Hasto Ziarah ke Makam Bung Karno Jelang Hari Pahlawan: Kekuasaan untuk Rakyat

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto berziarah ke makam Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Sabtu (7/11). Dalam kesempatan itu, Hasto mengingatkan kekuasaan yang sesungguhnya harus diabdikan untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok.
Ziarah tersebut dilakukan Hasto menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November. Menurutnya, momentum Hari Pahlawan harus menjadi pengingat bagi seluruh pejabat negara untuk kembali menghayati semangat pengorbanan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Hasto mengatakan, Republik Indonesia didirikan dengan cita-cita besar untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan berdaulat. Karena itu, semangat perjuangan para pendiri bangsa harus diterjemahkan melalui kebijakan pemerintahan yang berpihak kepada rakyat, khususnya mereka yang tertindas dan diperlakukan tidak adil.
“Jadi pada hari ini kami secara khusus nyekar ke makam Bung Karno, proklamator dan bapak bangsa Indonesia. Ya sekaligus juga dalam rangka peringatan Hari Pahlawan untuk menggelorakan kembali bahwa Republik Indonesia ini dibangun dengan cita-cita besar untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, yang berdaulat, yang berpihak kepada rakyat marhaen, rakyat yang tertindas, yang diperlakukan tidak adil,” ujar Hasto.
Politisi asal Yogyakarta itu menegaskan, kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan mudah. Ada pengorbanan besar, termasuk tetesan darah para pahlawan yang berjuang untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan.
Menurut Hasto, pengorbanan tersebut tidak boleh disia-siakan. Perjuangan para pahlawan harus dilanjutkan melalui tata kelola pemerintahan yang mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Proklamasi.
“Kami mengambil spirit dari itu, bahwa Indonesia merdeka karena pengorbanan begitu banyak pahlawan bangsa. Pengorbanan ini tidak boleh disia-siakan dan harus dijabarkan dalam suatu tata pemerintahan negara di mana seluruh kebijakan-kebijakan yang diambil harus diupayakan untuk mewujudkan seluruh cita-cita proklamasi,” tuturnya.
Hasto juga menyampaikan doa agar Indonesia dijauhkan dari berbagai tindakan dan kepentingan yang dapat menjauhkan bangsa dari cita-cita para pendiri negara.
Ia menyoroti praktik kekuasaan yang menurutnya tidak lagi berlandaskan nilai etika, moral, dan kebenaran. Hasto mengingatkan agar kekuasaan tidak digunakan untuk memenuhi ketamakan atau kepentingan pihak-pihak tertentu.
“Karena itulah pada kesempatan ini, kami juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar Indonesia dapat dibebaskan dari berbagai anasir-anasir jahat yang mencoba menjauhkan dari cita-cita para pahlawan bangsa dengan berbagai ketamakan kekuasaan, dengan pengelolaan kekuasaan yang tidak lagi didasarkan pada nilai-nilai etika, moral, dan kebenaran,” tegasnya.
Hasto kemudian mengingatkan seluruh pejabat negara agar menjadikan semangat pengorbanan para pahlawan sebagai teladan dalam menjalankan amanah. Menurutnya, jabatan dan kekuasaan bukanlah sarana untuk memenuhi kepentingan pribadi, kelompok, ataupun golongan.
Ia menegaskan, kekuasaan seharusnya dimaknai sebagai bentuk pengabdian kepada rakyat dengan berpegang pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
“Di dalam menyongsong Hari Pahlawan itu kita diingatkan agar keteladanan, pengorbanan itu betul-betul kita kobarkan. Seluruh pejabat negara harus mengambil suatu inspirasi dari semangat pengorbanan tersebut, sehingga makna kekuasaan adalah untuk rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan kelompok atau golongan,” jelas Hasto.
Hasto menyebut keteladanan moral, ketaatan terhadap hukum, serta keberanian memperjuangkan keadilan sosial harus menjadi pegangan setiap pejabat negara. Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari semangat perjuangan yang diwariskan para pahlawan bangsa.
Ia juga menyinggung instruksi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada seluruh kader partai agar senantiasa melakukan kritik dan otokritik. Hal itu dinilai penting untuk memastikan partai tetap berada pada jalur yang benar dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Keteladanan dari moral, etika, menjunjung tinggi hukum, dan berjuang bagi keadilan serta kemakmuran rakyat, itu seharusnya yang menjadi pegangan seluruh pejabat negara. Termasuk juga bagi PDI Perjuangan yang oleh Ibu Megawati Soekarnoputri, kami selalu diinstruksikan untuk terus melakukan kritik dan otokritik agar PDI Perjuangan juga dapat mengawal pada rel yang benar terhadap seluruh gerak napas kehidupan berbangsa dan bernegara kita,” kata Hasto.
Dalam ziarah tersebut, Hasto mengenakan kemeja putih dan didampingi sejumlah kader PDIP. Mereka di antaranya Anggota DPR RI Kanang Budi Sulistiyo, Anggota DPRD Kabupaten Blitar Sugeng Praptono, serta Ketua Soekarno Run Blitar Rera.
Setibanya di kompleks makam Bung Karno, Hasto bersama rombongan langsung mengambil tempat dengan duduk bersila di sekitar pusara. Sebelum memanjatkan doa, Hasto terlihat menunduk sambil memandangi makam Bung Karno yang telah dipenuhi taburan bunga.
Juru kunci makam Bung Karno, Mat, kemudian memimpin rombongan untuk memanjatkan doa. Suasana di kompleks makam berlangsung hening dan khusyuk saat lantunan ayat suci dibacakan. Hasto bersama rombongan tampak tertunduk menyimak doa yang dipimpin sang juru kunci.
Usai berdoa, Hasto memimpin rombongan untuk menaburkan bunga di makam Bung Karno. Ia terlihat memilih dan menata bunga satu per satu sebelum meletakkannya di atas pusara sang proklamator.
Hasto juga berziarah ke makam kedua orang tua Bung Karno, yakni Ida Ayu Nyoman Rai dan Raden Soekeni Sosrodihardjo. Di kedua makam tersebut, ia turut memanjatkan doa dan menaburkan bunga.
Sebelum meninggalkan kompleks pemakaman, Hasto kembali mendatangi pusara Bung Karno untuk berdoa secara khusus. Selama kurang lebih satu menit, ia tampak khusyuk memanjatkan doa dengan posisi tertunduk dan kedua tangan menyentuh makam.
Aroma bunga melati dan sedap malam mengiringi suasana hening di kompleks makam pada sore hari itu. Ziarah tersebut menjadi momentum bagi Hasto untuk kembali mengenang perjuangan Bung Karno sekaligus merefleksikan nilai-nilai yang harus dipegang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjelang peringatan Hari Pahlawan.
