Anak Belajar atau Takut Salah? Ketika Ranking Menguasai Hidup Mereka

Saya Rasya Farha Nadzira, mahasiswi Universitas Negeri Jakarta dengan program studi Pendidikan Sosiologi. Saya tertarik pada isu-isu sosial, kebijakan publik, dan juga saya tertarik untuk mengangkat persoalan sosial di lingkungan sekitar.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rasya Farha Nadzira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak sistem ranking tidak hanya terlihat di sekolah, tetapi juga ikut terbawa ke dalam kehidupan anak di rumah. Banyak orang tua tanpa sadar menggunakan ranking sebagai tolok ukur utama keberhasilan anak. Ketika nilai dan posisi ranking menjadi topik yang terus diulang dalam komunikasi keluarga, anak dapat merasakan tekanan yang berlebihan. Mereka merasa harus memenuhi ekspektasi agar tidak mengecewakan orang tua. Dalam perspektif teori "Labeling", proses ini memperkuat label yang sudah diterima di sekolah: anak dengan ranking tinggi dipuji dan dituntut mempertahankan prestasi, sementara anak dengan ranking rendah sering diberi komentar yang mematahkan semangat, meskipun tidak bermaksud demikian.
Situasi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan emosional anak. Mereka yang terus ditekan untuk mengejar ranking bisa mengalami kecemasan, kelelahan, hingga burnout sejak usia dini. Alih-alih melihat rumah sebagai tempat istirahat, anak justru membawa kegelisahan karena takut nilai turun atau tidak memenuhi standar. Sementara itu, anak yang berada di ranking rendah bisa menarik diri, kehilangan rasa percaya diri, dan enggan bercerita tentang sekolah karena takut dibandingkan dengan saudara atau teman. Hubungan orang tua dan anak pun bisa menjadi renggang jika komunikasi hanya berputar pada prestasi akademik semata.
Lebih jauh, orientasi rumah yang berfokus pada ranking dapat membentuk cara anak memaknai dirinya dan masa depannya. Mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai akademik adalah satu-satunya indikator kemampuan dan masa depan yang baik. Padahal, perkembangan anak membutuhkan ruang untuk eksplorasi, kreativitas, dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Ketika keluarga terlalu terpaku pada ranking, anak kehilangan kesempatan untuk mencoba hal baru tanpa rasa takut dinilai.
Jika sekolah membentuk label, maka rumah bisa memperkuat atau mengikis label tersebut. Di titik inilah peran keluarga menjadi krusial. Orang tua yang memberi dukungan, bukan tekanan; yang mengapresiasi usaha, bukan sekadar hasil; dan yang membuka ruang dialog, bukan membandingkan dapat membantu anak melepaskan beban identitas yang melekat dari sistem ranking. Rumah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk melihat bahwa kemampuan tidak ditentukan satu angka, tetapi oleh proses, minat, dan peluang yang mereka temukan selama tumbuh.
Dengan demikian, dampak sistem ranking pada perkembangan anak bukan hanya persoalan sekolah, tetapi juga bagaimana keluarga meresponsnya. Jika dikelola dengan bijak, keluarga bisa menjadi penyeimbang yang menolong anak belajar tanpa tekanan berlebihan, serta membantu mereka membangun identitas yang lebih sehat dan percaya diri.
