Konten dari Pengguna

Ketika Kejahatan Memiliki Manajer Investasi

M Natsir Kongah

M Natsir Kongah

Pembelajar Anti Pencucian Uang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Natsir Kongah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pencucian uang. Foto: chalermphon_tiam/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pencucian uang. Foto: chalermphon_tiam/Shutterstock

Apakah uang kehilangan dosa ketika asal-usulnya berhasil dilupakan?

Pertanyaan itu terdengar filosofis. Namun pencucian uang pada dasarnya bekerja untuk menghasilkan keadaan semacam itu. Uang hasil korupsi tidak ingin selamanya bersembunyi. Uang narkotika tidak ingin terus berpindah dari satu rekening gelap ke rekening lain. Uang hasil penipuan pun tidak ingin sepanjang hidup membawa identitas sebagai hasil kejahatan.

Uang haram mempunyai ambisi lebih besar: memiliki masa depan tanpa masa lalu.

Ia ingin menjadi saham, obligasi, properti, perusahaan, atau portofolio investasi. Ia ingin menghasilkan dividen, bunga, dan capital gain. Sampai suatu hari orang hanya melihat kekayaannya dan lupa pada kejahatan yang melahirkannya.

Untuk transformasi seperti itulah pelaku kejahatan dapat membutuhkan profesional.

Koruptor mungkin tahu cara mencuri. Bandar narkoba tahu cara menghasilkan uang ilegal. Penipu tahu cara merampas uang korbannya. Namun mereka belum tentu memahami bagaimana kekayaan dikelola, investasi disusun, perusahaan digunakan, aset dipindahkan, atau modal bergerak melintasi yurisdiksi.

Mereka membutuhkan orang yang memahami bagaimana uang bekerja.

Di sinilah fund manager yang menyimpang dapat menjadi berbahaya.

Ketika kejahatan menjadi klien

Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) menyebut fenomena yang lebih luas ini sebagai Professional Money Laundering (PML). Professional money launderer menyediakan jasa kepada pelaku atau kelompok kriminal untuk mencuci hasil kegiatan ilegal. Bahkan, mereka dapat menyediakan seluruh infrastruktur pencucian uang atau merancang skema khusus sesuai kebutuhan klien.

Perubahan fundamental.

Dahulu, penjahat mencuci uangnya sendiri. Kini, keahlian untuk mencuci uang dapat disediakan pihak lain. Kejahatan menjadi klien. Keahlian menjadi jasa.

Fund manager mempunyai posisi yang khas. Ia terbiasa menerima dan mengelola dana, memilih instrumen investasi, berhubungan dengan bank, broker dan kustodian, serta memahami perusahaan dan pergerakan modal.

Semua itu merupakan aktivitas yang sah.

Persoalan dimulai ketika infrastruktur dan keahlian tersebut sengaja digunakan untuk memberi jarak antara kekayaan dan kejahatan yang melahirkannya.

Dana masuk. Aset dibeli. Investasi dipindahkan. Perusahaan digunakan. Portofolio berubah.

Aset dijual kembali.

Di permukaan, semuanya dapat terlihat seperti kegiatan investasi.

Karena itu, pertanyaan terpenting sering justru berada sebelum transaksi pertama dilakukan:

Dari mana modal awalnya?

Membeli jarak

Pencucian uang sesungguhnya adalah seni menciptakan jarak.

Jarak antara uang dan kejahatan asalnya.

Antara aset dan pemilik sebenarnya.

Antara transaksi dan orang yang akhirnya menikmatinya.

Semakin banyak lapisan yang dilewati uang, semakin sulit sejarahnya dibaca.

Di dunia investasi, transaksi bernilai besar adalah hal biasa. Dana berpindah antarrekening. Aset dibeli dan dijual. Perusahaan khusus digunakan. Modal bergerak lintas negara.

Normalitas itulah yang dapat menjadi kerentanan.

Pencucian uang menyukai tempat di mana uang besar terlihat biasa.

Fund manager yang menyimpang tidak harus membuat uang menghilang. Ia cukup membantu memberinya perjalanan finansial yang dapat dijelaskan.

Uang hasil kejahatan berubah menjadi modal.

Modal menjadi investasi.

Investasi menghasilkan keuntungan.

Keuntungan kembali sebagai kekayaan.

Uangnya tidak hilang.

Yang perlahan hilang adalah ingatan tentang asal-usulnya.

Black Diamond: etika fund menjadi arsitektur

Kasus Black Diamond di Amerika Serikat memberikan gambaran konkret.

Jonathan Davey adalah seorang Certified Public Acountant (CPA) yang menjadi administrator sejumlah hedge fund dalam skema Black Diamond sekaligus mengoperasikan hedge fund miliknya. Menurut bukti di persidangan, skema tersebut menyebabkan lebih dari 400 korban kehilangan lebih dari 40 juta dollar AS. Davey mengendalikan sebagian besar dana dan transfer dalam skema itu serta menampilkan nilai rekening investor yang tidak sesuai kenyataan.

