Konten dari Pengguna

Ketika Perundungan Menjadi Pendorong untuk Perubahan Diri

Nasywa Rifqia Rahmadany

Nasywa Rifqia Rahmadany

Saya merupakan seorang mahasiswa S1 Informatika Universitas Sebelas Maret. Memiliki ketertarikan dalam membuat berbagai artikel di media sosial

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nasywa Rifqia Rahmadany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perundungan di sekolah. (Sumber : https://www.pexels.com/id-id/@cottonbro/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perundungan di sekolah. (Sumber : https://www.pexels.com/id-id/@cottonbro/)

Perundungan sering kali dipandang sebagai fenomena negatif yang membawa dampak merugikan bagi korban. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, efek perundungan juga dapat mengungkap sisi-sisi yang tidak terduga. Dalam beberapa kasus yang saya alami, pengalaman buruk ini dapat memicu kekuatan dan ketahanan individu yang memaksa mereka untuk mengembangkan keterampilan sosial dan empati yang lebih dalam. Memang tak mudah terlebih dari sisi korban untuk belajar menghadapi kesulitan, mengembangkan ketahanan mental, dan menemukan kekuatan dalam diri yang sebelumnya tidak mereka sadari. Akan tetapi, nyatanya hal itu bisa saja terjadi.***

Saya teringat dengan kejadian 9 tahun yang lalu, tepatnya saat saya berada di kelas 4 SD. Rasa takut dan tak ingin berangkat sekolah terus menghantui saya hingga kurang lebih 3 tahun lamanya. Tidak ada satupun teman yang mau bermain dengan saya, bahkan hanya sekedar untuk bertegur sapa. Hal ini karena postur tubuh saya yang pendek dan berisi sehingga mereka menjadikannya lelucon.

Selama itu saya memendam amarah hingga akhirnya saya dapat melawan mereka dengan sebuah prestasi. Saya lulus dengan nilai Ujian Nasional terbaik dari seluruh siswa satu angkatan. Menjadi lulusan terbaik dan satu-satunya siswa yang lolos SMP favorit pada waktu itu. Bukan hal yang mudah untuk saya bertahan di lingkungan sekolah yang tidak supportive dan penuh dengan tekanan. Namun, saya dapat melewatinya dengan begitu maksimal sehingga dapat membalas perlakuan teman-teman saya dengan prestasi.

Ketika masuk SMP saya benar-benar ingin membalas apa yang sudah teman SD saya lakukan pada saya. Saya merubah kepribadian dan cara bersosial saya hampir 180 derajat. Saya berteman dengan siapapun di SMP bahkan kakak kelas dan adik kelas. Saya tumbuh dan menjalani kehidupan SMP saya dengan memiliki banyak teman dan penuh dengan cerita menarik. Tidak ada lagi yang Namanya tekanan, trauma, dan hal-hal yang selama ini menghantui saya.

Hal ini berlanjut hingga saya duduk di bangku SMA. Saya tumbuh menjadi orang yang mudah bersosialisasi, tidak mudah tersinggung, dan adaptibilitif. Saya dapat dengan mudah menjalin pertemanan dan membangun relasi bahkan saya mendapat nominasi julukan social butterfly pada acara prom night SMA saya. Maksud dari nominasi tersebut karena saya selama di SMA penuh dengan energi sosial dan keceriaan setiap harinya. Rasanya seperti mimpi, anak kecil yang dulu kemana-mana sendirian dan berteman dengan ejekan ini bisa memiliki banyak teman di kehidupan remajanya.***

Perundungan terhadap anak tidak melulu berdampak negatif bagi si korban. Ketika korban perundungan berani melawan rasa takut dan keluar dari zona nyaman dengan pikiran yang terbuka, dia akan menemukan problem solving dari hal yang sedang dihadapinya. Banyak korban perundungan yang berakhir menjadi orang yang pendiam, pendendam, dan sifat-sifat negatif lainnya. Namun, tidak sedikit juga korban perundungan berani bangkit kembali hingga dia menjadi orang yang tahan banting, sabar, dan mudah mengontrol emosinya.

Saya rasa hal ini terjadi karena beberapa faktor, salah satunya keluarga. Ketika saya mendapat perundungan dan menceritakannya pada orang tua saya, mereka segera ingin menyelesaikan masalah ini. Namun, saya melarang orang tua saya untuk ikut campur masalah ini karena saya merasa masih bisa menanganinya sendiri. Orang tua saya tidak tinggal diam, ibu saya mengarahkan saya melakukan kegiatan-kegiatan positif lainnya sehingga saya tidak tertitik pada tekanan yang saya alami. Orang tua saya berperan besar dalam membimbing saya untuk menjadi orang yang tidak memikirkan berat hal itu dan mengalihkan perhatian saya dengan kegiatan yang saya minati.

Keluarga menjadi peran penting dalam pencegahan dan penanganan perundungan yang dialami oleh anak. Anak yang mendapatkan pola asuh yang baik dari orang tua pastinya akan tumbuh sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat. Pola asuh yang kurang tepat dapat menyebabkan masalah pada anak, seperti membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Maka dari itu, pola asuh yang dilakukan orang tua memiliki pengaruh penting pada anaknya.

Perlakuan seseorang bukanlah hal yang berada di dalam kendali kita, melainkan diri kita lah yang dapat memutuskan akan merespon seperti apa perlakuan tersebut. Itu pesan orang tua saya agar saya bisa lebih bijak dalam menanggapi perilaku orang lain yang sekiranya membuat tidak nyaman. Tidak perlu bersusah payah untuk memberikan validasi terhadap pelaku perundungan karena itu hanya akan membuat pelaku semakin mencari-cari celah untuk beraksi. Namun, bukan berarti anda diam saja dan terlihat seperti orang yang lemah. Tetaplah berinteraksi secukupnya dan menjalankan kegiatan anda semestinya.

Sekiranya rundungan yang anda alami tidak terlalu mengusik anda, maka acuhkanlah dan fokus pada diri sendiri. Namun, jika hal yang menimpa anda sudah di luar batas, maka segera laporkanlah kepada pihak yang menurut anda bisa meredam hal tersebut. Memang mental setiap orang pasti berbeda. Saya pun untuk bisa menahan dan mengabaikan rundungan tersebut juga berawal dari paksaan. Saya terus memaksakan diri untuk merasa tidak apa-apa dan acuh pada mereka yang merundung hingga akhirnya saya mulai terbiasa.

Berbagai sikap yang bisa dilakukan dalam menanggapi pelaku perundungan, salah satu nya dengan mengacuhkan orang tersebut. Alihkan perhatian anda dengan melakukan hal yang lebih membangun dan valuable untuk diri anda. Buktikan pada pelaku perundungan bahwa dirinya tidak lebih baik dari orang yang dia rundung. Dengan begitu, sikap penuh percaya diri, tahan banting, dan menghargai orang akan tumbuh seiring berjalannya waktu pada diri anda.

Nasywa Rifqia Rahmadany, mahasiswa S1 Informatika UNS.