Hidup Dalam Kata: Cerita yang Penuh Warna

Seorang pendidik yang antusias dalam mengamati fenomena sosial yang berkaitan dengan kebahasaan, politik dan kebijakan publik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Naufal Al Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buku harian itu kubuka pelan, halamannya berderak seperti sendi tua. Kertasnya menguning, bau debu dan kenangan menyengat di udara lembap kamar.
Hari ini kamu bertambah usia, suatu hal yang hanya tercatat di sini, di antara coretan tinta biru dan noda kopi yang membeku sejak satu musim lalu. Kamu, tokoh utamaku yang lahir dari keheningan jam 3 pagi ketika semua berkelana merayapi alam mimpi.

Kamu muncul pertama kali di halaman dua pulih satu. Saat itu pena kugetarkan gemetar, meragukan setiap kata.
Tapi kamu datang dengan blouse merah jambu diiringi senyum manismu, mendorongku menuliskan kalimat pertama: "Langit malam itu indah, dipenuhi bintang, juga bulan yang dilapisi awan".
Sejak itu, kamu tumbuh dalam lekuk huruf-hurufku. Rambutmu yang menjuntai menjadi sarang gagasan, matamu yang berbinar memantulkan cahaya lilin di mejaku. Kamu bukan tokoh, kamu adalah nafas yang kutembuskan ke dalam kertas. Getaran denyut nadi yang berdetak seirama denganku.
Sejak satu tahun setia menemani. Ketika aku terjebak dalam kebuntuan, kamu duduk di sudut halaman buku ini, menyilangkan kaki seolah berkata, "Apakah ceritamu telah usai? Mungkinkah sudah saatnya kita mulai memikirkan kata pada lembar yang baru?"
Kamu yang berani kuberi luka, kamu yang kupercaya memikul duka yang tak sanggup kuungkapkan. Dialog-dialog pedasmu adalah teriakanku yang terpendam. Perlawananmu pada antagonis adalah pemberontakanku pada rutinitas yang membunuh.
Maka pagi ini, kusiapkan hadiah untukmu. Bukan puisi, bukan novel baru. Tapi sepucuk surat yang kutulis dengan tinta emas. Pada halaman terakhir buku ini.
Kujahit setiap kata seperti menjahit luka: "Terima kasih telah menjadi ruang aminku. Setiap pelurumu adalah darahku yang terciprat. Setiap langkahmu adalah keberanian yang kupinjam..."
Kututup buku itu. Kuhidupkan lilin kecil di sampingnya. Api itu menari, memantulkan bayangan wajahmu di dinding kayu. Untuk sesaat, kudengar derak blouse merah jambu saat kamu membalikkan badan, menatap ke arah ku. "Cerita kita masih panjang kan?," bisikmu tanpa suara, "Halaman baru menunggu."
Dan ketika senja tiba, kunyanyikan doa-doa kecil untuk kita: "Semoga di setiap musim yang bergulir, saat hujan kata-kata menyepi atau ketika badai konflik mengoyak plot, kita tetap saling menemukan jalan pulang ke halaman-halaman ini."
"Aku tak butuh keabadian. Cukup kamu setia menyambangi buku harian usang ini, menyentuh bahu saat aku ragu, dan berbisik, “semua akan indah jika bersamamu”.
"Bersamamu, aku belajar, hidup bukan tentang akhir yang sempurna, tapi keberanian menulis ulang setiap kehancuran menjadi awal baru."
"Kelak, ketika tangan ini gemetar dan mata buram, biarlah debu-debu kata kita menjadi bintang yang tetap menyala. Menjadi saksi bahwa dua jiwa yang berbeda jarak dan waktu bisa abadi dalam satu cerita."
*****
Esoknya, kubuka buku harian itu lagi. Kau masih di sana,sedikit lebih dewasa, sedikit lelah, tapi matamu masih menyala seperti bara. Dan pena pun menari lagi, ditemani debu-debu kata yang setia menemani. Terima kasih, ku ucapkan dalam hati.
