Ibu: Kaulah Segalanya Untukku

Nasywa Syafira
Mahasiswa Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta
Konten dari Pengguna
10 Juni 2024 14:37 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Nasywa Syafira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Ilustrasi ibu yang bahagia. (Sumber foto: Pexels.com)
Ibuku memiliki banyak peran dalam kehidupanku. Ibu selalu ada di sisiku dan memancarkan kasih sayang yang tiada tiada tanding. Ia adalah bintang terang dalam malamku, penuntun jalan hidupku yang gelap, dan pelukan hangat saat duniaku terasa dingin.
ADVERTISEMENT
Ibuku bukan hanya seorang Ibu, tetapi juga sahabat terbaikku, pendidik yang bijaksana, dan pelindung yang tangguh. Setiap kali aku terjatuh, Ia ada di sisiku untuk membantuku bangkit kembali. Setiap kali aku merasa ragu, Ia selalu hadir dan memberikan dorongan agar diriku terus maju. Selalu meyakinkanku bisa melalui berbagai tantangan dan cobaan, yang bahkan diriku sendiri saja meragukannya.
Ibuku selalu mendoakanku sejak aku kecil, hingga saat ini. Terkadang Ia lupa mendoakan dirinya sendiri. Tak bisa terbayangkan bagaimana perjalanan hidupku tanpa doa dari Ibu. Diriku yang sekarang bisa tumbuh dengan baik dan mencapai banyak hal juga tentunya karena doa Ibu yang sangat kuat dan mujarab.
Ibuku adalah malaikat tanpa sayap yang diciptakan Tuhan untukku. Ibuku selalu sabar dan memaafkanku saat aku melakukan kesalahan. Meski hatinya terluka, Ibu tetap menerimaku hingga kapanpun. Ia tak pernah menunjukan kesedihan dalam dirinya, yang bahkan diriku sendiri tidak tau seberapa banyak luka yang masih Ia simpan. Ibuku selalu tabah dalam menjalani hidup. Banyak orang sekitarku yang menyakiti hati dan perasaannya, tetapi Ia tetap tabah dan memaafkannya. Bahkan, diriku sendiri saja belum tentu bisa setabah Ibu.
ADVERTISEMENT
Ibu telah mengajarkanku banyak hal dalam hidup. Ibu juga selalu memberiku nasihat dan wejangan kepadaku. Meski terkadang rasanya menjengkelkan, tetapi itu semua untuk kebaikan diriku. Ibuku mengorbankan banyak hal dalam hidupnya demi kehidupanku. Ibuku pandai menyembunyikan rasa sakitnya, demi melihatku terus tumbuh menjadi anak yang kuat.
Ibuku bukan hanya seorang Ibu, tetapi juga merangkap menjadi berbagai peran dalam hidupku. Ibuku bisa menjadi sahabat yang selalu mendengar keluh kesahku, bisa menjadi dokter saat aku sakit, bisa menjadi chef handal yang membuat berbagai masakan lezat, menjadi guru saat aku kesulitan mengerjakan tugas, dan juga menjadi Ayah yang mencari nafkah. Banyak sekali rasa sakit yang membuatku ingin menyerah dalam hidup, tetapi Ibu adalah satu alasan besar untuk diriku tetap bertahan hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Ingin sekali aku memeluk tubuhnya dengan erat sambil mengucapkan terima kasih untuk segala hal yang sudah Ia beri. Aku memang anak yang sedikit gengsi, dan sulit sekali mengungkapkan cinta. Tetapi, demi Tuhan, aku benar-benar menyayangi Ibuku sepenuh hati.
Ibuku memang tidak memiliki gelar seperti Ibu teman-temanku. Tetapi, Ia sangat mengusahakan anaknya meraih gelar tersebut. Ya, Ibuku berhasil mendidik aku dan kedua kakakku hingga kini. Aku dan kakakku berhasil meraih Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berkatnya. Doa yang selalu Ia panjatkan di tiap harinya, juga segala upaya yang ia lakukan untuk anak-anaknya. Aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar Ibuku dipanjangkan umurnya dan disehatkan badannya. Aku ingin sekali membahagiakan dan membalas segala jasanya. Meskipun tetap tidak sebanding dengan apa yang Ia berikan selama ini, aku akan tetap berusaha.
ADVERTISEMENT
Jika disuruh memilih siapa dulu yang berpulang, aku akan memilih diriku. Aku tidak sanggup jika harus hidup tanpanya, aku juga tidak sanggup membayangkannya. Aku tidak akan bisa menjalani kerasnya dunia tanpa Ibu. Kalau boleh egois, aku ingin selamanya hidup dengan Ibuku. Jika benar kehidupan selanjutnya itu ada, aku akan tetap memilih Ibu untuk menjadi Ibuku. Sampai kapanpun, Ibuku tetap yang terbaik.
Hari demi hari, Ibu semakin menua. Umurnya terus bertambah dan rambutnya yang memudar. Aku sedih, aku takut. Aku cemas membayangkan masa depanku. Aku takut bila belum sempat membahagiakannya. Tolong hidup lebih lama lagi, Ibuku.
Ibuku selalu memprioritaskan anak-anaknya. Ibuku selalu mengalah dan berkorban. Selalu berkata sudah kenyang saat porsi makanan hanya cukup untukku. Selalu mengorbankan waktu dan tenaganya demi membahagiakanku. Tidak pernah menunjukkan kesedihan dan rasa lelahnya dihadapanku.
ADVERTISEMENT
Ibuku adalah wanita tercantik yang pernah kutemui. Wajahnya yang putih, senyumnya yang manis, dan bola matanya yang indah membuatku jatuh cinta padanya. Rasanya ingin sekali marah pada semua orang yang sudah menyakiti perasaan dan hati Ibuku. Tetapi, Ibuku selalu mengajarkanku untuk memaafkan dan menjadi pribadi yang tidak pendendam.
Ibuku sangat suka kopi, khususnya kopi hitam. Tetapi, dibalik itu semua, aku benar-benar khawatir akan kesehatannya. Terlebih lagi Ibuku memiliki penyakit maag, dan banyaknya penyakit yang timbul dari seringnya meminum kopi. Beberapa kali aku mengingatkannya agar mengurangi kopi. Aku melakukannya karena sayang, dan khawatir.
Ibuku seperti pahlawan. Tanpa jubah dan pedang, Ia berjuang untuk melindungiku dan berjuang untuk kebahagiaanku selalu. Setiap harinya, aku bersyukur kepada Tuhan atas anugerah terbesar yang pernah aku terima, yaitu memiliki Ibu sepertimu.
ADVERTISEMENT
Ibu, banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan setiap harinya. Banyak sekali hal yang ingin aku berikan. Tolong beri aku waktu untuk menggapainya, tolong doakan dan temani aku selalu.
Terima kasih Ibuku. Untuk segala cinta, pengorbanan, dan kebijaksanaan yang engkau berikan. Aku berjanji akan selalu menghargai setiap momen, setiap pelajaran, dan setiap nasihat yang Ibu berikan. Aku berjanji akan menjadi pribadi yang dapat membuatmu bangga, seperti Ibu yang selalu membuatku bangga karena bisa memiliki Ibu sepertimu.