Alam Terancam Akibat Eksploitasi Monyet Ekor Panjang dan Beruk

Mahasiswi Ekonomi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Nasywa Febriane tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu melihat seekor monyet beraksi di jalanan dengan memakai pakaian mini, bersepeda kecil, atau dipaksa berjalan layaknya manusia? Sebagian orang mungkin tertawa atau merasa terhibur, tetapi di balik itu semua ada kisah pilu tentang satwa liar yang kehilangan kebebasan. Fenomena “topeng monyet” dan tren memelihara primata sebagai hewan peliharaan hanyalah puncak gunung es dari masalah eksploitasi yang semakin mengkhawatirkan.
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina) merupakan primata asli Indonesia yang seharusnya hidup di hutan. Sayangnya, semakin banyak individu yang ditangkap, dipisahkan dari induknya, lalu dipaksa beradaptasi dengan kehidupan manusia. Mereka diperlakukan bukan sebagai makhluk hidup yang memiliki peran penting dalam ekosistem, melainkan sebagai properti hiburan.
Dari Jalanan ke Media Sosial
Eksploitasi monyet bukanlah hal baru. Sejak puluhan tahun lalu, atraksi topeng monyet menjadi tontonan jalanan di kota-kota besar. Anak-anak kecil diajak menonton, sementara monyet dirantai, dipukul, atau dipaksa melakukan gerakan tertentu. Pemerintah daerah seperti DKI Jakarta sudah melarang atraksi ini sejak 2013, tetapi praktik serupa masih muncul di wilayah lain.
Ironisnya, eksploitasi kini menemukan panggung baru di era digital. Media sosial dipenuhi video monyet berpakaian lucu, diberi susu botol, bahkan diperlakukan seolah bayi manusia. Konten seperti ini memang cepat viral karena dianggap menggemaskan, tetapi justru memperparah normalisasi eksploitasi satwa. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Animals menunjukkan bahwa tren media sosial meningkatkan minat publik untuk memiliki primata sebagai hewan peliharaan (Moorhouse et al., 2021).
Di Indonesia, kasus ini makin marak. Sebuah laporan dari Mongabay Indonesia (2022) menyebut bahwa banyak akun media sosial sengaja membuat konten monyet untuk mendapat lebih banyak followers dan monetisasi iklan. Semakin lucu kontennya, semakin besar pula peluang uang yang mengalir. Akibatnya, permintaan terhadap bayi monyet terus meningkat.
Sayangnya, sedikit yang tahu bahwa di balik video “menghibur” tersebut ada penderitaan panjang. Untuk mendapatkan seekor bayi monyet, biasanya pemburu harus membunuh induknya. Bayi yang diambil kemudian dirawat dengan cara yang jauh dari habitat alaminya, membuat mereka rentan sakit dan stres.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Eksploitasi monyet tidak hanya menyakiti satwa, tetapi juga membahayakan manusia. Kontak erat dengan primata meningkatkan risiko zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Kasus rabies, herpes simian, hingga tuberkulosis bisa menular melalui gigitan, cakaran, atau cairan tubuh.
Dalam konteks pandemi global, risiko semacam ini tidak bisa dianggap remeh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa perdagangan dan eksploitasi satwa liar adalah salah satu faktor yang meningkatkan potensi munculnya penyakit baru. Kita sudah belajar dari COVID-19, bahwa wabah bisa berasal dari interaksi yang tidak sehat antara manusia dan satwa liar.
Di sisi lain, masyarakat yang memelihara monyet sebagai “bayi peliharaan” juga kerap menganggap mereka lucu dan aman. Padahal, penelitian di Malaysia (Engel et al., 2019) menemukan bahwa sekitar 80 persen monyet yang dipelihara membawa parasit usus yang bisa menular ke manusia. Artinya, semakin dekat hubungan manusia dengan monyet hasil eksploitasi, semakin besar pula ancaman kesehatan.
Mengikis Martabat Satwa
Monyet ekor panjang dan beruk sebenarnya punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka adalah penyebar biji alami yang membantu regenerasi hutan. Tanpa mereka, siklus kehidupan di hutan bisa terganggu. Namun, ketika satwa ini dijadikan hiburan, martabatnya sebagai bagian dari alam seakan hilang.
Atraksi jalanan maupun konten media sosial memposisikan monyet bukan sebagai makhluk hidup yang layak dihargai, melainkan sebagai mainan. Kondisi ini bisa memperkuat persepsi salah di masyarakat, terutama anak-anak, bahwa satwa hanya ada untuk hiburan manusia.
Dalam jangka panjang, normalisasi eksploitasi dapat menimbulkan efek domino. Masyarakat yang terbiasa melihat monyet sebagai peliharaan atau tontonan akan lebih sulit diajak peduli pada upaya konservasi. Padahal, di banyak negara maju, tren justru berlawanan. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat telah melarang penggunaan primata dalam sirkus dan hiburan publik, karena dianggap tidak manusiawi.
Contoh Kasus di Indonesia
Beberapa kasus nyata bisa memberi gambaran betapa serius masalah ini:
1. Kasus di Bekasi (2014)
Polisi menyita 25 monyet ekor panjang yang digunakan untuk atraksi topeng monyet. Satwa tersebut dalam kondisi kurus, terikat rantai, dan sebagian mengalami luka.
