Bagaimana Serangan Iran ke Israel Berpotensi Mempengaruhi Ekonomi Global?

Natalia Surya
Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana
Konten dari Pengguna
21 April 2024 17:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Natalia Surya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Serangan Iran ke Israel pada 13 April 2024 (Foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Serangan Iran ke Israel pada 13 April 2024 (Foto: Shutterstock)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Konflik di kawasan Timur Tengah tidak ada habisnya, seperti yang terjadi baru-baru ini pada 13 April 2024 tepatnya sabtu malam, Iran menyerang Israel dengan meluncurkan serangan lebih dari 170 pesawat nirawak, 30 rudal jelajah, dan 120 misil balistik ke Israel. Serangan yang dilakukan Iran ini tentunya menjadi perhatian dunia saat ini dan menimbulkan kekhawatiran kepada negara-negara yang berdekatan dengan kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
Dampak yang ditimbulkan dari adanya konflik ini tidak hanya berdampak di kawasan regional saja, melainkan juga berdampak secara global, khususnya negara-negara yang memiliki kerjasama ekspor-impor dengan kedua negara tersebut.
Perekonomian global saat ini mengalami tamparan kembali setelah dampak yang ditimbulkan dari Covid-19 yang berkepanjangan, perang Rusia-Ukraina, dan konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Kawasan Timur Tengah merupakan pemasok minyak global terbanyak yang masuk ke dalam organisasi ekspor minyak yaitu Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Berdasarkan laporan dari OPEC pada tahun 2023, produksi minyak iran merupakan yang terbesar di kawasan Timur Tengah dengan jumlah 2,86 juta barel per harinya. Akibat ketegangan yang terjadi antara Iran dan Israel membuat adanya ketidakpastian minyak dan gas dunia saat ini.
ADVERTISEMENT
Badan multinasional yang berbasis di Paris yakni Badan Energi Internasional (IEA), menyatakan bahwa serangan Iran ke Israel memberikan pengingat baru akan pentingnya keamanan minyak, hal ini akan meningkatkan risiko naik turunnya harga minyak di pasar (volatilitas).
Dilansir dari Trtworld.com, menurut Goldman Sachs, harga minyak mentah saat ini berada di kisaran $85 per barel sudah termasuk premi risiko $5-10 karena potensi gangguan pasokan.
Oleh karena itu, harga minyak mentah menjadi rentan terhadap lonjakan sebagai respon dari ketegangan ini. Jika ketegangan antara kedua negara ini terus berlanjut, maka konflik tersebut akan memberikan kejutan kepada rantai pasok.
Menteri perdagangan, Mari Elka Pangestu (periode 2004-2011) pada diskusi daring yang digelar di perkumpulan Eisenhower Indonesia, pada senin 15 April 2024, mengatakan bahwa “ada supply shock yang akan terjadi. Permintaan yang tidak bisa diimbangi pasokan akan menimbulkan kenaikan harga,” ujar Mari.
ADVERTISEMENT
Mari juga menambahkan bahwa, supply shock ini akan terjadi ketika Amerika sebagai sekutu utama Israel menjatuhkan sanksi yang lebih berat ke Iran dengan pembatasan penjualan minyak Iran ke pasar Internasional, hal inilah yang akan menyebabkan hilangnya pasokan minyak global.
Selain itu masalah akan pasokan minyak ini juga kemungkinan akan terjadi ketika terjadi pemblokiran jalur ekspor minyak dari pihak Iran. Jalur yang digunakan dalam kegiatan ekspor energi ini adalah jalur perairan sempit antara Teluk Persia dan Teluk Oman yang bernama Selat Hormuz. Ketika Iran melakukan pemblokiran, maka kegiatan pengiriman minyak dan gas pada pasar global akan terhalang.
Jika konflik ini terus berlanjut maka, dampak-dampak yang ditimbulkan akibat serangan Iran ke Israel itulah yang dapat berpotensi mempengaruhi ekonomi global.
ADVERTISEMENT