Konten dari Pengguna

Guru dan Siswa: Dekat Tanpa Melampaui Batas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rasya Farha Nadzira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kedekatan guru dan siswa dapat menumbuhkan kreativitas, tetapi relasi kuasa dan batas profesional tetap harus dijaga dalam dunia pendidikan.

Ilustrasi Foto Via Gemini
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Foto Via Gemini

Pernahkah kita bertanya mengapa sebagian siswa berani menyampaikan pendapat di kelas, sedangkan siswa lainnya memilih diam meskipun memiliki gagasan sendiri? Perbedaan ini tidak selalu berkaitan dengan kecerdasan atau kemampuan akademik. Ada faktor lain yang sering luput diperhatikan, yaitu bagaimana hubungan antara guru dan siswa terbentuk di lingkungan sekolah. Siswa yang merasa didengarkan dan dihargai cenderung memiliki ruang lebih besar untuk mengekspresikan pemikirannya. Sebaliknya, ketika suasana belajar dipenuhi rasa takut terhadap kesalahan, siswa bisa memilih mengikuti jawaban guru tanpa berani mengembangkan gagasannya sendiri.

Dalam sosiologi pendidikan, hubungan antara guru dan siswa bukan sekadar interaksi antara orang yang mengajar dan orang yang belajar. Keduanya merupakan bagian dari hubungan sosial yang berlangsung di dalam lembaga pendidikan. Sekolah tidak hanya berfungsi menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk nilai, perilaku, pola pikir, dan cara individu berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, cara guru memperlakukan siswa memiliki arti penting karena pengalaman yang mereka terima di kelas dapat memengaruhi bagaimana mereka memahami kemampuan dirinya dan menempatkan diri dalam lingkungan sosial.

Kedekatan guru dan siswa menjadi penting ketika hubungan tersebut mampu menciptakan suasana belajar yang terbuka. Guru yang bersedia mendengarkan pertanyaan, menghargai perbedaan pendapat, dan memberikan kesempatan untuk mencoba dapat membantu siswa mengembangkan kreativitasnya. Misalnya, ketika siswa menyampaikan pendapat yang berbeda dari buku pelajaran, guru tidak langsung menyalahkannya, tetapi mengajak siswa menjelaskan alasan dan bukti yang mendukung pendapat tersebut. Dalam situasi seperti ini, siswa tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga belajar menyusun argumen, mempertimbangkan sudut pandang lain, dan bertanggung jawab atas pemikirannya sendiri.

Persoalannya, tidak semua hubungan di ruang kelas memberikan kesempatan yang sama. Dalam sistem pendidikan yang terlalu menekankan kepatuhan dan pencapaian nilai, siswa terkadang lebih sibuk menebak jawaban yang diinginkan guru daripada memahami persoalan secara kritis. Guru memang memiliki tanggung jawab mengarahkan pembelajaran, tetapi jika kewenangan tersebut digunakan untuk membatasi pertanyaan dan perbedaan pendapat, kelas dapat berubah menjadi ruang yang menuntut kepatuhan daripada mengembangkan kemampuan berpikir. Padahal, pendidikan seharusnya membantu siswa memahami alasan di balik suatu pengetahuan, bukan sekadar menghafal dan mengulanginya.

Persoalan tentang kedekatan guru dan siswa juga dapat dilihat melalui berita iNews.id mengenai kasus seorang guru perempuan di Tamil Nadu, India, yang diberitakan menikah dengan siswanya yang berusia 17 tahun. Berita tersebut, yang terbit pada 30 Desember 2021, mengangkat hubungan yang disertai persoalan hukum. Kasus ini dapat menjadi titik awal untuk mempertanyakan bagaimana batas hubungan profesional seharusnya dijaga dalam lingkungan pendidikan. Namun, kasus tersebut tidak berarti bahwa setiap kedekatan emosional antara guru dan siswa merupakan sesuatu yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah apakah hubungan tersebut tetap berorientasi pada kepentingan siswa, menghormati batas profesional, dan mempertimbangkan perbedaan posisi antara keduanya.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, perbedaan posisi ini berkaitan dengan relasi kuasa di sekolah. Guru mempunyai otoritas untuk mengajar, memberikan penilaian, menetapkan aturan kelas, dan membimbing siswa. Sementara itu, siswa berada dalam posisi yang menerima penilaian dan arahan tersebut. Hubungan ini tidak selalu bersifat negatif karena otoritas guru diperlukan untuk menjaga proses pembelajaran. Namun, ketika perbedaan posisi tersebut tidak disertai tanggung jawab dan pengawasan yang memadai, kewenangan guru berpotensi digunakan secara tidak semestinya. Karena itu, kedekatan antara guru dan siswa perlu dibangun dengan kesadaran bahwa kepercayaan siswa merupakan tanggung jawab yang harus dijaga, bukan kesempatan untuk mengabaikan batas profesional.

