FOMO di Era Media Sosial: Antara Mengikuti Tren dan Menjadi Diri Sendiri

Natasia Saragih mahasiswa universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Natasia Saragih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang semakin sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari: keinginan untuk mengetahui apa yang sedang ramai dibicarakan. Mulai dari tren, produk, tempat yang sedang populer, hingga berbagai aktivitas yang banyak dilakukan orang. Semua informasi tersebut kini dapat diketahui dengan mudah melalui media sosial.
Pada dasarnya, mengikuti perkembangan bukanlah sesuatu yang buruk. Namun, terkadang muncul dorongan untuk ikut melakukan hal yang sama agar tidak merasa tertinggal. Perasaan tersebut dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO).
Menurut saya, FOMO bukan hanya tentang keinginan mengikuti tren. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana perkembangan media sosial dapat memengaruhi cara seseorang melihat berbagai hal, menentukan pilihan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Ketika Rasa Takut Tertinggal Mulai Muncul
Media sosial membuat kita semakin mudah mengetahui berbagai aktivitas dan pengalaman orang lain. Dalam waktu singkat, kita dapat melihat banyak hal yang sedang dilakukan atau diminati oleh orang-orang di sekitar kita.
Hal tersebut tentu memiliki sisi positif karena kita bisa mendapatkan informasi dan inspirasi dengan lebih mudah. Namun, banyaknya informasi juga terkadang membuat seseorang merasa perlu mengikuti berbagai hal yang sedang ramai.
Ketika banyak orang melakukan sesuatu, terkadang muncul pikiran bahwa kita juga perlu ikut melakukannya, meskipun sebelumnya hal itu bahkan tidak masuk dalam rencana atau keinginan kita. Dalam situasi tertentu, hal tersebut dapat menimbulkan perasaan seolah-olah kita sedang tertinggal. Padahal, setiap orang memiliki kebutuhan, minat, kemampuan, dan prioritas yang berbeda. Perbedaan pilihan tersebut sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Tidak semua hal yang menarik bagi orang lain harus menjadi pilihan yang sama bagi kita.
Kenapa Tren Terasa Begitu Cepat Berganti?
Algoritma media sosial tampaknya dirancang untuk terus menyajikan sesuatu yang baru. Sesuatu yang sebelumnya belum banyak dikenal dapat menjadi populer dalam waktu singkat, kemudian digantikan oleh tren berikutnya, dan siklus itu terus berulang tanpa jeda yang berarti.
Keadaan ini sebenarnya memberi banyak pilihan bagi masyarakat. Kita bisa menemukan informasi baru, mencoba hal yang berbeda, dan mendapatkan inspirasi dari berbagai sumber. Namun kecepatan itu juga punya sisi lain: baru saja mengenal satu tren, sudah muncul tren berikutnya, dan siklus itu berjalan tanpa jeda.
Mengikuti Tren atau Memilih Sesuai Kebutuhan?
Mengikuti tren bukanlah sesuatu yang salah. Selama dilakukan karena memang sesuai dengan minat dan kebutuhan, mengikuti tren dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika keputusan mengikuti suatu tren lebih banyak didorong oleh rasa takut tertinggal daripada keinginan yang sebenarnya. Di sinilah pertanyaan sederhana menjadi penting: apakah saya memang menginginkannya, atau hanya merasa perlu mengikutinya agar tidak dianggap ketinggalan zaman?
Pertanyaan itu terdengar sepele, tetapi bisa menjadi jeda kecil sebelum kita mengambil keputusan. Dengan jeda itu, kita tetap bisa mengikuti perkembangan tanpa harus merasa perlu mengikuti semuanya.
Belajar Menentukan Pilihan Sendiri
Media sosial akan terus berkembang dan tren baru akan terus bermunculan. Menghindari semuanya bukan solusi yang realistis, dan juga bukan tujuan yang perlu dikejar.
Menurut saya, menjadi pengguna media sosial yang bijak justru berarti tetap terlibat, tetapi dengan kesadaran penuh atas alasan di balik setiap pilihan. Kita boleh mendapatkan inspirasi dari orang lain, mengikuti tren yang memang relevan, sekaligus melewatkan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, tanpa perlu ragu karenanya.
Tidak mengikuti sesuatu yang sedang ramai bukan berarti kita tertinggal. Begitu pula, mengikuti suatu tren tidak selalu berarti kita hanya ikut-ikutan. Yang membedakan keduanya sering kali terletak pada satu hal: apakah pilihan itu datang dari diri sendiri, atau dari rasa takut.
FOMO mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya selama kita masih menggunakan media sosial. Tapi mungkin pertanyaannya bukan lagi bagaimana cara menghilangkannya, melainkan seberapa sering kita mau berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri, sebelum benar-benar mengikuti langkah berikutnya.
