Ketika Mahasiswa Harus Mengeluarkan Uang agar Bisa Menyelesaikan Tugas

Saya seorang mahasiswi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan program studi pendidikan ekonomi, Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Natasya Indira Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membicarakan biaya pendidikan tinggi, yang sering kali langsung terpikir adalah UKT. Padahal, menjadi mahasiswa tidak hanya membutuhkan biaya untuk membayar perkuliahan. Ada banyak pengeluaran lain yang muncul selama menjalani proses pendidikan, bahkan terkadang hanya untuk menyelesaikan satu tugas. Print dan fotokopi, membeli alat atau bahan tugas, membayar transportasi untuk observasi, membeli kuota internet, hingga biaya untuk mencari data menjadi bagian dari pengeluaran yang harus dipikirkan mahasiswa.
Tugas kuliah yang terlihat sederhana pun bisa memiliki biaya tersendiri. Ketika dosen meminta mahasiswa melakukan observasi langsung, misalnya, mahasiswa harus memikirkan bagaimana cara menuju lokasi. Ketika tugas membutuhkan wawancara, ada biaya transportasi yang mungkin harus dikeluarkan. Ketika tugas harus dikumpulkan dalam bentuk cetak, mahasiswa kembali mengeluarkan uang untuk print. Belum lagi jika tugas tersebut membutuhkan alat, bahan, atau referensi tertentu. Satu per satu memang terlihat kecil, tetapi ketika tugas datang berkali-kali, pengeluaran tersebut tentu menjadi sesuatu yang terasa. Bagi mahasiswa yang memiliki uang saku cukup, pengeluaran seperti ini mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Namun, situasinya berbeda bagi mahasiswa yang harus mengatur uang dengan sangat hati-hati. Uang yang dimiliki dalam satu minggu atau satu bulan harus dibagi untuk makan, transportasi, kuota, kebutuhan pribadi, dan kebutuhan kuliah. Ketika tiba-tiba ada tugas yang membutuhkan biaya tambahan, mahasiswa harus kembali mengatur prioritas. Ada yang mengurangi uang makan, menunda membeli kebutuhan pribadi, menggunakan uang tabungan, atau bahkan meminta tambahan kepada orang tua. Di titik ini, pendidikan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kondisi ekonomi seseorang. Mahasiswa memang datang ke kampus untuk belajar, tetapi dalam prosesnya mereka juga berhadapan dengan kenyataan bahwa hampir setiap aktivitas membutuhkan sumber daya. Mereka belajar mengatur uang, menentukan kebutuhan yang harus didahulukan, dan mempertimbangkan apakah suatu pengeluaran memang diperlukan atau masih bisa dicari alternatif yang lebih murah. Persoalannya bukan tentang apakah mahasiswa keberatan mengeluarkan uang untuk tugas. Bagaimanapun, beberapa tugas memang membutuhkan biaya dan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Persoalannya adalah ketika biaya tersebut dianggap sebagai sesuatu yang sepele karena nominalnya tidak terlalu besar. Bagi seseorang yang memiliki anggaran terbatas, Rp10 ribu, Rp20 ribu, atau Rp50 ribu tetap memiliki arti. Apalagi jika pengeluaran tersebut muncul berulang kali dalam satu minggu. Hal ini juga menunjukkan bahwa biaya pendidikan sebenarnya lebih luas daripada angka yang tercantum dalam tagihan kampus. Ada biaya langsung dan ada pula biaya tidak langsung yang muncul selama mahasiswa mengikuti proses pendidikan. Biaya tidak langsung inilah yang terkadang luput dari pembicaraan. Mahasiswa bisa saja sudah membayar UKT, tetapi tetap membutuhkan uang untuk transportasi, internet, buku, alat tulis, kegiatan akademik, penelitian, hingga berbagai kebutuhan tugas. Menariknya, kondisi ini juga dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi pendidikan. Pendidikan bukan hanya tentang proses memperoleh ilmu, tetapi juga membutuhkan sumber daya agar proses tersebut dapat berlangsung. Ketika sumber daya yang dimiliki mahasiswa terbatas, mereka harus menentukan bagaimana cara menggunakannya. Ada kesempatan yang harus dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Misalnya, ketika seorang mahasiswa menggunakan uangnya untuk transportasi melakukan penelitian tugas, uang tersebut tidak bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya. Karena itu, dosen dan perguruan tinggi juga perlu mempertimbangkan bahwa kemampuan ekonomi mahasiswa tidak selalu sama. Tugas yang membutuhkan biaya besar mungkin terlihat biasa bagi sebagian mahasiswa, tetapi bisa menjadi beban bagi mahasiswa lainnya. Bukan berarti semua tugas harus dibuat tanpa biaya, tetapi akan lebih baik jika mahasiswa diberikan alternatif yang tetap mencapai tujuan pembelajaran tanpa membuat mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak perlu. Pada akhirnya, menjadi mahasiswa memang membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan untuk memahami materi perkuliahan. Mahasiswa juga harus mampu bertahan dengan berbagai tuntutan akademik dan kebutuhan hidup yang berjalan bersamaan. Menyelesaikan tugas bukan hanya persoalan memiliki waktu dan kemampuan, tetapi terkadang juga persoalan memiliki biaya untuk menjalani prosesnya. Mungkin sudah saatnya kita melihat biaya pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan hanya bertanya berapa UKT yang harus dibayar mahasiswa, tetapi juga berapa banyak uang yang harus mereka keluarkan selama menjalani pendidikan. Sebab, bagi sebagian mahasiswa, biaya untuk menyelesaikan sebuah tugas mungkin hanya terlihat sebagai pengeluaran kecil. Namun jika dikumpulkan selama satu semester, pengeluaran kecil tersebut bisa menjadi bagian besar dari perjuangan mereka untuk tetap bertahan di bangku kuliah.
