Ibu Bukan Satu-Satunya Penentu Keberhasilan Anak di Sekolah

Mahasiswi Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rasya Farha Nadzira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketimpangan sosial ekonomi keluarga memengaruhi kesempatan belajar anak, sehingga keberhasilan pendidikan tidak bisa dibebankan kepada ibu saja.

Menjadi ibu sering kali berarti memikul banyak harapan sekaligus. Ibu diharapkan mampu mengurus rumah, mendampingi anak belajar, memahami perkembangan emosinya, hingga memastikan anak mendapatkan pendidikan terbaik. Ketika anak memperoleh nilai bagus, keberhasilan itu kerap dianggap sebagai bukti keberhasilan orang tua. Sebaliknya, ketika anak mengalami kesulitan belajar, ibu tidak jarang ikut dipertanyakan perannya.
Persoalannya, apakah keberhasilan pendidikan anak memang sepenuhnya bergantung pada kemampuan ibu dalam mendidik dan mendampingi mereka?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat perbedaan kondisi keluarga dalam mendukung pendidikan anak. Ada ibu yang dapat menemani anak mengerjakan pekerjaan rumah, membelikan buku tambahan, dan mendaftarkan anak ke bimbingan belajar. Namun, ada pula ibu yang harus bekerja sepanjang hari, mengurus pekerjaan rumah, dan membagi penghasilan untuk kebutuhan keluarga. Bukan berarti ibu dalam kelompok kedua kurang peduli terhadap pendidikan anak. Bisa jadi, waktu dan sumber daya yang dimilikinya memang lebih terbatas.
Di sinilah persoalan pendidikan perlu dilihat lebih luas. Ketika masyarakat menilai keterlibatan ibu hanya dari seberapa sering ia mendampingi anak belajar, kondisi sosial dan ekonomi keluarga berisiko terabaikan. Padahal, kesempatan seorang ibu untuk mendampingi anak tidak selalu sama dengan ibu lainnya.
Penelitian Kusaeri, Aditomo, Ridho, dan Fuad (2019) yang diterbitkan dalam "Cakrawala Pendidikan" meneliti 2.867 peserta ujian nasional SMA di Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa tingkat pendidikan ibu memiliki kontribusi terhadap prestasi matematika siswa, dengan keterlibatan ibu menjadi salah satu faktor yang menjembatani hubungan tersebut. Namun, penelitian itu juga menemukan bahwa keterlibatan orang tua yang terlalu intens berkaitan dengan prestasi matematika yang lebih rendah. Temuan ini mengingatkan kita bahwa pendampingan orang tua bukan sekadar persoalan seberapa banyak waktu yang diberikan, melainkan juga bagaimana pendampingan tersebut dilakukan.
Sayangnya, pembicaraan tentang pendidikan anak masih sering menempatkan ibu sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Ibu yang bekerja dapat dianggap kurang hadir, sedangkan ibu yang berada di rumah seolah-olah selalu memiliki cukup waktu untuk mendampingi anak. Padahal, pekerjaan domestik, kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, dan dukungan dari anggota keluarga lain turut memengaruhi kemampuan seorang ibu dalam menjalankan perannya.
Fenomena ini dapat dipahami melalui teori reproduksi sosial Pierre Bourdieu. Bourdieu menjelaskan bahwa keluarga memiliki sumber daya yang berbeda, termasuk modal ekonomi, modal budaya, dan modal sosial. Modal ekonomi berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan pendidikan, seperti membeli perangkat belajar atau membayar bimbingan belajar. Modal budaya mencakup pengetahuan, kebiasaan, dan keterampilan yang membantu anak menghadapi tuntutan sekolah. Sementara itu, modal sosial berkaitan dengan jaringan dan hubungan yang dapat memberikan informasi serta dukungan.
