Konten dari Pengguna

G30S/PKI di Era Gen Z: Mengapa Sejarahnya Masih Diperdebatkan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naszwah Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sumber: Koleksi sendiri)
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber: Koleksi sendiri)

Mengapa Narasi G30S/PKI Terus Diperdebatkan?

Hanung pernah bercerita bahwa setiap malam ulang tahunnya, televisi menayangkan Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Film yang bagi banyak orang menjadi gambaran tentang tragedi 1965 itu justru terasa seperti film horor baginya.

Bayangkan merayakan ulang tahun sambil menyaksikan film tentang penculikan dan pembunuhan para jenderal. Itulah yang dikenang sutradara Hanung Bramantyo dari masa kecilnya. Setiap malam ulang tahunnya, menurut pengakuannya, layar televisi menayangkan Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, dan baginya tontonan itu tak ubahnya film horor.

Kini Hanung membalik ceritanya. Pada Kamis (1/10/2026), ia merilis film horor sungguhan, Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah. Sasarannya jelas: anak muda, terutama Gen Z, yang tumbuh tanpa kewajiban menonton film lamanya.

Pertanyaannya, mengapa kisah yang terjadi lebih dari enam dekade lalu masih memantik debat setiap tahun? Jawabannya tidak sesederhana memilih film mana yang benar.

Perdebatan lama pun menyala lagi menjelang 30 September 2026. Trans TV menjadwalkan tayangan film 1984 itu pada Rabu (30/9/2026) pukul 20.00 WIB, menurut jadwal yang dikutip Tirto. Di Palangka Raya, UIN setempat menyiapkan acara menonton bersama yang diinisiasi Resimen Mahasiswa, Dewan Eksekutif Mahasiswa, dan Senat Mahasiswa, sebagaimana diberitakan Dialogmasa. Pihak kampus menyebutnya ruang untuk mengenang sekaligus memahami kembali sejarah.

Dulu Wajib, Kini Pilihan

Film garapan Arifin C. Noer itu berdurasi hampir empat jam. Hingga 1998, penayangannya diwajibkan setiap 30 September. Menurut Periskop, kewajiban tersebut dicabut pada September 1998 oleh Menteri Penerangan Yunus Yosfiah dengan alasan dianggap memanipulasi sejarah.

Di titik inilah Gen Z masuk. Sebagian besar dari mereka lahir setelah kewajiban itu hilang. Tak ada ritual tahunan, tak ada keharusan menonton bersama di sekolah. Mereka mengenalnya lewat televisi atau platform daring, kadang tanpa konteks. Orang tua mungkin mengingatnya sebagai tontonan mencekam, sedangkan anak muda boleh jadi menontonnya sambil bertanya-tanya, benarkah begitu kejadiannya?

Generasi ini juga hidup di tengah banjir informasi. Satu peristiwa sejarah bisa dibahas lewat film, utas, video pendek, atau diskusi kampus, dengan tafsir yang tak selalu sama.

Satu Karya, Banyak Pertanyaan

Suara.com menyebut film ini sebagai alat propaganda Orde Baru yang dirancang agar publik membenci PKI, meski sebagian orang tetap menjadikannya rujukan. Dari sisi sinema, nilainya diakui. Menurut Periskop, skenarionya meraih Piala Citra di Festival Film Indonesia 1984.

Suara.com juga menyoroti ketiadaan narasumber dari pihak PKI yang berani bersuara, sehingga informasi dalam film dinilai terbatas. Artinya, yang dipersoalkan adalah cara bercerita: apa yang ditonjolkan, apa yang dilewatkan, dan siapa yang tak diberi ruang bicara.

Adegan penyiksaan para jenderal paling sering dipersoalkan. Dalam penelusuran detikcom yang dikutip Dialogmasa, hasil pemeriksaan jenazah yang pernah dibahas Indonesianis Benedict Anderson menyebut enam jenderal meninggal akibat luka tembak, sedangkan MT Haryono akibat luka tusukan senjata tajam.

Jajang C. Noer, istri Arifin, pernah menyampaikan pada 2017 bahwa data yang dikumpulkan tim saat itu memang memuat keterangan soal penyiksaan, sementara hasil forensik baru ramai dibahas setelah Reformasi. Ia bahkan menyambut baik film baru dengan data yang lebih mutakhir. Ilham Aidit, putra D.N. Aidit, juga pernah menyoal adegan tari di Lubang Buaya.

Arsip Bertambah, Cerita Berlapis

Antara pada 20 September 2026 mencatat bahwa sumber peristiwa 1965 kini datang dari beragam arsip, termasuk koleksi Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang. Kantor berita itu juga menyinggung perbedaan historiografi soal siapa yang bertanggung jawab atas G30S dan seberapa jauh keterlibatan PKI sebagai organisasi.

Pada saat yang sama, kesaksian lama dimunculkan lagi. Stasiun tvOne, misalnya, memuat ulang kesaksian AKBP (Purn) Sukitman tentang Lubang Buaya pada 29 September 2026. Publik pun disodori kepingan kisah yang tak selalu sejalan, seperti menyusun teka-teki gambar dengan keping dari beberapa kotak berbeda.

Saat Horor Jadi Pintu Masuk

Hanung mengaku pernah merencanakan versi baru film G30S/PKI. Menurut ceritanya kepada detik.com, gagasan itu bermula dari harapan Presiden Joko Widodo akan adanya versi yang bisa dinikmati generasi milenial. Proyek tersebut terhenti, lalu idenya berubah menjadi film horor fiksi berlatar 1964, setahun sebelum tragedi. Ia menegaskan karyanya bukan remake.

Hanung berpesan agar penonton mencermati “bukan peristiwa 30 Septembernya, tetapi satu tahun sebelumnya.” Pesan itu dikutip IDN Times. Sebelum tayang di dalam negeri, filmnya lebih dulu diputar perdana di International Film Festival Rotterdam 2026, lalu tampil di Bucheon International Fantastic Film Festival pada Juli. Hanung juga menyebut akhir ceritanya tidak memberi semua jawaban, sebab kisahnya baru bagian awal dari tragedi yang lebih besar.

Harapannya terhadap anak muda terdengar sederhana. Kepada Liputan6, Hanung mengatakan, “Peristiwa ini tidak boleh hilang dari ingatan kolektif.” Seorang kolumnis di Kompas.com menilai Gen Z dan milenial sebagai generasi yang “relatif bebas hegemoni makna Orde Baru.”

Tugas Rumah Gen Z

Mengapa narasinya tak kunjung usai? Setidaknya ada tiga sebab. Sumber terus bertambah, dan setiap orang membacanya dari sudut yang berbeda. Gambar bergerak menempel lebih lama di kepala daripada catatan kaki, bahkan ketika detailnya digugat. Peristiwanya juga menyentuh luka banyak keluarga, sehingga sulit dibahas dengan kepala dingin.

Bagi Gen Z, tantangannya bukan memilih film mana yang paling benar. Tugasnya lebih berat: membandingkan sumber, menimbang siapa yang bercerita dan kapan, lalu berani menerima bahwa sejarah jarang punya satu versi yang memuaskan semua pihak. Cara memulainya cukup mudah: tonton filmnya, lalu baca arsip dan kesaksian lain sebagai pembanding.

Layar boleh berganti, dari televisi wajib tonton ke gawai di genggaman, dari propaganda ke horor. Jadi, saat menonton film sejarah apa pun, sudahkah kita bertanya: ini mengajak saya berpikir atau sekadar menyuruh saya percaya?