Stres Kuliah: Tantangan yang Sering Dianggap Sepele

Natasia Saragih mahasiswa universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Natasia Saragih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tekanan dalam dunia pendidikan sering kali dipandang sebagai hal biasa yang harus dijalani begitu saja. Tugas menumpuk, jadwal yang padat, dan tuntutan untuk selalu berprestasi kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses belajar, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Padahal, di balik rutinitas yang tampak wajar itu, ada beban yang perlahan menumpuk dan jarang mendapat perhatian serius. Menurut saya, cara kita memandang tekanan semacam ini perlu mulai diubah. Sudah saatnya kelelahan dalam proses belajar tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus ditahan sendiri.
Ketika Lelah Dianggap Wajar
Ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa merasa lelah, cemas, atau kewalahan dalam menjalani proses belajar adalah hal yang lumrah. Ungkapan seperti "namanya juga belajar, wajar capek" sering muncul sebagai respons ketika seseorang mengeluhkan bebannya. Respons semacam ini, meski terkesan menghibur, sebenarnya menutup ruang untuk mengakui bahwa tekanan tersebut nyata dan berdampak. Ketika kelelahan terus-menerus dibungkus dengan kata "wajar," maka tidak ada dorongan untuk mencari solusi maupun dukungan yang lebih serius.
Tuntutan yang Tidak Pernah Terlihat
Standar keberhasilan dalam proses belajar sering diukur dari angka dan pencapaian yang tampak di permukaan. Padahal, di balik setiap pencapaian itu, ada proses panjang yang melibatkan rasa khawatir menghadapi tenggat waktu, rasa takut mengecewakan orang lain, hingga tekanan untuk terus bersaing. Semua itu jarang dibicarakan karena dianggap tidak seharusnya menjadi masalah besar. Akibatnya, banyak yang memilih memendam rasa lelah tersebut daripada mengungkapkannya, karena takut dianggap tidak mampu menghadapi tantangan yang "seharusnya biasa saja".
Dampak yang Tidak Bisa Dianggap Remeh
Ketika tekanan terus dibiarkan tanpa penanganan yang layak, dampaknya bisa merembet jauh melampaui urusan akademis. Kesulitan berkonsentrasi, menurunnya motivasi, hingga menurunnya semangat menjalani rutinitas sehari-hari bisa muncul sebagai akibat dari beban yang terus ditumpuk tanpa ada ruang untuk melepaskannya. Yang lebih mengkhawatirkan, ketika hal ini terus dianggap sepele, seseorang bisa merasa bahwa apa yang dialaminya tidak cukup berarti untuk dibicarakan, sehingga ia semakin enggan mencari dukungan.
Membuka Ruang untuk Bicara
Perubahan cara pandang terhadap tekanan dalam proses belajar perlu dimulai dari hal paling sederhana, yaitu memberi ruang untuk mengakui bahwa kelelahan itu nyata. Lingkungan yang mendukung keterbukaan, tanpa menghakimi atau meremehkan, akan membuat seseorang lebih berani berbicara tentang apa yang dirasakannya. Dukungan semacam ini tidak harus berupa solusi besar, cukup dengan kesediaan untuk mendengarkan dan tidak buru-buru menormalkan sesuatu yang sebenarnya butuh perhatian.
Pada akhirnya, mengakui adanya tekanan bukan berarti mencari alasan untuk menyerah, melainkan langkah awal untuk menghadapinya dengan cara yang lebih sehat. Menurut saya, keberanian untuk berbicara tentang beban yang dirasakan justru menunjukkan kekuatan, bukan kelemahan. Ketika keterbukaan semacam ini semakin dihargai, akan lebih banyak orang yang berani mencari dukungan sebelum bebannya menjadi terlalu berat untuk dipikul sendiri.