Analisis ini dapat diperkuat melalui pemikiran Pierre Bourdieu mengenai kekuasaan simbolik. Dalam lingkungan pendidikan, guru bukan hanya memiliki kewenangan formal, tetapi juga mempunyai pengaruh karena pengetahuan dan posisinya sering dianggap lebih benar atau lebih berotoritas. Akibatnya, siswa mungkin merasa sulit menyampaikan keberatan atau mempertanyakan tindakan guru. Dalam situasi tertentu, mereka bahkan dapat menganggap perlakuan yang tidak semestinya sebagai sesuatu yang wajar karena dilakukan oleh figur yang dihormati. Pemikiran ini mengingatkan kita bahwa hubungan pendidikan perlu dibangun secara kritis, agar penghormatan terhadap guru tidak berubah menjadi pembenaran terhadap setiap tindakan yang dilakukan guru.

Di sisi lain, interaksionisme simbolik membantu menjelaskan bagaimana hubungan sehari-hari membentuk cara siswa memandang dirinya sendiri. Ketika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk berbicara dan menghargai proses berpikirnya, siswa dapat membangun pemahaman bahwa pendapatnya layak didengar. Sebaliknya, jika siswa terus-menerus diberi label tidak mampu, malas, atau tidak pintar, label tersebut dapat memengaruhi kepercayaan dirinya dan partisipasinya dalam pembelajaran. Dengan demikian, interaksi di kelas bukan hanya soal komunikasi, melainkan juga proses pembentukan identitas sosial. Guru perlu memahami bahwa respons sederhana, seperti mendengarkan pertanyaan atau memberikan kritik tanpa merendahkan, dapat berpengaruh terhadap keberanian siswa untuk berkembang.

Hubungan guru dan siswa juga berkaitan dengan konsep *hidden curriculum* atau kurikulum tersembunyi. Melalui kebiasaan sehari-hari, sekolah mengajarkan nilai yang tidak selalu tertulis dalam dokumen kurikulum. Ketika guru membiasakan diskusi terbuka, siswa belajar menghargai perbedaan dan menyampaikan pendapat dengan alasan yang jelas. Ketika guru memberi ruang untuk bereksperimen, siswa belajar bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Sebaliknya, ketika siswa hanya diminta diam dan mengikuti instruksi, mereka dapat terbiasa menempatkan kepatuhan di atas keberanian berpikir. Dengan kata lain, hubungan sosial di sekolah ikut menentukan nilai apa yang benar-benar dipelajari siswa, bahkan ketika nilai tersebut tidak tercantum dalam buku pelajaran.

Dari sini, terlihat bahwa membangun kedekatan yang sehat tidak cukup dilakukan melalui sikap ramah atau perhatian secara personal. Sekolah juga perlu menciptakan sistem yang mendukung hubungan pendidikan yang aman dan setara dalam penghormatan terhadap hak siswa. Guru membutuhkan pemahaman mengenai etika profesi, batas interaksi, dan tanggung jawab perlindungan siswa. Sementara itu, siswa perlu memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, melaporkan ketidaknyamanan, dan memperoleh bantuan tanpa takut mendapatkan perlakuan yang merugikan. Lingkungan seperti ini memungkinkan kedekatan menjadi bagian dari proses pendidikan, bukan hubungan yang membuat siswa kehilangan rasa aman atau kemandiriannya.

Pada akhirnya, sosiologi pendidikan mengajarkan bahwa proses belajar tidak dapat dipisahkan dari hubungan sosial dan struktur kekuasaan yang ada di sekolah. Kreativitas siswa bukan hanya persoalan bakat individu, tetapi juga berkaitan dengan apakah lingkungan pendidikan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang. Guru memang memiliki peran penting dalam mengarahkan pembelajaran, tetapi peran tersebut seharusnya tidak membuat siswa kehilangan kebebasan untuk berpikir kritis. Kedekatan yang sehat justru membantu siswa menjadi lebih mandiri, berani mempertanyakan sesuatu, dan mampu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.

Pendidikan yang berhasil bukan pendidikan yang membuat siswa selalu bergantung pada gurunya, melainkan pendidikan yang membekali mereka untuk berkembang bahkan ketika tidak lagi berada di bawah arahan guru. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar seberapa dekat hubungan guru dan siswa, tetapi apakah hubungan tersebut membantu siswa tumbuh sebagai individu yang kreatif, kritis, dan mandiri. Sebab, sekolah seharusnya menjadi ruang tempat siswa belajar menggunakan pikirannya sendiri, sekaligus memahami bahwa setiap hubungan sosial membutuhkan tanggung jawab, penghormatan, dan batas yang jelas.