Perempuan Berpendidikan, Tetap Dibebani Urusan Rumah

Mahasiswi Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rasya Farha Nadzira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan membuka kesempatan bagi perempuan untuk berkembang, tetapi ketimpangan peran gender masih membuat urusan rumah dianggap sebagai tanggung jawab utama mereka.

Pendidikan sering dipandang sebagai jalan bagi perempuan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Melalui pendidikan tinggi, perempuan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, membangun karier, dan menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun, ada hal yang masih menarik untuk dipertanyakan: mengapa ketika perempuan sudah memiliki pendidikan tinggi, mereka tetap sering diharapkan mengutamakan urusan rumah?
Dalam kehidupan sehari-hari, pembagian peran tersebut sebenarnya sudah diperkenalkan sejak kecil. Anak perempuan lebih sering diminta membantu memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, atau menjaga adik. Sementara itu, anak laki-laki terkadang tidak mendapatkan tuntutan yang sama. Anak perempuan juga kerap diingatkan agar kelak mampu menjadi istri dan ibu yang baik, seolah-olah kemampuan mengurus rumah merupakan bekal utama yang harus mereka miliki. Kebiasaan ini mungkin terlihat biasa, tetapi secara tidak langsung membentuk pandangan tentang apa yang dianggap pantas dilakukan perempuan dan laki-laki.
Dalam sosiologi pendidikan, kondisi tersebut dapat dipahami melalui konsep sosialisasi gender. Keluarga menjadi salah satu lingkungan pertama tempat anak belajar mengenai peran sosial. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil kemudian diperkuat oleh lingkungan sekolah, pergaulan, dan masyarakat. Ketika anak perempuan terus dibiasakan mengerjakan pekerjaan domestik, sedangkan anak laki-laki lebih diberi kebebasan untuk mengejar aktivitas di luar rumah, keduanya belajar memahami peran gender yang berbeda. Masalahnya, kebiasaan tersebut dapat membuat pembagian tanggung jawab yang tidak setara dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Pendidikan memang membuka kesempatan bagi perempuan untuk berkembang, tetapi kesempatan itu tidak selalu mengubah cara masyarakat memandang peran mereka. Seorang mahasiswi, misalnya, harus menyelesaikan tugas kuliah, mengikuti kegiatan organisasi, dan mempersiapkan ujian. Namun, ketika berada di rumah, ia tetap diharapkan membantu berbagai pekerjaan domestik karena dianggap lebih memahami urusan tersebut. Ketika merasa lelah, ia justru diminta lebih pandai membagi waktu. Padahal, persoalannya belum tentu terletak pada kemampuan mengatur waktu, melainkan pada pembagian tanggung jawab yang sejak awal tidak seimbang.
Situasi ini juga dapat dilihat melalui konsep reproduksi sosial, yaitu bagaimana nilai, kebiasaan, dan pola hubungan dalam masyarakat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak perempuan yang sejak kecil terbiasa mengurus rumah dapat tumbuh dengan anggapan bahwa tanggung jawab tersebut memang menjadi kewajibannya. Jika tidak pernah dipertanyakan, pola yang sama berpotensi diteruskan kepada generasi berikutnya. Artinya, ketimpangan gender tidak selalu muncul dalam bentuk larangan bagi perempuan untuk sekolah atau bekerja, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari yang membatasi waktu, tenaga, dan kesempatan mereka untuk berkembang.
Persoalannya bukan apakah perempuan boleh mengurus rumah atau memilih keluarga dibandingkan karier. Setiap perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Yang perlu dikritisi adalah mengapa tanggung jawab domestik masih sering dibebankan lebih besar kepada perempuan, bahkan ketika mereka juga memiliki kewajiban pendidikan maupun pekerjaan. Laki-laki seharusnya tidak hanya dianggap sedang membantu ketika memasak, membersihkan rumah, atau merawat anak. Pekerjaan tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dibagi secara adil.
Pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak hanya memberikan perempuan kesempatan memperoleh gelar atau pekerjaan yang lebih baik, tetapi juga membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran gender. Perempuan berpendidikan tinggi bukan berarti harus mampu menjalankan semua peran sekaligus. Mereka juga berhak memiliki waktu untuk beristirahat, mengembangkan diri, dan mengejar cita-cita tanpa terus dibayangi tuntutan untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga.
Jika pendidikan benar-benar menjadi jalan pembebasan bagi perempuan, perubahan seharusnya tidak berhenti di ruang kelas atau dunia kerja. Perubahan itu juga perlu hadir di dalam rumah, tempat nilai kesetaraan pertama kali dipelajari dan dipraktikkan. Sebab, kesempatan untuk maju belum sepenuhnya berarti kebebasan jika perempuan masih harus menanggung beban yang lebih besar hanya karena mereka terlahir sebagai perempuan.