Dalam kehidupan keluarga, perbedaan modal tersebut dapat terlihat dari cara orang tua mendampingi pendidikan anak. Ibu yang memiliki pengalaman pendidikan tinggi mungkin lebih mudah memahami materi sekolah atau membantu anak merencanakan pendidikan lanjutan. Ibu yang memiliki jaringan sosial luas mungkin lebih mudah mendapatkan informasi mengenai beasiswa dan pilihan sekolah. Sementara itu, ibu yang memiliki keterbatasan waktu, akses informasi, atau pengalaman pendidikan tetap dapat mendukung anak, tetapi mungkin menghadapi hambatan yang berbeda.
Teori ini bukan berarti latar belakang keluarga menentukan masa depan anak secara mutlak. Justru, teori reproduksi sosial membantu kita memahami mengapa sebagian anak memiliki keuntungan sejak awal, sementara anak lainnya harus menghadapi hambatan tambahan. Jika perbedaan tersebut diabaikan, masyarakat berisiko menyederhanakan persoalan menjadi soal rajin atau tidaknya ibu mendidik anak.
Persoalan ini juga terlihat dalam pembelajaran digital. Ketika sekolah menggunakan platform daring atau memberikan tugas yang membutuhkan internet, keluarga dituntut menyediakan perangkat, koneksi, dan pendampingan. Bagi sebagian keluarga, tuntutan tersebut mungkin tidak terlalu sulit dipenuhi. Namun, bagi keluarga yang harus berbagi satu telepon genggam atau mengatur pengeluaran secara ketat, pembelajaran digital dapat menambah beban.
Badan Pusat Statistik melalui *Statistik Pendidikan 2024* menyajikan gambaran pendidikan Indonesia berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional Maret 2024, termasuk partisipasi sekolah dan kondisi sarana pendidikan. Data semacam ini penting karena persoalan pendidikan tidak cukup dipahami melalui pengalaman satu keluarga saja. Kita perlu melihat bagaimana akses dan kondisi sosial yang berbeda dapat memengaruhi kesempatan belajar anak.
Karena itu, solusi terhadap ketimpangan pendidikan tidak seharusnya berhenti pada imbauan agar ibu lebih aktif mendampingi anak. Sekolah perlu membangun komunikasi yang realistis dengan orang tua, menyediakan bahan belajar yang dapat diakses tanpa koneksi internet, serta memberikan bantuan kepada siswa yang membutuhkan. Guru juga perlu menghindari anggapan bahwa semua anak memperoleh pendampingan yang sama di rumah.
Di tingkat keluarga, tanggung jawab pendidikan perlu dibagi secara lebih adil. Ayah, ibu, dan anggota keluarga lain dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing. Mendampingi anak tidak harus selalu berarti mengajarkan seluruh materi pelajaran. Mendengarkan cerita anak, menanyakan kesulitannya, memberikan dorongan, dan menciptakan suasana yang aman untuk belajar juga merupakan bentuk dukungan yang berarti.
Pada akhirnya, pendidikan anak bukanlah proyek seorang ibu seorang diri. Keberhasilan anak tumbuh dari hubungan antara keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan kebijakan pendidikan. Ibu memang memiliki peran penting, tetapi peran tersebut tidak seharusnya berubah menjadi beban tanpa batas.
Kita perlu berhenti mengukur kepedulian seorang ibu hanya dari berapa lama ia duduk menemani anak belajar atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh anaknya. Pertanyaan yang lebih adil adalah apakah keluarga telah mendapatkan dukungan yang cukup untuk menjalankan peran tersebut.
Sebab, jika pendidikan benar-benar ingin memberikan kesempatan yang lebih setara bagi setiap anak, masyarakat tidak cukup hanya menuntut ibu melakukan lebih banyak. Kita juga perlu membangun lingkungan yang memungkinkan setiap keluarga mendukung pendidikan anak tanpa harus mengorbankan kebutuhan dasar, kesehatan, dan kesejahteraan mereka sendiri.
