Menemukan Sisi Lain Ilmu Manajemen melalui Dunia Penerbitan
Tulisan dari Nathania Zahra Isaura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika pertama kali menjalani magang di PT Penerbit Erlangga, saya membayangkan akan banyak berhadapan dengan pekerjaan yang berkaitan dengan buku. Namun, saya tidak menyangka bahwa kegiatan tersebut justru membuat saya melihat kembali ilmu Manajemen yang selama ini saya pelajari di bangku kuliah.
Sebagai mahasiswa Manajemen dengan peminatan Manajemen Operasional, saya terbiasa mempelajari bagaimana suatu proses direncanakan, diatur, dan dikendalikan agar dapat menghasilkan sesuatu dengan baik. Selama kuliah, konsep tersebut sering saya temui dalam pembahasan bisnis dan kegiatan operasional perusahaan.
Namun, saat terjun langsung ke dunia kerja, saya menemukan penerapannya dalam bentuk yang berbeda.
Di balik sebuah buku yang terlihat sederhana, terdapat berbagai proses yang perlu dikerjakan secara teratur. Ada materi yang harus diperiksa, data yang perlu disesuaikan, desain yang harus ditata, hingga pekerjaan yang harus direvisi agar sesuai dengan standar yang ditentukan. Dari situlah saya mulai menyadari bahwa ilmu Manajemen ternyata tidak hanya berada di balik kegiatan bisnis, tetapi juga hadir dalam proses penerbitan sebuah buku.
Dari Tugas Sederhana hingga Belajar Mengelola Proses
Selama magang, saya mendapatkan berbagai tugas yang cukup beragam. Salah satunya adalah mengolah materi buku dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pembelajaran. Saya juga mengerjakan penyusunan indeks, melakukan revisi soal berdasarkan video pembelajaran, mengolah data, hingga membantu penataan buku menggunakan Canva.
Setiap tugas memiliki karakteristik yang berbeda. Ada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian karena harus mencocokkan informasi dan halaman, ada yang membutuhkan kreativitas ketika menata tampilan buku, dan ada pula yang mengharuskan saya memahami arahan sebelum melakukan revisi.
Dari pekerjaan tersebut, saya mulai memahami bahwa sebuah hasil tidak hanya ditentukan oleh bagaimana seseorang mengerjakan tugasnya, tetapi juga bagaimana prosesnya dikelola.
Pekerjaan yang terlihat sederhana pun tetap membutuhkan tahapan. Saya harus memahami instruksi, mengerjakan sesuai arahan, memeriksa kembali hasilnya, lalu melakukan perbaikan jika masih terdapat kekurangan.
Hal ini membuat saya melihat Manajemen Operasional dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan kerja sehari-hari.
Ketika Beberapa Tugas Datang Bersamaan
Salah satu hal yang paling saya rasakan selama magang adalah pentingnya mengatur waktu.
Dalam satu periode, saya dapat menerima beberapa pekerjaan dengan tingkat kesulitan dan tenggat waktu yang berbeda. Ada tugas yang harus segera diselesaikan, sementara pekerjaan lainnya membutuhkan waktu lebih lama karena memerlukan ketelitian.
Pada awalnya, saya sempat merasa bingung menentukan pekerjaan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Namun, perlahan saya belajar membuat prioritas berdasarkan tenggat waktu, tingkat kesulitan, dan kebutuhan dari masing-masing tugas.
Saya juga mulai membiasakan diri untuk tidak langsung berpindah ke tugas lain sebelum memastikan pekerjaan sebelumnya sudah cukup rapi. Setelah selesai mengerjakan suatu tugas, saya menyisihkan waktu untuk memeriksa kembali hasilnya sebelum dikumpulkan.
Dari situ, saya belajar bahwa manajemen waktu bukan berarti menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan dalam waktu singkat. Manajemen waktu juga berarti mengetahui pekerjaan mana yang perlu didahulukan dan memberikan waktu yang cukup agar hasilnya tetap baik.
Pengalaman tersebut terasa semakin nyata ketika ada revisi yang masuk di tengah pekerjaan yang sedang saya kerjakan. Rencana yang sudah dibuat terkadang harus disesuaikan kembali. Saya perlu mengatur ulang prioritas agar pekerjaan baru dapat diselesaikan tanpa mengabaikan tugas yang sebelumnya sudah berjalan.
Belajar Menerima Revisi
Revisi menjadi salah satu bagian yang cukup sering saya temui selama magang.
