Bahasa Sunda & Jepang: "Sepupu" Tak Terduga dalam Sopan Santun dan Kosakata

Mahasiswa semester awal Universitas Pamulang, jurusan Teknik Elektro.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhamad Naufal Tanzil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah analisis linguistik dan budaya mengungkap kemiripan yang mengejutkan antara Bahasa Sunda, salah satu kekayaan budaya Nusantara, dan Bahasa Jepang. Dua bahasa yang berasal dari rumpun berbeda ini ternyata memiliki paralelisme kuat, terutama dalam sistem kesopanan bertingkat dan sejumlah kosakata yang nyaris serupa. Fenomena ini tidak hanya menarik secara akademis, tetapi juga menjadi jembatan pemahaman budaya yang unik antara Indonesia dan Jepang.
Harmoni dalam Tingkatan Bahasa
Kemiripan paling mendasar terletak pada filosofi berbahasa. Bahasa Sunda memiliki sistem undak-usuk basa yang sangat kompleks, membedakan penggunaan kata berdasarkan keakraban, usia, dan status lawan bicara. Sistem ini secara mencolok sejalan dengan keigo (bahasa hormat) dalam Bahasa Jepang, yang juga memiliki lapisan sonkeigo (bahasa hormat), kenjōgo (bahasa merendah), dan teineigo (bahasa sopan).
"Struktur hierarki sosial yang tercermin dalam bahasa ini sangat mirip. Itulah mengapa penutur Sunda seringkali memiliki 'rasa bahasa' atau intuisi yang lebih selaras ketika mempelajari keigo Jepang dibandingkan penutur bahasa Indonesia lainnya," jelas Profesor Ninuk Moriyama, antropolog dan ahli budaya Indonesia dari Universitas Osaka, dalam sebuah wawancara. Menurutnya, keselarasan ini lebih bersifat kultural daripada linguistik, mencerminkan masyarakat yang sangat menghargai tata krama dan penghormatan.
Kata-Kata "Kembar" dengan Makna Berbeda
Selain keselarasan filosofis, hubungan unik kedua bahasa ini juga muncul dalam serangkaian kosakata homofon—kata-kata "kembar" yang bunyinya nyaris identik tetapi maknanya berbeda, menciptakan momen "kejut budaya" yang kerap menggelitik. Misalnya, kata "sora" yang bagi telinga orang Sunda berarti "suara", bagi orang Jepang justru merujuk pada "langit". Demikian pula, panggilan akrab "kami" yang dalam Sunda berarti "kita" (informal), dalam bahasa Jepang justru bermakna "rambut" atau "dewa". Kata "aki" menemukan titik temu yang lucu: di kedua bahasa, kata ini bisa merujuk pada "kakek", tetapi khusus dalam bahasa Jepang, ia juga berarti "musim gugur". Contoh menarik lain adalah "sato", yang secara ajaib memiliki arti yang sama, yaitu "binatang" atau "hewan", di kedua bahasa. Namun, tidak semua kemiripan berakhir dengan kesepakatan. Kata "neko" yang dalam bahasa Jepang berarti "kucing", dalam Bahasa Sunda justru muncul dalam bentuk reduplikasi "neko-neko" yang berarti perilaku yang aneh-aneh atau banyak tingkah. Keberadaan kata-kata kembar ini, meski secara linguistik murni kebetulan fonetis (fortuitous resemblance), justru menjadi bumbu menarik yang kerap memicu rasa penasaran dan senyum pengakuan di antara para penutur atau pembelajar dari kedua budaya.
"Punten" dan "Sumimasen": Kunci Kesopanan
Dalam praktik sehari-hari, kesamaan filosofi terasa dalam ungkapan kesopanan. Kata "Punten" dalam Sunda memiliki fungsi sosial yang mirip dengan "Sumimasen" dalam Jepang. Keduanya adalah kata serba guna untuk meminta maaf, meminta permisi, menarik perhatian, atau mengawali pertanyaan, berfungsi sebagai pelunak interaksi dan penanda kerendahan hati.
"Penggunaan punten dan sumimasen menunjukkan bahwa dalam kedua budaya, kesadaran untuk tidak mengganggu dan menghormati ruang orang lain sangat diutamakan. Ini adalah cerminan nilai tepo seliro dalam budaya Jawa-Sunda dan omotenashi dalam budaya Jepang," tambah Prof. Moriyama.
Konvergensi Budaya, Bukan Kekerabatan Linguistik
Para ahli menekankan bahwa kemiripan ini bukan bukti keterkaitan genealogis bahasa. Bahasa Sunda termasuk rumpun Austronesia, sementara Bahasa Jepang dianggap bahasa isolat dengan hubungan yang belum jelas. Kemiripan yang terjadi lebih merupakan konvergensi budaya—dua peradaban yang berkembang secara terpisah namun menemukan solusi linguistik yang serupa untuk mengatur dinamika sosial yang hierarkis dan penuh tata krama.
Temuan ini memperkaya khazanah pengetahuan tentang Bahasa Sunda, tidak hanya sebagai identitas regional, tetapi juga sebagai subjek kajian linguistik dunia yang menarik. Bagi masyarakat Sunda, kemiripan ini bisa menjadi pintu masuk yang lebih mudah untuk mendalami Bahasa Jepang, sekaligus kebanggaan akan kedalaman dan kompleksitas bahasanya sendiri. Bagi dunia luas, ini adalah pengingat bahwa nilai-nilai universal seperti penghormatan dan kesopanan dapat terwujud dalam pola-pola bahasa yang serupa, meski dipisahkan oleh lautan dan sejarah.
