Konten dari Pengguna

Sebelum Berkenalan, Kita Sudah Memberi Label: Kisah Stereotip yang Masih Hidup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Natalia Lumbantobing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto:ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto:ilustrasi AI

"Awas, dia orang dari suku itu."

Kalimat tersebut mungkin hanya diucapkan sepintas. Ada yang menganggapnya sebagai candaan, ada pula yang menganggapnya nasihat. Namun, tanpa disadari, kalimat sederhana itu bisa menjadi awal lahirnya prasangka.

Ironisnya, prasangka sering muncul bahkan sebelum dua orang sempat berjabat tangan.

Di Sumatera Utara, keberagaman adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Di satu lingkungan yang sama, kita dapat menemukan keluarga dengan latar belakang Batak, Melayu, Jawa, Minangkabau, Nias, Tionghoa, Aceh, hingga berbagai etnis lainnya. Anak-anak bersekolah bersama, pedagang saling berdampingan di pasar, dan masyarakat bekerja di tempat yang sama. Namun, di balik kehidupan yang tampak harmonis itu, stereotip masih sering berjalan diam-diam.

Tidak sedikit orang yang langsung dinilai dari nama marganya, logat bicaranya, atau asal daerahnya. Belum sempat memperkenalkan diri, sudah muncul anggapan bahwa ia keras, pelit, pendiam, emosional, atau memiliki sifat tertentu. Seolah-olah identitas budaya dapat menjelaskan seluruh kepribadian seseorang.

Padahal, tidak ada manusia yang lahir membawa sifat berdasarkan sukunya.

Stereotip memang terasa sederhana. Bahkan sering dibungkus dengan tawa. Namun, ketika terus diulang, ia berubah menjadi tembok yang memisahkan masyarakat. Orang menjadi ragu berteman, canggung bekerja sama, bahkan enggan membuka percakapan karena takut dihakimi berdasarkan label yang melekat pada kelompoknya.

Yang paling disayangkan, prasangka sering diwariskan. Anak-anak yang sebenarnya tidak memiliki masalah dengan perbedaan justru mulai belajar memberi label karena mendengar ucapan orang dewasa di rumah atau lingkungan sekitar. Akhirnya, stereotip tidak lagi menjadi pendapat pribadi, tetapi berubah menjadi kebiasaan sosial.

Padahal, kehidupan sehari-hari di Sumatera Utara justru membuktikan hal yang berbeda. Saat ada pesta adat, warga dari berbagai latar belakang ikut membantu. Ketika musibah datang, tetangga berdatangan membawa bantuan tanpa lebih dulu menanyakan asal suku atau agama. Di pasar tradisional, transaksi terjadi karena kepercayaan, bukan karena kesamaan identitas. Di kampus dan tempat kerja, ide-ide terbaik lahir dari orang-orang yang memiliki pengalaman budaya yang berbeda.

Fakta-fakta sederhana ini menunjukkan bahwa manusia mampu hidup berdampingan ketika mereka saling mengenal, bukan saling menilai.

Di era media sosial, tantangan menjadi semakin besar. Potongan video, komentar, atau pengalaman pribadi seseorang sering kali dijadikan dasar untuk menyimpulkan seluruh kelompok etnis. Satu tindakan individu dengan cepat berubah menjadi penilaian terhadap ribuan orang yang bahkan tidak saling mengenal. Padahal, media sosial lebih sering memperbesar emosi daripada menghadirkan gambaran yang utuh.

Sudah saatnya kita berhenti bertanya, "Dia dari suku apa?" sebagai dasar untuk menilai seseorang. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Seperti apa sikap dan karakter orang itu?"

Keberagaman bukan ancaman bagi Sumatera Utara. Yang menjadi ancaman adalah kebiasaan menilai seseorang sebelum mengenalnya. Selama stereotip masih dianggap wajar, selama itu pula jarak antarmanusia akan terus ada, meskipun mereka tinggal di kampung yang sama.

Mungkin, perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan besar. Perubahan bisa dimulai dari hal yang paling sederhana: berhenti memberi label, mulai mendengarkan, dan memberi setiap orang kesempatan untuk memperkenalkan dirinya sendiri.

Karena pada akhirnya, tidak ada satu pun manusia yang pantas diringkas hanya dalam satu stereotip.