Gempa 7,7 M di NTT, Puan Minta Pengungsian Warga Nyaman-Perhatikan Wisatawan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua DPR Puan Maharani menerima sambutan dari Presiden Prabowo Subianto saat Sidang Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen
zoom-in-whitePerbesar
Ketua DPR Puan Maharani menerima sambutan dari Presiden Prabowo Subianto saat Sidang Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Ketua DPR Puan Maharani meminta pemerintah bergerak cepat menangani dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8). Ia menekankan kecepatan pendataan hingga penyaluran bantuan kepada warga yang terdampak.

“Pimpinan DPR menyampaikan keprihatinan atas bencana gempa besar di NTT. Pemerintah harus bergerak cepat untuk menangani dampak gempa, dan merespons cepat kebutuhan warga terdampak,” kata Puan dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/8).

Guncangan akibat gempa yang berpusat di Mbay, Kabupaten Nagekeo itu dirasakan di sejumlah wilayah dengan dampak cukup besar hingga wilayah utara Flores, termasuk Maumere, Ngada, hingga Manggarai.

“Dukacita mendalam kami sampaikan bagi para korban dan keluarga. Semoga korban yang mengalami luka-luka juga dapat segera pulih,” tutur Puan.

Puan meminta pemerintah bersama pemerintah daerah segera mempercepat pendataan korban dan kerusakan. Menurutnya, pendataan yang cepat diperlukan agar proses penanganan pascagempa dapat segera dilakukan, terutama di wilayah pedalaman yang aksesnya lebih sulit.

“Pendataan yang cepat dapat memudahkan penanganan pascagempa sehingga kebutuhan korban dapat segera diberikan,” ungkap Puan.

Sejumlah pengungsi beristirahat di tenda pengungsian, Desa Lamahala, Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (12/4/2026). Foto: Mega Tokan/ANTARA FOTO

Gempa tersebut juga dirasakan hingga sejumlah wilayah di luar NTT, seperti Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Kabupaten Kepulauan Selayar dan Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Di Selayar dan Bulukumba, warga sempat melakukan evakuasi ke wilayah yang lebih tinggi setelah terdeteksi tsunami dengan ketinggian sekitar 0,5 meter. Meski peringatan dini tsunami telah dicabut, Puan meminta pemerintah tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi di wilayah terdampak.

Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di kawasan pesisir, untuk sementara menjauhi laut dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Puan turut meminta pemerintah memperhatikan wisatawan yang terdampak gempa, khususnya di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Wilayah tersebut merupakan salah satu destinasi wisata utama di NTT dan turut merasakan guncangan cukup kuat. Saat gempa terjadi, ratusan wisatawan domestik maupun mancanegara dilaporkan berhamburan keluar dari hotel. Sejumlah hotel dan resor di Labuan Bajo juga mengalami kerusakan akibat gempa.

“Para wisatawan ini jauh dari rumahnya. Pemerintah harus memastikan mereka mendapat pertolongan, khususnya bagi wisatawan yang tempatnya menginap rusak,” jelas Puan.

Wisatawan asing mengemasi barang dari gedung Hotel Jayakarta usai gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Foto: Gecio Viana/ANTARA FOTO

Puan meminta pemerintah melakukan langkah mitigasi terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Ia juga menyoroti beredarnya informasi di masyarakat mengenai potensi gempa besar berikutnya di NTT.

“Pemerintah melalui lembaga yang berwenang harus memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat serta memberikan edukasi untuk mencegah keresahan warga,” pesan Puan.

Puan meminta bantuan logistik segera disalurkan secara merata kepada masyarakat yang terdampak. Prioritas diberikan kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan parah serta masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.

Ia juga meminta pemerintah memastikan tempat pengungsian memenuhi standar keamanan dan kenyamanan apabila terdapat warga yang harus meninggalkan rumahnya.

“Dan apabila ada warga yang mengungsi, pastikan tempat pengungsian yang nyaman dan aman. Pengungsian harus ramah terhadap lansia, anak-anak, ibu hamil/menyusui, warga difabel dan yang memiliki penyakit bawaan,” tutup Puan.