Jalan-Jalan Sejarah: Akrabkan Kalangan Awam dengan Sejarah

Naufal Al-Zahra
Pegiat sejarah, pendidik, dan penulis paruh waktu
Konten dari Pengguna
15 Mei 2024 18:16 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Naufal Al-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kelompok 3 Proyek Kepemimpinan PPG Prajabatan Unsil Bidang Studi Sejarah bersama anak-anak binaan Yayasan Rumah Harapan Kita (RHK) berfoto bersama. (Sumber: Dok. Panitia)
zoom-in-whitePerbesar
Kelompok 3 Proyek Kepemimpinan PPG Prajabatan Unsil Bidang Studi Sejarah bersama anak-anak binaan Yayasan Rumah Harapan Kita (RHK) berfoto bersama. (Sumber: Dok. Panitia)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Belajar sejarah tampaknya cenderung membosankan bagi kalangan awam yang belum terbiasa membaca dan merekonstruksi imajinasi lintas zaman. Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu manusia yang didokumentasikan melalui tulisan.
ADVERTISEMENT
Bagi orang-orang yang tidak terbiasa membaca, mempelajari sejarah akan terasa sangat sulit. Sejarah selalu identik dengan uraian mengenai peristiwa masa lampau yang terabadikan dalam buku-buku “kelas berat” dan berdimensi tebal. Sehingga, dianggap kurang friendly bagi kalangan awam yang hanya mampu menangkap makna teks di permukaan saja.
Padahal sejarah selalu menyimpan makna inspirasi dan edukasi. Cicero, seorang filsuf besar dari Romawi pernah berkata, “historia vitae magistra” yang maknanya adalah “sejarah adalah guru kehidupan. Akan tetapi, dalam kenyataannya tidak semua orang bersedia berguru pada sejarah jika untuk memahaminya saja perlu membaca isi buku yang berat dan tebal.
Setidaknya terdapat tiga fungsi ilmu sejarah bagi manusia yaitu 1) inspirasi, 2) edukasi, dan 3) rekreasi. Aktualisasi fungsi inspirasi dan edukasi dalam literasi sejarah memang sulit untuk dipisahkan. Sementara, fungsi rekreasi seringkali jarang untuk digarap. Minimnya situs-situs bersejarah yang tersedia di suatu wilayah terkadang menjadi kendala aktualisasi fungsi rekreasi dalam literasi sejarah.
ADVERTISEMENT
Kota Tasikmalaya sebagai wilayah yang terletak di Jawa Barat memiliki potensi situs bersejarah yang cukup besar. Sayang, hingga hari ini, belum ada pihak yang secara serius mengakrabkan masyarakat dengan kekayaan sejarahnya.
Merintis sebuah jalan baru untuk meningkatkan literasi sejarah lokal di Tasikmalaya, Kelompok 3 Proyek Kepemimpinan (PK) PPG Prajabatan Unsil 2023 menuai apresiasi setelah mengenalkan sejarah lokal kepada anak-anak di Tasikmalaya dalam program Jalan-Jalan Sejarah (JJS) menggunakan bis pariwisata Ngulisik dan Galunggung pada Minggu siang, 12 Mei 2024.
Ide pelaksanaan JJS dicetuskan oleh 7 orang mahasiswa PPG Prajabatan Unsil 2023 dari bidang studi sejarah yang mempunyai kepedulian terhadap literasi sejarah lokal anak-anak di Tasikmalaya.
Mengajak anak-anak interaktif dalam mengenalkan sejarah Kota Tasikmalata. (Sumber: Dok. Panitia)
Mahasiswa yang dimaksud yaitu Wijayavikra Noer Soedrajat, Naufal Al-Zahra, Pipin Fahrul Aiman, Vebyanti Azzahra, Risma Rosadi, Rifani Zahra, dan Tamara Dewi Ramadhani. Mahasiswa sebanyak ini dibimbing oleh Dosen Prodi Sejarah Unsil yaitu Miftahul Habib Fachrurozi, M.Pd
ADVERTISEMENT
"Tasikmalaya merupakan kota yang bersejarah. Sayangnya, anak-anak di Tasik sekarang ini kebanyakan belum atau bahkan tidak mengenal sejarah tempat tinggalnya sendiri", tutur Wijayavikra, selaku ketua kelompok.
