Mengapa Sebagian Mahasiswa Enggan Pulang? Kelelahan di Balik Tekanan Akademik

Mahasiswa Psikologi UIN Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nasywa Radhiyya Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kamu pulang malam lagi, Kak?"
"Kamu ini nggak pernah bantu di rumah ya?"
"Main terus sih, sesekali di rumah bantu orang tua."
"Main laptop terus, pantes matanya makin minus."
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar tidak asing bagi sebagian mahasiswa. Sekilas, ungkapan tersebut tampak sederhana dan wajar disampaikan oleh orang tua. Namun, bagi mahasiswa yang sedang menghadapi berbagai tekanan akademik, kalimat-kalimat tersebut terkadang terasa seperti beban tambahan yang menguras energi mental.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi kesehatan mental mahasiswa yang saat ini semakin menjadi perhatian. Survei kesehatan mental mahasiswa FISIP UI tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa lebih dari 47% mahasiswa berada pada kategori kecemasan berat hingga sangat berat pada tahun 2024. Selain itu, stresor terbesar yang dilaporkan mahasiswa berasal dari tugas perkuliahan, sementara konflik dengan orang tua juga menjadi salah satu sumber tekanan yang cukup signifikan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa tidak sesederhana yang sering terlihat dari luar. Di balik jadwal kuliah yang tampak fleksibel, terdapat berbagai tuntutan yang harus dipenuhi. Tugas yang menumpuk, laporan praktikum, skripsi, magang, organisasi, hingga kecemasan mengenai masa depan sering kali hadir secara bersamaan. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya merasa kewalahan menghadapi berbagai tuntutan tersebut.
Di tengah kondisi itu, saya mengamati fenomena yang cukup menarik. Banyak mahasiswa memilih menghabiskan waktu lebih lama di kampus, perpustakaan, atau kedai kopi meskipun kegiatan akademik formal telah selesai. Perilaku ini sering kali dianggap sebagai bentuk ketidakbetahan berada di rumah atau bahkan dicap sebagai kebiasaan "nongkrong" semata.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Bagi sebagian mahasiswa, keputusan untuk menunda pulang bukan selalu karena ingin bersenang-senang di luar rumah. Ada yang masih harus menyelesaikan tugas bersama teman, ada yang mencari suasana yang lebih kondusif untuk belajar, dan ada pula yang hanya ingin beristirahat sejenak sebelum kembali menghadapi berbagai tuntutan lainnya. Kampus, perpustakaan, atau tempat berkumpul bersama teman terkadang menjadi ruang aman untuk mengatur kembali emosi dan mengisi ulang energi yang telah terkuras.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep *academic burnout*. Burnout akademik merupakan kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang muncul akibat tuntutan akademik yang berlangsung terus-menerus. Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa. Ketika seseorang mengalaminya, energi psikologis yang dimiliki perlahan terkuras sehingga aktivitas yang sebelumnya terasa ringan dapat berubah menjadi beban yang berat. Akibatnya, mahasiswa dapat kehilangan motivasi belajar, merasa tidak mampu memenuhi tuntutan akademik, hingga mulai menjauh dari berbagai aktivitas yang sebelumnya mereka nikmati.
Dalam kondisi seperti ini, dukungan dari lingkungan terdekat menjadi sangat penting. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berperan sebagai pelindung yang membantu individu menghadapi stres. Dukungan tersebut dapat berupa perhatian, pemahaman, pendampingan emosional, maupun perasaan bahwa seseorang tidak menghadapi masalahnya sendirian. Ketika individu merasa didukung oleh lingkungan terdekatnya, tekanan yang dihadapi cenderung lebih mudah dikelola. Sebaliknya, kurangnya dukungan dapat memperburuk dampak stres yang sudah ada.
Dari sudut pandang psikologi, keluarga idealnya berfungsi sebagai *safe haven* atau tempat yang memberikan rasa aman ketika individu menghadapi tekanan. Dalam teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby, hubungan yang aman dengan figur terdekat membantu seseorang memperoleh ketenangan emosional saat menghadapi situasi sulit. Dengan kata lain, rumah seharusnya menjadi tempat untuk beristirahat, bukan sekadar tempat untuk pulang.
Sayangnya, tidak semua mahasiswa memiliki pengalaman yang demikian. Dalam beberapa keluarga, komunikasi yang kurang suportif dapat membuat mahasiswa merasa tidak dipahami. Kritik yang terus-menerus, tuntutan yang tidak disertai pemahaman terhadap kondisi anak, atau minimnya apresiasi terhadap usaha yang telah dilakukan dapat menjadi sumber tekanan tambahan.
Hal ini bukan berarti orang tua tidak peduli terhadap anaknya. Sebaliknya, banyak orang tua yang menyampaikan kekhawatiran dan perhatian mereka melalui pertanyaan atau komentar yang menurut mereka wajar. Namun, ketika mahasiswa sedang berada dalam kondisi lelah secara emosional, bentuk perhatian yang disampaikan tanpa validasi dan empati terkadang justru diterima sebagai tekanan.
Akibatnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk memulihkan diri tidak lagi dirasakan sebagai ruang yang nyaman. Sebagian mahasiswa akhirnya lebih memilih menghabiskan waktu di luar rumah karena merasa lebih tenang, lebih dipahami, atau sekadar dapat beristirahat tanpa merasa dihakimi. Mereka tidak selalu sedang menghindari rumah, melainkan sedang mencari ruang untuk bernapas.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah mengapa sebagian mahasiswa enggan pulang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah mereka memiliki ruang yang cukup aman untuk beristirahat ketika sampai di rumah.
Sebab bagi individu yang sedang kelelahan secara mental, dukungan emosional sering kali sama pentingnya dengan istirahat fisik. Terkadang, yang mereka butuhkan bukanlah tambahan tuntutan atau kritik, melainkan seseorang yang bersedia mendengarkan, memahami, dan mengatakan bahwa mereka telah berusaha cukup keras hari ini.
