Kisah Inspiratif Guru: Dari Seorang Perintis Menjadi Bos Peternakan Kambing

Guru di SMKS Pangeran Wijayakusuma
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Natia Grashella tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu di Jakarta Utara, suasana di SMK Pangeran Wijayakusuma terasa hangat dan penuh makna. Di balik dinding kelas yang sederhana, tersimpan cerita tentang mimpi, keberanian, dan langkah nyata yang perlahan mulai terwujud.
Di hadapan para siswa, Ficky Saputra, S.Kom berdiri bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai contoh hidup dari apa yang ia ajarkan. Di luar kesibukannya di sekolah, ia menjalankan usaha peternakan kambing yang dirintis dari nol, penuh perjuangan dan proses panjang.
Dengan nada suara yang tenang, ia berbagi kisahnya. “Saya tidak ingin siswa hanya memahami wirausaha dari buku. Saya ingin mereka melihat langsung bahwa proses itu nyata—ada jatuh bangunnya, ada perjuangannya, tapi juga ada hasilnya,” ujarnya.
Secara tidak langsung, Bapak Ficky menegaskan bahwa pengalaman yang ia jalani menjadi bagian dari pembelajaran nyata bagi siswa—tentang keberanian memulai, konsistensi, dan tidak mudah menyerah.
Di antara para siswa yang menyimak, ada Gagah Riski Fahrezi, yang tidak hanya terinspirasi, tetapi juga mulai mengambil langkah. Ia kini merintis usaha jamur crispy sebagai bentuk keberanian untuk mencoba sejak masih bersekolah.
Dengan penuh semangat, Gagah menyampaikan pengalamannya. “Melihat langsung guru kami berwirausaha membuat saya yakin untuk mencoba. Dari situ saya mulai usaha jamur crispy, walaupun kecil tapi saya ingin terus berkembang,” tuturnya.
Secara tidak langsung, Gagah menggambarkan bahwa kehadiran guru yang memberi contoh nyata telah membentuk pola pikirnya untuk lebih mandiri dan berani mengambil peluang.
Cerita itu berlanjut hingga para alumni yang kini mulai menapaki jalan mereka sendiri. Salah satunya adalah Yoga Augusto Leonardo, yang kini sukses merintis usaha kedai kopi.
Dengan penuh rasa syukur, Yoga mengenang perjalanan awalnya. “Dulu kami melihat langsung bagaimana guru kami berjuang membangun usaha. Itu yang membuat saya berani membuka kedai kopi sendiri. Awalnya ragu, tapi saya ingat proses yang diajarkan di sekolah,” ungkapnya.
Secara tidak langsung, Yoga menegaskan bahwa pengalaman belajar di sekolah, terutama dari keteladanan guru, menjadi bekal penting dalam perjalanan usahanya hingga saat ini.
Dari kelas, kandang, hingga kedai, kisah ini menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan bukan hanya soal teori, tetapi tentang bagaimana menanamkan keberanian untuk bertindak. Di SMK Pangeran Wijayakusuma, mimpi tidak hanya diajarkan—tetapi juga dicontohkan, dijalani, dan diwujudkan oleh guru, murid, hingga alumninya.
