Melihat Keseruan 'Namu' di Balai Kota Jakarta

Di antara bangunan Balai Kota DKI Jakarta yang biasanya identik dengan urusan pemerintahan, suara riang anak-anak mewarnai suasana berbeda pada Sabtu (17/10).
Sebuah wahana flying fox terbentang di area lapangan Balai Kota. Dengan tubuh terikat harness, tampak seorang anak laki-laki meluncur mengikuti lintasan, melayang sejenak di atas tanah sebelum tiba di ujung wahana.
Pemandangan itu menjadi salah satu daya tarik dalam Namu Balai Kota, program yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berkunjung dan mengenal lebih dekat Balai Kota DKI Jakarta.
Tak sekadar melihat gedung dan ruang-ruang yang selama ini akrab dengan aktivitas pemerintahan, pengunjung juga bisa menikmati beragam kegiatan, termasuk mencoba flying fox yang disiapkan petugas pemadam kebakaran (damkar).
Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat, Triyanto, mengatakan wahana tersebut mulai dimainkan pada pelaksanaan Namu kali ini.
“Oh ya, jadi begini, untuk event ini dilaksanakan per dua minggu sekali setiap hari Sabtu dan kebetulan ini Sabtu kedua ya, dan memang hari pertama kita untuk flying fox arena anak-anak ini belum kita mainkan. Tapi di hari yang hari Sabtu kedua, karena hari ini mau launching ya oleh Pak Wagub, hari ini baru kita mainkan,” ujar Triyanto di Balai Kota, Jakarta Pusat, Sabtu (17/10).
Wahana itu disiapkan dengan mempertimbangkan kondisi area Balai Kota. Alih-alih menggunakan pohon sebagai titik tambat utama, petugas memasang penyangga berupa tripod dan memanfaatkan unit kendaraan di bagian bawah lintasan.
“Oh ya, sebetulnya banyak ya opsi. Cuma karena memang ini tidak ada penambat pohon kalau pohon kan track-nya juga susah, jadi kita sementara menggunakan tripod dan di bawahnya unit, ya itu aja. Terus nanti kita pancang tali dari ujung dengan menggunakan penampang di pohon,” jelasnya.
Menurut Triyanto, flying fox memang menjadi salah satu permainan yang banyak menarik minat anak-anak. Wahana serupa, kata dia, kerap menjadi primadona ketika damkar hadir dalam kegiatan masyarakat, termasuk Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB).
“Saya enggak tahu ya, tapi karena memang ikonnya tuh ini. Anak-anak kecil kan senangnya di flying fox ya. Di mana tempat itu setiap ada apa, HBKB, coba lihat di mana, pasti yang jadi primadona permainan ini, gitu. Iya,” tuturnya.
Ia menyebut wahana tersebut ditujukan terutama bagi anak usia sekolah dasar (SD).
“Standarnya masih SD sih. SD. Ya kalau terlalu, karena sebetulnya fleksibel, tapi kan ini dari ketinggian ini agak landai ya, jadi kalau bebannya berat kemungkinan tidak bisa sampai ujung, gitu,” kata dia.
Petugas juga menyiapkan full body harness atau alat pelindung diri dan pendampingan bagi anak-anak yang mencoba wahana tersebut.
“Ada, kita berikan harness ya. Nanti tuh seperti itu tuh, full harness body. Ada pendampingan. jadi relatif aman,” tuturnya.
“Jamnya antara jam 9 sampai jam 3 kalau tidak salah ya. Tidak salah. Sampai sore,” sambungnya.
Di tengah aktivitas anak-anak, Namu juga menjadi kesempatan bagi warga untuk melihat sisi lain Balai Kota. Bagi Misi Utami (57), warga Cilincing, Jakarta Utara, kunjungan kali ini bukan sekadar mengisi akhir pekan.
Misi mengaku senang karena Balai Kota kini dapat dikunjungi masyarakat. Menurutnya, kesempatan tersebut memberi pengalaman sekaligus pengetahuan baru, terutama bagi anak-anak yang ikut datang.
“Dan ini juga pengetahuan buat anak-anak juga, pengalaman, gitu. Terus kalau untuk fasilitas difabel, masih kurang, semoga nanti ditingkatin. Enggak apa-apa ya, ada kurang-kurang dikit. Namanya juga awal, nanti pasti diperbaiki. Saya yakin dengan kepemimpinan Pak Pramono dan Pak Rano Karno, Jakarta penuh warna,” ungkapnya.
Sebagai pengguna kursi roda, Misi turut menyoroti fasilitas bagi penyandang disabilitas yang menurutnya masih perlu ditingkatkan. Meski demikian, ia berharap penyelenggaraan Namu ke depan semakin baik dan akses bagi pengunjung bisa terus diperbaiki.
Selama berkeliling, Misi juga menemukan hal-hal yang sebelumnya hanya bisa ia bayangkan dari luar, mulai dari lukisan hingga ruang rapat di dalam kompleks Balai Kota.
“Banyak ya, lukisan-lukisan, bangunan-bangunan, bangunannya jelas antik, terus apa namanya, wah senang lah, ruang rapatnya, yang kita selama ini nggak tahu. Mau masuk juga kayaknya, aduh takut ya, gitu ya. Ternyata sedemikian indahnya, gitu lho Balai Kota, gitu. Mudah-mudahan acara ini, ke depannya, akan lebih baik lagi, itu sih harapannya,” katanya.
Antusiasme itu juga ia rasakan dari anak-anak yang dibawanya. Misi mengatakan mereka tampak bersemangat mengikuti kegiatan.
“Kalau saya sih, sebenarnya datang secara pribadi, tapi juga saya membawa anak-anak. Abang None Cilik 2026, dari Lembaga Kebudayaan Betawi. Itu ada sekitar 30 orang. Dan mereka cukup senang sekali ya, antusias sekali gitu. Bahkan mereka berharap bisa audiensi dengan Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur sebagai Abang None Cilik, lucu-lucu,” ungkapnya.
Bagi Misi, kesempatan berkunjung ke Balai Kota juga tak harus rumit untuk diakses. Ia mengaku mendaftar secara daring dan mengajak warga lain untuk ikut mencoba jika kegiatan serupa kembali dibuka.
“Saya sendiri itu kalau udah malam-malam ngebuka, eh dibuka, gitu kan, saya langsung war saya informasikan ke grup-grup yang lain. Ayo, ayo, ayo Namu, Namu, Namu di Balai Kota, gitu. Itu nggak lama habis, karena memang sedemikian antusiasnya warga, gitu,” kata Misi.
