Buzzer dan Media Sosial: Antara Kebebasan dan Manipulasi

Naufal Al Rafsanjani
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirayasa. Antusias dalam mengamati fenomena sosial yang berkaitan dengan kebahasaan, politik dan kebijakan publik.
Konten dari Pengguna
25 Mei 2023 18:06 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Naufal Al Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Buzzer. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Buzzer. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Cara kita berkomunikasi terus berevolusi seiring dengan hadirnya platform media sosial yang belakangan semakin variatif. Media sosial populer seperti halnya Twitter, Facebook, Instagram, hingga TikTok memiliki miliaran pengguna yang tersebar di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data yang dirilis We Are Social Hootsuite, jumlah pengguna media sosial di seluruh dunia pada Januari 2023 lalu, tercatat sebanyak 4,76 miliar pengguna. Jumlah yang fantastis, karena itu artinya jumlah tersebut setara dengan 59,4 persen dari total populasi dunia saat ini.
Data tersebut memberikan kita hipotesis, bahwa keterlibatan media sosial di dalam kehidupan masa kini sangatlah erat. Namun di samping itu, basis pengguna yang banyak itulah yang pada akhirnya melahirkan suatu istilah campaign yang pengguna media sosial menyebutkan dengan istilah "buzzer".

Fenomena Buzzer di Media Sosial

Ilustrasi Buzzer Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Istilah buzzer sendiri berdasarkan penelitian CIPG lahir bersamaan dengan munculnya Twitter pada tahun 2009. Sebetulnya istilah buzzer ini merujuk pada suatu individu maupun kelompok tertentu yang dibayar guna memanfaatkan akun media sosialnya untuk mempromosikan barang maupun jasa secara masif di berbagai media sosial yang mereka miliki untuk mendapatkan konversi penjualan, menarik minat pengikut, hingga membuat konten populer/viral.
ADVERTISEMENT
Namun belakangan istilah buzzer kerap dilekatkan pada agenda-agenda politik di media sosial. Di permukaan, buzzer tampak menjadi alat yang tidak berbahaya dan bahkan berguna untuk bisnis dan organisasi yang ingin meningkatkan visibilitas dan jangkauan mereka di media sosial.  Namun, di saat yang sama kehadiran mereka juga yang justru potensial membuat iklim konten di media sosial yang tidak sehat.
Salah satu hal yang paling sering dilakukan ialah, mereka (buzzer) sering membuat konten dengan mengabaikan unsur autentik dan verifikasi, karena semata-mata konten tersebut dibuat hanya untuk menghasilkan like and share.
Konten tersebut bisa berisikan informasi yang menyesatkan, dibesar-besarkan, atau bahkan memang keliru sedari awal, yang kemudian menjadikan media sosial sebagai platform yang mestinya dapat digunakan sebagai tempat berbagi segala informasi secara cepat dan efektif mendapatkan skor kepercayaan terhadap konten yang rendah, dan lebih bahayanya lagi adalah jika pengguna bahkan tidak menyadari bahwa persepsinya telah diperdaya oleh hal yang keliru.
ADVERTISEMENT
Selain itu, prevalensi buzzer dapat menciptakan keuntungan yang tidak adil bagi mereka yang memiliki sumber daya untuk mempekerjakan mereka (buzzer). Semakin banyak modal yang disiapkan untuk buzzer, maka semakin masif dampak dan pengaruhnya di media sosial.
Karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa buzzer-buzzer tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh oknum untuk melakukan penyebaran berita bohong, atau informasi yang keliru di media sosial.
Para Buzzer tersebut sering digunakan untuk menciptakan suatu framing, maupun propaganda di media sosial dengan dengan sejumlah agenda khusus, dan potensial dapat menyajikan kegaduhan yang berujung pada pengaruhnya terhadap kendali persepsi publik.
Dengan begitu banyak individu maupun kelompok tertentu yang berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian dan keterlibatan, sehingga pengguna lain yang ter-influence dengan tindakan/informasi tersebut akan terjebak pada perspektif dan debat kusir dan kesulitan dalam membedakan mana yang benar dan mana yang tidak.
ADVERTISEMENT
Media sosial menjadi bising imbas kekacauan yang dihadirkan, sehingga energi pengguna atas harapan untuk melihat konten-konten yang bermakna justru tertutupi dengan perdebatan-perdebatan yang tidak tau arah dan jluntrungan-nya, membawa narasi atas kefanatikan bahkan tak jarang yang justru saling serang sama lain.

Upaya Menangani Manipulasi Buzzer

Ilustrasi buzzer. Foto: Shutter Stock
Maka langkah yang bisa kita lakukan sebagai pengguna media sosial dalam menghadapi situasi semacam ini adalah, platform media sosial perlu meningkatkan upaya mereka dalam mengidentifikasi dan menghapus akun palsu dan bot yang sering digunakan oleh buzzer untuk meningkatkan metrik keterlibatan mereka secara artifisial.
Salah satu caranya adalah dengan menerapkan proses verifikasi yang lebih kuat dan menggunakan algoritma yang lebih mutakhir untuk mendeteksi aktivitas yang mencurigakan, sehingga platform media sosial dapat menciptakan ruang digital yang kondusif bagi para pengguna.
ADVERTISEMENT
Bahkan jika perlu, platform media sosial juga bisa bekerja sama dengan organisasi pemeriksa fakta independen maupun juga lembaga milik pemerintah yang terkait untuk mengidentifikasi dan menandai konten yang salah atau menyesatkan.  
Dengan bermitra dengan organisasi terkemuka yang mampu membantu dan melakukan pengecekan fakta, platform media sosial dapat memberikan informasi yang lebih akurat kepada pengguna dan mengurangi dampak buzzer yang mungkin menyebarkan informasi palsu.
Dan yang tak kalah penting adalah pengguna media sosial sendiri juga perlu mengambil peran dalam memerangi manipulasi negatif dari adanya buzzer ini. Sebab, biar bagaimanapun langkah-langkah di atas memerlukan partisipasi pengguna dalam mendukung dan menciptakan ruang digital yang kondusif.
Caranya yaitu dengan melaporkan segala bentuk aktivitas yang mencurigakan  atau tidak autentik ke platform yang digunakan, untuk dapat membantu mengidentifikasi dan menghapus konten negatif yang dihadirkan oleh para buzzer.
ADVERTISEMENT
Ketika setiap orang memiliki akses untuk menyebarkan informasi, maka penting bagi pengguna media sosial untuk melakukan verifikasi informasi, apakah konten tersebut sesuai dengan kenyataan, atau hanya sekadar clikbait yang potensial menciptakan kegaduhan.