Konten dari Pengguna

Body Dysmorphic Disorder (BDD): Jarang Diketahui Tapi Mungkin Pernah Kita Alami

Nathanael Orlizand Setiawan

Nathanael Orlizand Setiawan

Mahasiswa Teknik Mesin Polines

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nathanael Orlizand Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kalian merasa tidak puas dengan penampilan kalian sendiri? Misalnya, merasa bahwa hidungku terlalu besar, kulitku jerawatan, atau alisku terlalu tipis. Mungkin kalian pernah mengalami gejala ringan dari gangguan psikologis ini yaitu Body Dysmorphic Disorder atau singkatnya BDD.

BDD adalah gangguan psikologis pada manusia yang membuat seseorang terobsesi dengan kekurangan fisik yang sebenarnya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali. Meskipun terdengar asing, gangguan ini sebenarnya cukup sering kita temui pada orang lain atau bahkan diri kita sendiri.

Sumber: pexels.com (Polina Tankilevitch)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pexels.com (Polina Tankilevitch)

Gejala yang Mungkin Tidak Disadari

BDD sering dimulai dari kebiasaan yang mungkin terlihat biasa saja, tetapi lama kelamaan, perasaan itu akan berkembang dan menjadi obsesi yang akan mengganggu kesehariannya.

  • Kebiasaan mengaca terus menerus dan berulang kali untuk memeriksa "kekurangan" pada tubuh.

  • Menghindari selfie atau foto karena merasa insecure.

  • Memakai hiasan atau pakaian khusus untuk menutupi bagian yang tidak sempurna.

Beberapa hal tersebut mungkin terdengar wajar, tetapi di tengah era media sosial yang penuh dengan standar kecantikan yang tidak realistis ini, banyak orang telah merasa insecure terhadap dirinya. Jika terus dibiarkan, hal ini akan mengganggu keseharian mereka.

Body Dysmorphic Disorder mungkin jarang dibicarakan dan baru kali ini kalian dengar, tetapi hal ini bukan berarti jarang terjadi bagi banyak orang namun sering kita jumpai.

BDD sering disangkutpautkan dengan ketidakpercayaan diri. Padahal, ini lebih dari sekedar ketidakpuasan sementara saja. Penderitanya bisa menghabiskan banyak waktu hingga berjam-jam memikirkan "kekurangan" mereka.

Ironisnya, banyak dari penderita gangguan ini bahkan tidak menyadari bahwa dirinya memiliki gangguan BDD. Itu karena mereka menganggap bahwa itu perasaan yang normal.

Jika ini memang kalian alami dan mengganggu aktivitas harian kalian, sebaiknya alihkan perhatian ke hal yang positif. Daripada memikirkan hal yang negatif dari diri kita sendiri, lebih baik fokus pada kegiatan yang kalian suka dan memuaskan seperti berolahraga, membaca buku, atau lainnya. Hal ini mengalihkan perhatian kalian dan meningkatkan rasa percaya diri kalian. Kita harus ingat bahwa penampilan kita tidak mendefinisikan nilai diri kita. Lebih baik fokus kepada hal yang kita suka, bukan apa yang kita anggap kurang sempurna.