Konten dari Pengguna

Peluru Menghentikan Pembangunan: Konflik Thailand–Kamboja dan Ekonomi ASEAN

Nasywa Ardania Fawwaz

Nasywa Ardania Fawwaz

Nasywa Ardania Fawwaz adalah mahasiswa aktif Program Studi Manajemen Keuangan yang memiliki ketertarikan pada isu-isu global, keadilan perdagangan, dan kebijakan pembangunan berkelanjutan.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nasywa Ardania Fawwaz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Nasywa Ardania Fawwaz

Foto: AI Generated Image
zoom-in-whitePerbesar
Foto: AI Generated Image

Ketika peluru mulai meledak di kawasan perbatasan Thailand dan Kamboja, dunia internasional kembali mengingat bahwa stabilitas bukanlah sesuatu yang bisa diambil begitu saja. Konflik bersenjata, meski bersifat lokal, memiliki potensi dampak sistemik terhadap kawasan yang sedang berkembang — terutama kawasan yang sedang meniti jalur kerja sama ekonomi regional seperti ASEAN.

Konflik ini tidak hanya menewaskan warga sipil, menghancurkan infrastruktur, atau memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga mengganggu rantai pasok perdagangan, menghambat arus investasi, dan melemahkan kolaborasi pembangunan antarnegara.

Dampak Ekonomi dari Konflik Perbatasan

Wilayah perbatasan Thailand–Kamboja adalah koridor perdagangan penting yang menjadi bagian dari jaringan ekonomi regional. Ketika ketegangan terjadi, pengiriman barang terganggu, pasar lokal lumpuh, dan pelaku UMKM lintas batas kehilangan akses ke konsumen.

Rantai pasok yang terganggu berdampak luas ke sektor manufaktur, logistik, hingga harga bahan pokok. Tak hanya pelaku ekonomi di kedua negara, tetapi juga negara-negara ASEAN lainnya bisa terdampak, terutama jika konflik menyebar atau berlangsung lama.

Pembangunan Menurut Teori Ekonomi Pembangunan

Ekonomi pembangunan tidak hanya membahas pertumbuhan PDB, melainkan juga transformasi struktural masyarakat, penciptaan keadilan sosial, dan peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh. Menurut Todaro & Smith, ada tiga tujuan utama pembangunan:

  1. Menekan kemiskinan dalam segala bentuknya

  2. Meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat

  3. Memperluas kebebasan individu untuk memilih dan berpartisipasi

Konflik militer justru merusak ketiganya. Alih-alih memberantas kemiskinan, konflik menciptakan pengungsi dan kerusakan ekonomi lokal. Kualitas hidup menurun drastis di wilayah konflik, dan masyarakat tidak memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

ASEAN dan Mimpi Integrasi Ekonomi

ASEAN selama dua dekade terakhir menggalakkan integrasi ekonomi regional melalui skema ASEAN Economic Community (AEC) dan konektivitas lintas batas. Namun, ketegangan Thailand–Kamboja menunjukkan bahwa mimpi integrasi bisa runtuh kapan saja jika keamanan tidak dijaga bersama.

Konflik perbatasan ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi ASEAN: bahwa pembangunan fisik seperti jalan tol dan pelabuhan tidak akan efektif tanpa pembangunan institusional dan politik yang mendorong perdamaian dan stabilitas.

Kesimpulan: Biaya Konflik Terlalu Mahal

Setiap peluru yang ditembakkan bukan hanya mengoyak batas negara, tapi juga meruntuhkan fondasi ekonomi dan pembangunan. Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja menunjukkan bahwa ketegangan bersenjata — sekecil apapun — punya dampak besar dalam mengganggu mimpi bersama ASEAN akan kawasan yang damai dan sejahtera.

Pembangunan bukan hanya soal membangun jembatan atau gedung, tapi soal menciptakan harapan dan kepercayaan. Tanpa kedamaian, tak akan ada ekonomi yang tumbuh — hanya kerusakan dan kehilangan.

#KonflikThailandKamboja #EkonomiPembangunan #ASEAN #TodaroSmith #IntegrasiKawasan #StabilitasEkonomi #PembangunanDamai #KumparanOpini