Konten dari Pengguna

Gen Z dan Dunia yang Bergerak Terlalu Cepat

Natasia Saragih

Natasia Saragih

Natasia Saragih mahasiswa universitas Pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Natasia Saragih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi : Dibuat dengan bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi : Dibuat dengan bantuan AI

Kalimat ini rasanya sudah terlalu sering terdengar: "Ya maklum, anak Gen Z gampang nyerah. "Julukan "generasi strawberry," yang sering digunakan untuk menggambarkan anak muda sebagai generasi yang dianggap mudah menyerah ketika menghadapi tekanan, seolah sudah menjadi cap yang melekat pada Gen Z. Tapi semakin diperhatikan, semakin terasa bahwa anggapan ini terlalu mudah dilontarkan dan terlalu jarang dipertanyakan.

Menurut saya, menyebut Gen Z sebagai generasi rapuh adalah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa. Yang sebenarnya terjadi bukan semata-mata soal mental yang lemah, melainkan dunia yang mereka hadapi memiliki tantangan yang berbeda dan berubah dengan sangat cepat.

Kita Salah Membandingkan

Ketika ada anak muda yang memilih meninggalkan pekerjaan karena merasa tidak cocok dengan lingkungan kerjanya, keputusan tersebut terkadang langsung dianggap sebagai tanda mudah menyerah. Begitu seseorang bercerita tentang rasa lelah secara mental, pengalaman masa lalu sering dijadikan ukuran untuk menilai kondisi yang sedang dihadapinya. Padahal, setiap orang tumbuh dalam situasi dan lingkungan yang berbeda. Karena itu, membandingkan cara seseorang menghadapi tekanan dengan pengalaman orang lain tidak selalu adil.

Gen Z tumbuh di tengah berbagai perubahan dan ketidakpastian: dampak krisis ekonomi global, pandemi yang mengubah masa sekolah dan awal karier banyak anak muda, persoalan lingkungan, sampai perkembangan teknologi yang mengubah kebutuhan dunia kerja dengan sangat cepat. Mereka masuk dunia kerja dengan berbagai tantangan, mulai dari persaingan yang semakin ketat hingga biaya hidup yang terus meningkat.

Mengharapkan setiap generasi menghadapi tantangan dengan cara yang sama tentu tidak selalu tepat. Setiap zaman memiliki kondisi, tekanan, dan kesempatan yang berbeda.

Dunia yang Tak Pernah Kasih Jeda

Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan: Gen Z tumbuh bersama perkembangan dunia digital yang sangat cepat. Kedengarannya seperti keuntungan, tetapi di balik kemudahan teknologi ada tekanan tambahan. Mereka terbiasa terhubung dengan informasi sepanjang waktu dan tanpa sadar dapat terus membandingkan kehidupannya dengan pencapaian orang lain yang muncul di linimasa.

Kalau dulu tekanan sosial lebih banyak berasal dari lingkungan sekitar, sekarang ruang sosial menjadi jauh lebih luas. Berbagai pencapaian, gaya hidup, dan standar keberhasilan dapat muncul di layar ponsel setiap hari. Akibatnya, sebagian anak muda bisa merasa tertinggal meskipun sebenarnya setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.

Dunia kerja pun berubah dengan cepat. Tidak sedikit anak muda yang baru lulus dan kemudian menemukan bahwa mereka perlu terus mempelajari keterampilan baru agar bisa mengikuti perkembangan industri. Mereka dituntut serba bisa, cepat belajar, dan adaptif. Di tengah tuntutan tersebut, mereka juga membutuhkan ruang untuk belajar dari kesalahan dan berkembang secara bertahap.

Ini Bukan Kerapuhan, Tapi Keberanian

Di sinilah letak kekeliruan dalam melihat Gen Z. Hal yang sering dianggap sebagai kerapuhan bisa saja merupakan bentuk keberanian untuk menyuarakan apa yang mereka rasakan.

Gen Z cenderung lebih terbuka membicarakan kesehatan mental, lebih berani mempertanyakan budaya kerja yang dianggap tidak sehat, dan lebih vokal menyampaikan hal-hal yang mungkin sebelumnya lebih jarang dibicarakan secara terbuka. Mengungkapkan rasa lelah bukan berarti lemah. Bisa jadi, itu merupakan cara seseorang mengenali batas dirinya dan mencari lingkungan yang lebih sehat.

Keterbukaan seperti ini bukan berarti cara generasi lain dalam menghadapi tekanan adalah sesuatu yang salah. Setiap generasi memiliki pengalaman dan cara masing-masing dalam menghadapi perubahan. Jika Gen Z lebih terbuka dalam menyampaikan apa yang mereka rasakan, hal tersebut bisa dilihat sebagai salah satu bentuk perubahan cara masyarakat memandang persoalan hidup dan pekerjaan.

Saatnya Ganti Tuduhan dengan Pemahaman

Ada baiknya diskusi ini digeser arahnya. Bukan lagi sekadar mempertanyakan mengapa anak muda sekarang merasa lebih kesulitan menghadapi tekanan, tetapi soal apa yang membuat lingkungan di sekitar mereka terasa begitu berat untuk dijalani.

Sistem pendidikan yang terus berusaha mengikuti perkembangan zaman, dunia kerja yang menuntut kemampuan tinggi sekaligus perlu memperhatikan kesejahteraan pekerjanya, serta biaya hidup yang terus berubah adalah persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh seseorang untuk "lebih tahan banting."

Anak muda hari ini menghadapi persoalan yang berbeda dan semakin kompleks. Cara mereka merespons persoalan tersebut pun bisa berbeda-beda. Perbedaan itu tidak selalu berarti kelemahan.

Sudah waktunya berhenti memberi label bahwa anak muda "gampang menyerah," dan mulai memahami apa yang membuat sebagian dari mereka merasa kesulitan untuk menghadapi berbagai tuntutan kehidupan.

Karena pada akhirnya, memahami satu generasi bukan berarti menganggap generasi lain salah. Kita hanya perlu menyadari bahwa setiap generasi tumbuh dalam kondisi yang berbeda, dengan pengalaman dan tantangan yang juga berbeda.