknya Lebih Dari Sekadar Storage Penuh

Ketika kamu mungkin berpikir: "Toh storage sekarang murah, apa masalahnya?"

Masalahnya bukan di storage. Masalahnya, ada di kepala kita!

Penelitian internasional menunjukkan bahwa digital hoarding berkaitan erat dengan meningkatnya kecemasan dan penurunan produktivitas. Otak yang terus-menerus "melihat" tumpukan file tak terorganisir—baik di ponsel maupun laptop—mengalami beban kognitif yang nyata. Seperti meja kerja yang berantakan, ruang digital yang kacau membuat kita lebih sulit fokus dan lebih mudah stres.

Di lingkungan kerja, dampaknya bahkan lebih serius. Data sensitif yang ditimbun tanpa sadar bisa menjadi celah keamanan siber, baik bagi individu maupun organisasi.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

Kabar baiknya, digital hoarding bisa dikelola! Tidak perlu langsung menghapus ribuan file sekaligus. Mulai dari langkah kecil yang konsisten:

  1. Jadwalkan "bersih-bersih digital" mingguan. Luangkan 10–15 menit setiap minggu khusus untuk merapikan satu folder atau satu kategori file saja.

  2. Terapkan aturan "dua menit". Kalau kamu ragu apakah sebuah file perlu disimpan, tanya diri sendiri: "Kapan terakhir kali aku membuka ini?" Kalau jawabannya lebih dari enam bulan dan bukan dokumen penting, kemungkinan besar aman untuk dihapus.

  3. Nonaktifkan auto-save untuk konten yang tidak penting. Atur ulang pengaturan galeri dan aplikasi chat agar tidak otomatis menyimpan semua media masuk.

  4. Ingat! Menghapus bukan kehilangan. File yang dihapus tidak menghapus kenangan. Yang nyata tetap nyata—baik dalam ingatan maupun dalam diri kita.

Menimbun file digital mungkin terasa aman dan tidak berbahaya. Tapi tanpa kita sadari, tumpukan itu bisa menjadi beban—bukan hanya untuk perangkat kita, tapi juga untuk pikiran kita sendiri.