Pelaksanaan JJS turut menggandeng dua instansi yaitu Yayasan Rumah Harapan Kita (RHK) bersama unit relawannya Pemuda Penggerak Tasikmalaya (Pager Asik) dan pengelola bis pariwisata Ngulisik dan Galunggung.
Yayasan RHK sebagai salah satu lembaga filantropi populer yang memiliki anak binaan di beberapa kecamatan Kota Tasikmalaya, mengikutsertakan 25 orang anak bersama dengan relawannya pada program JJS. Bis pariwisata Ngulisik dan Galunggung menjadi moda transportasi yang dipercaya untuk menemani perjalanan anak-anak dalam program JJS.
Bertolak dari TMP Kusumah Bangsa pada pukul 10 pagi, peserta JJS mengunjungi 8 situs bersejarah di Tasikmalaya yakni Masjid Agung Tasikmalaya, Taman Kota Tasikmalaya, Tugu Asmaul Husna, Lanud Wiriadinata, Tugu Koperasi, Stasiun Tasikmalaya, Pendopo Tasikmalaya, dan Alun-Alun Tasikmalaya.
ADVERTISEMENT
Sebagai peserta JJS, anak-anak binaan RHK bersama relawan Pager Asik larut dalam suasana riang gembira dalam bis Ngulisik dan Galunggung. Sepanjang perjalanan mereka melihat suasana perkotaan dan situs-situs bersejarah di Tasikmalaya.
Untuk memastikan supaya sasaran mengenal dan mengingat situs bersejarah di Kota Tasikmalaya, Kelompok 3 PK Bidang Studi Sejarah memberikan selembar asesmen sederhana untuk setiap anak binaan Yayasan RHK yang berpartisipasi dalam program JJS.
Anak-anak binaan merasa senang setelah mengikuti rangkaian JJS menggunakan bis Ngulisik dan Galunggung. (Sumber: Dok. Panitia)
Lilis Suharoh, selaku Pembina Yayasan RHK turut berpartisipasi dalam program JJS bersama 25 orang anak dan relawan Pager Asik. Ia tidak menutupi perasaan senangnya setelah mengikuti JJS. Ia mengapresiasi pelaksanaan program yang diinisiasi oleh Kelompok 3 PK Bidang Studi Sejarah ini.
"Jujur, seumur-umur di Tasik, baru kali ini tahu sejarah kongres koperasi pertama yang dilaksanakan di Tasik. Padahal ibu hampir tiap hari lewat Tugu Koperasi. Program ini bagus banget, harus dikembangkan ya," katanya setelah pelaksanaan JJS selesai.
ADVERTISEMENT
Hal senada disampaikan oleh Nizar Sohib Akbar, Ketua Divisi Beri Senyuman Yayasan RHK. Ia mengapresiasi segala usaha panitia Kelompok 3 PK Bidang Studi Sejarah seraya berharap kerja sama antara PPG Prajabatan dengan Yayasan RHL tidak berakhir di program JJS.
"Saya berterima kasih, senang sekali, bisa bekerja sama dengan PPG Prajab Unsil. Mudah-mudahan kolaborasi ini tidak jadi yang pertama dan terakhir", tutur Nizar.
Serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Kelompok 3 PK Bidang Studi Sejarah Unsil ini merupakan terobosan yang perlu digarap serius oleh para pemerhati maupun peminat sejarah dan kebudayaan.
Literasi sejarah adalah hal yang semestinya dimiliki oleh setiap orang Tasikmalaya. Hal ini senafas dengan amanat filosofis leluhur orang-orang Tasikmalaya dalam Naskah Amanat Galunggung, yaitu, “hana nguni hana mangke. Tan hana nguni tan hana mangke. Aya ma baheula hanteu tu ayeuna” yang maknanya, “Ada dahulu ada sekarang. Tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang.” Pepatah singkat ini seakan ingin mengingatkan kepada orang-orang Tasikmalaya agar senantiasa belajar dari sejarah. Jas merah!
ADVERTISEMENT