Konten dari Pengguna

Maag dan Begadang: Dampak Tekanan Tugas Bagi Mahasiswa

Nathasya Ulya Kurnia

Nathasya Ulya Kurnia

Mahasiswa Farmasi Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nathasya Ulya Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa stres menghadapai tugas kulaih Foto : www.istockphoto.com
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa stres menghadapai tugas kulaih Foto : www.istockphoto.com

Maag dan Begadang: Dampak Tekanan Tugas bagi Mahasiswa

Sebagai seorang mahasiswa, saya tahu betul bagaimana tekanan tugas dan beban akademik dapat menghancurkan pola hidup sehat. Bukan hanya soal waktu yang terbatas atau tuntutan akademik yang tinggi, tetapi ada satu hal yang paling sering diabaikan: kesehatan fisik, terutama lambung. Maag adalah masalah yang sangat nyata bagi banyak mahasiswa, termasuk saya.

Ketika masuk ke dunia perkuliahan, saya pikir akan banyak waktu untuk mengejar cita-cita, belajar tentang berbagai hal baru, dan merancang masa depan. Namun, kenyataannya tidak sepenuhnya sesuai harapan. Tugas kuliah yang terus berdatangan, deadline yang selalu mengejar, dan kurangnya manajemen waktu membuat saya sering terpaksa begadang. Saat begadang, sering kali saya mengonsumsi kopi atau makanan ringan, sesuatu yang mungkin sepele, tetapi efeknya ternyata cukup besar bagi kesehatan.

Saya masih ingat pertama kali terkena maag. Saat itu, tengah malam, perut terasa perih, dan saya sulit tidur karena nyeri yang luar biasa. Ketika mencoba mengabaikannya, rasa sakit justru makin parah. Setelah ke dokter, barulah saya sadar bahwa pola hidup yang saya jalani – begadang, tidak teratur makan, dan stres – menjadi pemicu utama maag ini.

Tenyata Bukan Cuma Aku

Dari pengalaman pribadi dan berbagai cerita teman-teman, saya menyadari bahwa kondisi ini bukan hanya dialami oleh segelintir mahasiswa. Survei oleh Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia tahun lalu mengungkapkan bahwa lebih dari 60% mahasiswa mengalami masalah pencernaan, terutama maag, akibat gaya hidup yang buruk selama kuliah. Sumber lain dari sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Indonesian Medical Students menyebutkan bahwa mahasiswa yang sering begadang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pencernaan, termasuk maag.

Mengapa hal ini terjadi? Banyak mahasiswa merasa "dipaksa" untuk begadang demi menyelesaikan tugas tepat waktu, apalagi jika tugas diberikan secara berdekatan atau jadwal ujian semakin dekat. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi kafein, terutama kopi, dianggap sebagai solusi cepat untuk tetap terjaga, padahal minuman ini memiliki efek samping yang signifikan pada lambung, terutama ketika diminum dalam kondisi perut kosong. Kafein yang berlebihan juga bisa menyebabkan produksi asam lambung meningkat, yang menjadi salah satu penyebab utama maag.

Bagaimana Solusinya?

Ada solusi sederhana yang bisa diterapkan, meski tidak selalu mudah. Membagi waktu dan berusaha membuat jadwal yang lebih terstruktur sangat membantu. Begitu juga dengan menjaga pola makan teratur dan mengurangi konsumsi kafein. Sebagai mahasiswa, saya mulai berusaha mengganti kopi dengan teh herbal atau bahkan hanya air putih ketika merasa lelah. Saya juga mencoba untuk tidak mengerjakan tugas mendekati deadline agar tidak harus begadang.

Cerita ini bukan hanya tentang saya; ini adalah cerita banyak mahasiswa yang terjebak dalam rutinitas yang memaksa mereka mengorbankan kesehatan. Mungkin perlu adanya kebijakan dari pihak kampus atau dosen untuk lebih memperhatikan beban tugas dan waktu pengerjaannya agar tidak memberatkan mahasiswa. Sebab, jika kesehatan tidak lagi mendukung, akan sangat sulit bagi kita, para mahasiswa, untuk tetap fokus dan produktif dalam menjalankan peran akademik.

Menjaga kesehatan lambung adalah investasi untuk masa depan kita. Karena pada akhirnya, nilai yang baik atau tugas yang selesai tepat waktu tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak sehat untuk menikmatinya.