Ecobrick dan Ecoprint sebagai Solusi Alternatif Penyelesaian Masalah Sampah

Regional Economic Development Student in Universitas Gadjah Mada, Governance and Human Development Planning Intern at Bappeda Kota Yogyakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Natanael Affarouqi Owen Jeremiah Najla Hikmalia Dhiyaa Ulhaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PENDAHULUAN
Permasalahan sampah di Indonesia menjadi sangat serius setiap tahunnya karena jumlah sampah yang terkelola dan dapat tertangani tidak sebanding dengan timbulan sampah yang ada. Pada tahun 2023, timbulan sampah di Indonesia mencapai 23.375.260,34 ton/tahun sedangkan sampah yang terkelola hanya 66,8% atau setara dengan 15.614.025,45 ton/tahun. Artinya sampah yang tidak terkelola masih berjumlah 7.761.234,89. Secara garis besar, pengurangan sampah hanya sebesar 3.833.561,18 ton/tahun atau setara dengan 16,4% dan sampah yang berhasil tertangani sebesar 11.780.464,27 ton/tahun atau hanya setara dengan 50,4% dari seluruh total sampah yang ada di Indonesia. (KLHK, 2023)
Beralih pada salah satu kota di Indonesia yaitu Kota Yogyakarta yang sejak tahun 2022 melakukan penutupan pada salah satu TPAnya yaitu TPA Piyungan sebagai bentuk protes akibat sampah yang sangat overload. Volume sampah di TPA ini tingginya sudah mencapai kurang lebih 160 meter, hal ini terjadi karena TPA Piyungan menjadi pusat pembuangan sampah akhir dari 3 kabupaten/kota yang ada yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Kota Yogyakarta setiap harinya menyumbang sampah sekitar 270 ton. Berdasarkan data di tahun 2022, sampah ini sebanyak 99,34% telah berhasil dikelola melalui pengurangan sampah sebesar 22,68% dan penanganan sampah sebesar 76,78%. Maka dari itu, sisa sampah yang belum terkelola berjumlah sekitar 1,87 ton atau setara 0,57% harus diberi solusi agar penanganan sampah benar-benar maksimal. (Bappeda Kota Yogyakarta, 2022).
PENTINGNYA PERMASALAHAN PENANGANAN SAMPAH ORGANIK DAN NON ORGANIK
Penanganan sampah yang perlu diperhatikan saat ini di Kota Yogyakarta adalah bagaimana masyarakat mau untuk diajak bekerjasama dalam kegiatan pengelolaan tersebut. Modal yang dimiliki oleh Kota Yogyakarta yaitu sebanyak 666 bank sampah dan sudah ada di 45 kelurahan ini perlu dikembangkan. Memilah sampah organik dan anorganik secara mandiri diyakini dapat mengurangi timbulan sampah sebesar 20%. Jika masyarakat turut serta untuk mendaur ulang sampah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis pastilah solusi ini memiliki kontribusi lebih dari 20% untuk mengurangi produksi sampah harian di Kota Yogyakarta.
Menurut hasil riset dari Litbang Kompas, masyarakat kota masih belum terbiasa untuk melakukan daur ulang sampah. Hal ini dibuktikan dengan data sebanyak 59,3% masyarakat menyatakan tidak pernah membuat kerajinan tangan dari kemasan produk maupun sampah lain dan sebanyak 49,7% tidak pernah memisahkan sampah organik dengan anorganik. Maka dari itu, menjadi penting ketika sampah organik dan anorganik dikelola dan masyarakat mulai belajar untuk mendaur ulang sampah dan menggunakan barang hasil daur ulang tersebut sehingga dapat mengurangi permasalahan sampah yang semakin menumpuk setiap tahunnya.
METODE PEMECAHAN MASALAH
Problematika terkait dengan sampah tersebut terus ada di Indonesia khususnya di Kota Yogyakarta yang menjadi salah satu kota dengan kasus viral berupa masalah sampah yang tak kunjung selesai hingga saat ini. Kontribusi masyarakat dalam bentuk turut serta menuntaskan masalah sampah dengan mengurangi dan mendaur ulang dinilai menjadi solusi terbaik untuk diambil dalam dinamika yang sekarang.
Observasi lapangan menunjukan bahwa ecoprint dan ecobrick menjadi kedua solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan sampah organik dan anorganik dengan mengedepankan aspek keberlanjutan dan daya tarik ekonomi dari masyarakat.