Ada pekerjaan yang awalnya saya pikir sudah selesai, tetapi setelah diperiksa ternyata masih perlu disesuaikan. Terkadang perubahan yang diminta hanya berupa detail kecil, tetapi detail tersebut tetap penting karena berkaitan dengan standar dan kebutuhan produk.
Pada awalnya, saya melihat revisi sebagai tanda bahwa pekerjaan saya masih memiliki kekurangan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Revisi justru menjadi bagian dari proses untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.
Saya belajar bahwa dalam dunia kerja, hasil pertama tidak selalu menjadi hasil akhir. Masukan dari orang lain diperlukan untuk melihat bagian yang mungkin terlewat dari sudut pandang kita sendiri. Karena itu, saya mulai membiasakan diri untuk menerima masukan dengan lebih terbuka dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.
Pengalaman tersebut juga mengajarkan saya untuk tidak terlalu cepat merasa puas dengan pekerjaan yang sudah selesai.
Menggabungkan Ketelitian dan Kreativitas
Selain pekerjaan yang berkaitan dengan pengolahan materi, saya juga mendapatkan pengalaman dalam melakukan pengeditan dan penataan buku menggunakan Canva.
Pada pekerjaan ini, saya tidak hanya memperhatikan tampilan agar terlihat menarik. Saya juga harus mempertimbangkan ukuran huruf, tata letak, susunan elemen, dan kenyamanan pembaca.
Hal tersebut membuat saya memahami bahwa kreativitas tetap membutuhkan perencanaan.
Sebuah desain yang menarik belum tentu sesuai apabila tidak mempertimbangkan fungsi dan tujuan penggunaannya. Begitu pula dalam membuat materi pembelajaran. Tampilan yang baik perlu didukung oleh isi yang jelas dan mudah dipahami.
Dari sini, saya melihat bahwa pekerjaan dalam dunia penerbitan membutuhkan perpaduan antara kreativitas, ketelitian, dan kemampuan mengikuti standar yang telah ditentukan.
Manajemen Tidak Selalu Berarti Mengelola Orang
Sebelum mengikuti magang, saya cenderung menghubungkan ilmu Manajemen dengan kegiatan seperti mengatur perusahaan, memimpin tim, menyusun strategi, atau mengelola bisnis.
Setelah menjalani pengalaman langsung di dunia penerbitan, pandangan tersebut mulai berubah.
Saya menemukan bahwa Manajemen juga hadir dalam hal-hal yang lebih sederhana. Mengatur waktu pengerjaan tugas, menentukan prioritas, mengikuti alur kerja, menjaga kualitas hasil, menerima evaluasi, dan menyesuaikan diri ketika terjadi perubahan merupakan bagian dari proses manajemen.
Bagi saya, pengalaman ini menjadi salah satu cara untuk memahami materi perkuliahan dengan lebih nyata. Konsep yang sebelumnya hanya saya temui melalui buku dan pembelajaran di kelas ternyata dapat ditemukan dalam kegiatan sehari-hari di tempat kerja.
Membawa Pengalaman Magang ke Perkuliahan
Magang di PT Penerbit Erlangga tidak hanya memberikan pengalaman mengenai dunia penerbitan, tetapi juga membantu saya memahami kemampuan yang masih perlu dikembangkan.
Saya belajar menjadi lebih teratur dalam mengerjakan tugas, lebih teliti ketika memeriksa pekerjaan, lebih terbuka terhadap revisi, serta lebih fleksibel ketika menghadapi perubahan prioritas.
Pengalaman tersebut juga membuat saya memahami bahwa ilmu yang dipelajari di perkuliahan tidak selalu diterapkan dalam bentuk yang sama seperti contoh di kelas. Terkadang, penerapannya muncul melalui pekerjaan yang sederhana dan tidak langsung terlihat sebagai bagian dari ilmu Manajemen.
Dari dunia penerbitan, saya justru menemukan sisi lain dari ilmu yang selama ini saya pelajari.
Bagi saya, magang bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi kewajiban akademik. Magang menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana pengetahuan dari bangku kuliah dapat digunakan dalam lingkungan profesional.
Saya mungkin datang ke tempat magang dengan pemahaman bahwa Manajemen berkaitan dengan bagaimana sebuah organisasi mengatur berbagai sumber daya. Namun, saya pulang dengan pemahaman yang sedikit lebih luas: Manajemen juga tentang bagaimana kita mengatur proses, waktu, prioritas, dan kualitas pekerjaan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Pengalaman tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa ilmu Manajemen dapat ditemukan di berbagai bidang, termasuk di balik proses sebuah buku sampai akhirnya dapat dinikmati oleh pembacanya.