Namun bagian yang paling relevan bagi pencucian uang adalah apa yang dilakukan terhadap hasil kejahatan tersebut. Jaksa membuktikan Davey menggunakan jaringan perusahaan cangkang untuk melakukan pencucian uang. Sebuah perusahaan offshore di Belize digunakan untuk mengalirkan dana menuju pembangunan rumah pribadinya di Ohio. Transaksi itu dibuat seolah-olah sebagai “pinjaman” kepada perusahaan Belize tersebut.

Perhatikan konstruksinya.

Ada hedge fund.

Ada administrator.

Ada rekening.

Ada perusahaan cangkang.

Ada entitas offshore.

Ada transaksi.

Dan akhirnya ada sebuah “pinjaman."

Semua unsur itu mempunyai satu fungsi penting: memberikan cerita mengapa uang berpindah.

Davey akhirnya dinyatakan bersalah, antara lain, atas konspirasi pencucian uang. Beberapa pengelola hedge fund lain dalam jaringan Black Diamond juga mengaku bersalah atau dihukum dalam perkara terkait.

Kasus ini menunjukkan bahwa pencucian uang modern bukan selalu tentang koper berisi uang tunai. Ia dapat bersembunyi di balik bahasa yang sangat terhormat: fund, investment, loan, offshore company, dan portfolio.

Ketika profesionalitas menjadi kamuflase

Kasus James Murray memberikan pelajaran berbeda.

Murray adalah pemilik sekaligus investment adviser Market Neutral Trading LLC, yang dipasarkan sebagai hedge fund. Kepada calon investor, fund tersebut digambarkan memiliki audit independen.

Masalahnya, auditor bernama Jones, Moore & Associates itu ternyata entitas palsu yang dibuat dan dikendalikan sendiri oleh Murray. Angka kinerja fund pun dibesar-besarkan. Investor akhirnya kehilangan lebih dari 2,5 juta dollar AS.

Pada 2015, juri menyatakan Murray bersalah atas 23 tindak pidana, termasuk wire fraud dan transaksi menggunakan properti yang berasal dari tindak pidana. Ia kemudian dihukum 15 tahun penjara.

Murray tidak tepat begitu saja disebut PML dalam pengertian FATF yang melayani klien kriminal. Namun kasusnya memberikan pelajaran penting bagi rezim anti-pencucian uang:

profesionalitas juga dapat dipalsukan untuk memberi legitimasi kepada uang.

Ada fund.

Ada laporan.

Ada angka kinerja.

Ada auditor.

Semuanya tampak profesional.

Padahal yang dibangun adalah ilusi.

Dari KYC menuju sumber kekayaan

Karena itu, Know Your Customer tidak boleh berhenti pada identitas.

Untuk hubungan bisnis berisiko tinggi, pertanyaannya harus bergerak menuju source of funds dan source of wealth.

Dari mana uang berasal?

Bagaimana kekayaan diperoleh?

Apakah jumlahnya masuk akal dibandingkan profil ekonominya?

Siapa beneficial owner sebenarnya?

Mengapa diperlukan perusahaan berlapis?

Mengapa dana harus melewati beberapa yurisdiksi?

Dan pertanyaan yang sering paling sederhana:

Apakah struktur serumit ini benar-benar diperlukan untuk tujuan investasi?

Investor biasa ingin uangnya tumbuh.

Pencuci uang mempunyai kebutuhan tambahan: ia ingin uangnya menjauh dari masa lalu.

Perbedaan itulah yang harus dapat dibaca oleh profesional keuangan dan sistem pengawasan.

Melawan lupa

Tentu, fund manager bukan musuh rezim anti-pencucian uang.

Justru pengelola investasi yang berintegritas merupakan salah satu penjaga sistem keuangan. Indonesia sendiri menempatkan sektor investment management dalam pengawasan AML/CFT sektor keuangan oleh OJK.

Karena itu, yang harus diburu bukan profesinya, melainkan penyalahgunaan keahlian profesionalnya. Fund manager tidak cukup hanya bertanya, “Berapa return yang dapat saya hasilkan?”

Ada pertanyaan yang secara profesional harus datang lebih dahulu:

“Dari mana uang ini berasal?”

Sebab uang hasil korupsi tidak menjadi bersih karena membeli saham. Uang narkotika tidak kehilangan sejarahnya karena menghasilkan dividen. Hasil penipuan tidak menjadi terhormat karena telah melewati perusahaan, fund, dan beberapa negara.

Kejahatan tetaplah kejahatan, sekalipun hasilnya menghasilkan keuntungan.

Pada akhirnya, pertarungan melawan pencucian uang adalah pertarungan melawan lupa.

Pencuci uang tidak selalu perlu membuat uang menghilang. Ia hanya perlu membuat bank, pasar, negara, dan akhirnya masyarakat lupa dari mana kekayaan itu berasal.

Di situlah pencucian uang mencapai kemenangan tertingginya.

Bukan ketika uang haram berhasil disembunyikan, melainkan ketika ia berhasil dihormati sebagai kekayaan.

Sebab uang haram tidak membutuhkan pengampunan dari pengadilan.

Ia hanya membutuhkan dunia yang telah lupa dari mana ia berasal.

Dan ketika seorang profesional membantu menciptakan lupa itu, ia tidak lagi sekadar mengelola investasi. Ia sedang mengelola masa depan sebuah kejahatan.