Ecoprint dikenal sebagai suatu sistem pewarnaan pada kain dengan menggunakan metode alami seperti menggunakan elemen daun, bunga, dan bagian tumbuhan yang lainnya sebagai upaya pengurangan sampah organik dengan nilai estetika dan komersial yang tinggi. Teknik tersebut dilakukan dengan menggunakan sari dari bahan-bahan tersebut untuk dapat diberikan noda atau bentuk pola pada media kain yang dituju seperti dalam tujuan pembuatan produk kain, tas, kerajinan, dan sebagainya.
Penuntasan masalah sampah anorganik pada era-modern seperti sekarang dilakukan pula melalui teknik ecobrick. Ecobrick merupakan suatu teknik dalam pengelolaan sampah botol dan plastik dengan membuat media botol tersebut padat dengan sampah anorganik seperti plastik dan sebagainya. Hal ini dilakukan dengan mengisi botol tersebut hingga padat kemudian diubah menjadi bahan bangunan yang berguna dan bernilai estetika. Hal yang paling mudah ditemui adalah kursi dan meja ecobrick.
PEMBAHASAN
Adapun pembahasan efektivitas pemanfaatan limbah organik dan anorganik menjadi ecoprint dan ecobrick terlihat dalam efektivitas ekonomi dan kebermanfaatannya yang dapat dilihat dari analisis SWOT sebagai berikut:
Strength (Kekuatan): mengurangi sampah di TPA, meningkatkan kesadaran pada partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah, dan produk bernilai ekonomi tinggi.
Weakness (Kelemahan): memerlukan edukasi dan pelatihan; pembuatan produk memakan waktu.
Opportunity (Peluang): masyarakat Kota Yogyakarta rata-rata senang belajar hal baru; adanya dukungan Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM, dan NGO; pasar ecoprint dan ecobrick yang semakin meluas.
Threth (Ancaman): konsistensi masyarakat yang rawan menurun dan persaingan dengan produk lain
Adapun secara matematis sederhana, efektivitas kontribusi ecoprint dan ecobrick dalam pengurangan sampah organik dan anorganik dijabarkan dalam poin sebagai berikut:
Ecobrick:
Pengurangan sampah plastik dalam 1 botol ecobrick bisa mengurangi rata-rata 500 gram sampah plastik.
Biaya yang ditanggung rata-rata gratis apabila tenaga kerja dan bahan dicari secara mandiri sedangkan apabila menggunakan tenaga kerja dalam pencarian bahan maka biaya yang ditanggung sekitar Rp5.000-Rp10.000.
Teknik pembuatan yang dilakukan cukup mudah dengan memasukan bahan plastik kedalam botol hingga padat kemudian botol yang telah diisi disusun sedemikian rupa hingga menjadi barang yang diinginkan seperti meja maupun kursi. Teknik penyatuan yang digunakan umumnya dengan ditali atau dipaku hingga kuat.
Ecoprint:
Sampah organik yang dapat dikurangi adalah sekitar 200-300 gram per 1 meter kain ecoprint.
Bahan yang digunakan merupakan bahan alami yang mudah ditemukan dilingkungan sekitar dan proses pembuatan dapat dilakukan secara industri rumahan sehingga tidak memerlukan skill khusus. Biaya pembuatan yang dibebankan sekitar Rp50.000-Rp100.000 per meter kain.
Teknik Pounding menjadi teknik terbaik karena mampu menyerap warna alami dari daun-daun atau media tersebut dengan menggunakan alat bantu berupa palu dalam memukul daun atau bunga yang diletakan pada atas kain hingga warna dari daun atau bunga mampu tercetak pada kain dengan motif yang indah dan tahan lama.
Adapun estimasi efektivitas secara matematis berdasar jumlah penduduk Kota Yogyakarta yang berjumlah 400.000 apabila diasumsikan setiap orang membuat 1 ecobrick maka manfaatnya adalah sebagai berikut:
Ecobrick: 400.000 botol X 500 gram = 200 ton
Ecoprint: 400.000 meter X 250 gram = 100 ton
Estimasi pengurangan sampah perbulan = 300 ton
KESIMPULAN
Proyeksi dan efektivitas tersebut menunjukan bahwa ecoprint dan ecobrick bermanfaat bagi pengurangan sampah organik dan anorganik di Kota Yogyakarta didukung oleh jumlah penduduknya yang mencapai angka 400.000 penduduk.. Kebermanfaatan dalam hal tersebut menunjukan efek yang sangat substansial dan signifikan secara luas baik bagi penuntasan masalah sampah organik maupun sampah anorganik. Manfaat dari cara ini juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam peningkatan ekonomi melalui proses daur ulang dan pengurangan limbah yang pada kultur normalnya dibuang di TPA.
