Konten dari Pengguna

Paradoks Media Sosial: Ketika Teknologi Menciptakan Jarak di Tengah Konektivitas

Naufal Al Rafsanjani

Naufal Al Rafsanjani

Seorang pendidik yang antusias dalam mengamati fenomena sosial yang berkaitan dengan kebahasaan, politik dan kebijakan publik.

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naufal Al Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Media Sosial. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Media Sosial. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Hidup di era digital membawa pengaruh yang cukup signifikan terhadap pola kebiasaan manusia, dapat terlihat saat ini bahwa manusia menganggap media sosial merupakan bagian integral dalam hidupnya. Manusia candu dalam menggunakannya, entah apakah untuk kepentingan komunikasi dengan keluarga maupun juga teman, kemudian juga diperuntukkan untuk mendapatkan update sekaitan dengan informasi terkini, bahkan adapula yang menggunakannya sebagai media promosi barang dan jasa. Hal-hal tersebut dapat kita akses dan nikmati di lebih dari ratusan platform yang melabeli dirinya sebagai platform media sosial.

Platform tersebut merevolusi kebiasaan kita dalam berinteraksi, kita semua dapat merasakan manfaatnya, bahwa komunikasi dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun dengan syarat perangkat kita terhubung koneksi internet.

Namun sebetulnya teknologi tersebut juga menciptakan sebuah situasi paradoks. Kita memang menjadi lebih mudah terhubung satu sama lain, namun di lain sisi momen kebersamaan bisa saja menjadi memudar, karena pertemuan seolah dapat terwakili dengan hanya mengirim sejumlah baris pesan, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan pembicaraan dapat terwakilkan dengan teknologi yang diistilahkan sebagai video call dan meeting online.

Media sosial memang dirancang untuk meningkatkan komunikasi dan menciptakan rasa kebersamaan. Platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok bahkan Whatsapp seharusnya menjadi alat yang dapat digunakan untuk pemberdayaan, perubahan sosial, dan demokratisasi informasi. Namun, juga memiliki konsekuensi yang tidak kita inginkan dan telah menyebabkan paradoks yang potensial memengaruhi prinsip-prinsip yang substansial dalam hidup.

Salah satu paradoks media sosial yang paling signifikan adalah rasa isolasi dan keterputusan, imbas dari pertemuan yang seolah dapat terwakili oleh kemutakhiran teknologi.

Meskipun platform media sosial mampu mempermudah aspek komunikasi bahkan dengan pengguna dari belahan dunia mana pun, di saat yang sama hal itu juga menyebabkan situasi di mana muncul sebuah kecenderungan untuk berinteraksi dengan layar daripada membuat jadwal pertemuan.

Ilustrasi dampak media sosial. Foto: SrideeStudio/Shutterstock

Terlepas dari kemampuan untuk terhubung dengan orang lain secara instan, media sosial telah menciptakan rasa kedekatan palsu yang sebenarnya dapat menyebabkan kurangnya keintiman sejati dan hubungan yang bermakna.

Paradoks lain yang tak kalah penting adalah penyebaran informasi hoaks maupun palsu. Kita mengetahui bahwa platform media sosial dirancang untuk mendemokratisasi informasi dan memberikan suara kepada semua orang, tanpa terkecuali.

Namun hal ini yang kemudian menjadi celah platform media sosial menjadi wadah yang menimbulkan situasi di mana setiap pengguna dapat berbagi apa pun tanpa memperhatikan keakuratan atau kebenaran atas informasi. Hal ini menyebabkan meluasnya konten berbahaya atau menyesatkan, yang dapat menimbulkan konsekuensi serius di dunia nyata, seperti halnya konten ujaran kebencian yang masih banyak ditemukan dan melenggang bebas di berbagai kanal media sosial.

Media sosial juga telah menciptakan ruang gema dan gelembung penyaring, yang dapat merusak wacana demokrasi dan kemajuan sosial. Algoritma yang digunakan oleh platform media sosial dirancang untuk menunjukkan konten pengguna yang kemungkinan besar akan mereka ikuti dan setujui (karena di dalam dunia digital, jejak kita akan selalu terpantau), yang dapat mengarah pada siklus penguatan diri dari perspektif yang sempit dan terbatas. Ini dapat menciptakan situasi di mana orang menjadi lebih mengakar dalam keyakinan mereka sendiri dan kurang terbuka terhadap sudut pandang yang berlawanan.

Alhasil media sosial yang mulanya dirancang atas semangat menciptakan konektivitas, pada akhirnya memunculkan sebuah disparitas sosial, yang kemudian menjadi ihwal lahirnya fenomena cyberbullying, pelecehan, dan pembungkaman suara-suara yang terpinggirkan.

Maka hal penting yang mesti kita garis bawahi sedari sekarang ialah, kita harus menyadari bahwa media sosial meski dirancang untuk mendekatkan antar manusia satu sama lain, mempermudah cara dalam berkomunikasi, ternyata juga memiliki konsekuensi yang patut diperhitungkan, yakni terciptanya jarak antar sosial yang menjadi cikal bakal memunculkan sebuah perpecahan antara individu maupun kelompok. Dalam paradoks ini kita menyoroti ketegangan antara efek positif dan negatif dari teknologi dan relasinya terhadap hubungan sosial dan komunikasi.

Sekali lagi, meskipun media sosial berpotensi menyatukan para penggunanya dan mampu menciptakan perubahan sosial yang positif, namun juga potensial melanggengkan perilaku berbahaya pengguna dan memperkuat ketidaksetaraan yang ada. Maka penting bagi kita sebagai pengguna untuk mengambil peran bijak dalam bermedia sosial, karena biar bagaimanapun dalam menyambut setiap kemajuan akan suatu hal, mesti juga diiringi oleh tanggung jawab moral.

***

Berikan saya masukan dengan cara tuliskan argumen kalian mengenai artikel ini, mari berdiskusi sebagai langkah dalam memperoleh wawasan yang mencerdaskan.