2. Kasus di Medan (2019)
Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyelamatkan lima ekor bayi beruk yang hendak dijual secara online. Bayi tersebut didapatkan dari pemburu dengan cara membunuh induknya di hutan.
3. Kasus di Media Sosial (2021-2023)
Beberapa akun TikTok dan YouTube asal Indonesia viral karena menampilkan bayi monyet yang diperlakukan seperti manusia. Konten itu dikritik oleh aktivis satwa, tetapi tetap mendapat jutaan penonton.
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa eksploitasi tidak lagi terbatas di jalanan, melainkan sudah masuk ruang digital yang jauh lebih sulit diawasi.
Jalan Keluar yang Bisa Ditempuh
Eksploitasi monyet memang sudah lama menjadi masalah, tetapi bukan berarti mustahil dihentikan. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh agar masa depan MEP dan beruk tidak semakin suram:
1. Menguatkan penegakan hukum
Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati sudah melarang perdagangan satwa dilindungi. Namun, implementasinya masih lemah. Pemerintah perlu lebih tegas dalam mengawasi dan memberi sanksi kepada pelaku perdagangan dan eksploitasi.
2. Mengubah pola pikir masyarakat
Edukasi publik sangat penting. Masyarakat harus sadar bahwa monyet bukanlah hewan peliharaan atau bahan hiburan. Kampanye bisa dilakukan melalui sekolah, media sosial, dan komunitas lokal.
3. Alternatif hiburan yang ramah satwa
Seniman jalanan dan konten kreator seharusnya mulai beralih ke hiburan kreatif tanpa melibatkan satwa. Teknologi digital, teater, dan seni musik bisa jadi wadah ekspresi yang lebih manusiawi.
4. Ekowisata berbasis primata
Alih-alih mengeksploitasi monyet di jalanan, keberadaan mereka bisa dimanfaatkan untuk ekowisata di habitat alami. Program wisata edukasi yang melibatkan masyarakat lokal dapat menghadirkan manfaat ekonomi tanpa merugikan satwa.
5. Restorasi habitat
Habitat alami yang terfragmentasi membuat monyet semakin mudah ditangkap. Dengan menjaga hutan tetap utuh, kita sekaligus melindungi populasi mereka dari jerat perdagangan.
6. Peran generasi muda
Anak muda punya pengaruh besar di media sosial. Dengan membuat konten yang mengedukasi, mereka bisa melawan tren eksploitasi dan menciptakan narasi baru bahwa monyet lebih indah jika hidup bebas di alam.
Proyeksi Masa Depan
Jika tren eksploitasi tidak dihentikan, masa depan monyet ekor panjang dan beruk bisa suram. International Union for Conservation of Nature (IUCN) sudah memasukkan monyet ekor panjang dalam daftar "Vulnerable" atau rentan punah. Populasi mereka diperkirakan terus menurun akibat kombinasi eksploitasi, perdagangan, dan hilangnya habitat.
Namun, harapan masih ada. Beberapa lembaga konservasi di Indonesia, seperti Yayasan IAR Indonesia, telah berhasil menyelamatkan ratusan monyet dari praktik eksploitasi. Mereka direhabilitasi, lalu dilepasliarkan kembali ke hutan. Jika upaya ini diperkuat dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, kemungkinan menyelamatkan spesies ini tetap terbuka.
Bayangkan bila di tahun 2045, ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan, monyet ekor panjang dan beruk masih bisa hidup bebas di hutan, bukan di balik rantai atau layar ponsel. Itu akan menjadi simbol keberhasilan bangsa dalam menjaga kekayaan alam sekaligus membangun peradaban yang lebih beradab terhadap satwa.
Harapan untuk Masa Depan
Eksploitasi monyet ekor panjang dan beruk adalah cermin hubungan timpang antara manusia dan satwa. Kita terlalu sering melihat mereka sebagai objek hiburan, bukan sebagai bagian penting dari ekosistem. Padahal, keberadaan mereka di hutan adalah salah satu kunci bagi kelestarian alam Indonesia.
Menghentikan eksploitasi bukan hanya soal menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan, kesehatan manusia, dan warisan alam untuk generasi mendatang. Kita semua punya peran untuk mewujudkannya, mulai dari menolak menonton atraksi topeng monyet, tidak ikut menyebarkan konten eksploitasi di media sosial, hingga mendukung kebijakan konservasi.
Mungkin tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah mengakar, tetapi setiap langkah kecil berarti. Dengan semakin banyak orang yang peduli, masa depan monyet ekor panjang dan beruk bisa lebih cerah, bebas dari rantai, dan kembali menjadi bagian utuh dari hutan yang kita banggakan.
Referensi
Engel, G., Hungerford, L. L., Jones-Engel, L., Travis, D., Eberle, R., Fuentes, A., & Schillaci, M. A. (2019). Risk of Zoonotic Disease Transmission in Primates. Emerging Infectious Diseases Journal.
IUCN Red List. (2022). Macaca fascicularis Assessment.
Mongabay Indonesia. (2022). Konten Monyet Viral dan Masalah Eksploitasi Satwa.
Moorhouse, T., D'Cruze, N., & Macdonald, D. W. (2021). The Influence of Social Media on the Exotic Pet Trade. Animals, 11(2), 442.
Nijman, V., Nekaris, K. A. I., & Donati, G. (2017). Wildlife Trade in Indonesia. TRAFFIC Bulletin, 29(1).
World Health Organization. (2020). Zoonoses and the Environment.
