Healing Itu Bukan Liburan Mahal, Tapi Rutinitas yang Lebih Manusiawi

Saya Rasya Farha Nadzira, mahasiswi Universitas Negeri Jakarta dengan program studi Pendidikan Sosiologi. Saya tertarik pada isu-isu sosial, kebijakan publik, dan juga saya tertarik untuk mengangkat persoalan sosial di lingkungan sekitar.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rasya Farha Nadzira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “healing” menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, terutama di media sosial. Banyak orang mengaitkan healing dengan liburan mahal, pergi ke tempat jauh, atau menambah pengalaman baru agar pikiran kembali segar. Namun, jika dilihat dari kacamata sosiologi, khususnya teori "Alienasi" dari Karl Marx, kebutuhan healing sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan perjalanan glamor. Justru, yang dibutuhkan banyak orang adalah rutinitas yang lebih manusiawi rutinitas yang memberi ruang bagi diri sendiri, memungkinkan hubungan sosial yang sehat, dan tidak membuat seseorang merasa terpisah dari makna hidupnya.
Menurut Marx, alienasi terjadi ketika individu merasa terlepas dari hasil pekerjaannya, dari proses yang ia jalani, dari orang-orang di sekitarnya, dan bahkan dari dirinya sendiri. Kondisi ini terlihat jelas pada kehidupan modern: pekerjaan yang melelahkan, jam kerja panjang, tekanan pencapaian, serta tuntutan produktivitas membuat banyak orang merasa hidup hanya sebagai “mesin”, bukan manusia. Ketika realitas keseharian penuh tekanan seperti ini terjadi terus-menerus, muncul dorongan untuk “kabur sejenak” yang lalu dikemas dengan istilah healing. Maka tidak heran jika liburan tampak seperti solusi cepat untuk menambal kelelahan emosional yang menumpuk.
Namun, healing yang dibangun dari logika pelarian hanya memberikan ketenangan sementara. Setelah liburan berakhir, seseorang tetap kembali pada rutinitas yang sama dan terseret lagi dalam siklus kelelahan. Teori alienasi membantu kita memahami bahwa akar masalahnya bukan kurangnya liburan, tetapi rutinitas yang tak memberi ruang bagi seseorang untuk merasa terhubung dengan dirinya dan lingkungannya. Healing menjadi sulit dicapai jika struktur keseharian justru terus memisahkan manusia dari waktu istirahat, interaksi sosial yang sehat, dan kesempatan untuk merasakan makna dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam konteks ini, healing yang sebenarnya justru sederhana: menciptakan keseimbangan dalam hidup. Rutinitas yang manusiawi melibatkan jam kerja yang wajar, waktu istirahat yang teratur, kesempatan berinteraksi tanpa tekanan, serta aktivitas kecil yang menghadirkan ketenangan. Berjalan sore, berbicara dengan teman yang dipercaya, mengelola beban kerja, menata ruang hidup, atau sekadar memberikan waktu untuk diam ini jauh lebih berkelanjutan daripada liburan seminggu yang kemudian hilang bersama kepenatan yang datang kembali.
Jika dilihat dari struktur sosial yang lebih luas, popularitas healing sebagai pelarian menunjukkan bagaimana masyarakat modern menciptakan tekanan yang luar biasa besar. Alih-alih menyalahkan individu karena “kurang kuat”, kita perlu melihat bagaimana sistem kerja, budaya produktivitas, dan ekspektasi sosial berperan menciptakan beban mental. Reformasi kecil dalam rutinitas, baik di tingkat pribadi maupun institusional, bisa memiliki dampak besar pada kesehatan psikososial seseorang.
Healing bukan tentang pergi sejauh mungkin, tetapi menciptakan hidup yang tidak membuat kita ingin terus kabur. Dan untuk itu, yang kita butuhkan bukan liburan mahal melainkan rutinitas yang memanusiakan kita setiap hari.
