Senjata Memori: Bagaimana Cina Membingkai Jepang sebagai Musuh Abadi

Mahasiswa Universitas Sriwijaya Jurusan Hubungan Internasional
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Naufal Ashrop tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketegangan di antara Cina dan juga Jepang saat ini telah berubah dari persaingan militer menjadi perang terkait status Taiwan dan konsep Indo-Pasifik yang bebas. Di ruang internasional, isu geopolitik yang rumit sengaja disederhanakan menjadi narasi "yang baik melawan yang jahat" untuk memojokkan pihak lawan. Dengan menggunakan propaganda, terutama Pinpointing the Enemy, satu pihak dapat menekan lawan terutama di era digital seperti sekarang. Sayangnya, penggunaan taktik propaganda tersebut justru menghambat jalur negosiasi dan merusak stabilitas keamanan di kawasan Asia-Pasifik.
Propaganda Pinpointing the Enemy sendiri bekerja melalui manipulasi sejarah di masa lalu. Dalam isu di Selat Taiwan, Cina, yang menyebarkan propaganda tidak lagi mengkritik kebijakan lawan secara objektif atau masuk akal. Sebaliknya, mereka sengaja membentuk opini publik agar memandang Jepang sebagai satu-satunya musuh utama yang harus dilawan di kawasan tersebut.
Setiap upaya diplomatik atau kebijakan pertahanan Jepang yang sebenarnya bertujuan untuk menjaga keamanan Taiwan dan kerja sama kawasan, selalu diputar oleh media pemerintah lawan. Mereka sengaja menganggap langkah tersebut sebagai bangkitnya kembali militerisme kejam seperti pada era Perang Dunia II. Dengan mengabaikan alasan logis di balik kebijakan pertahanan Jepang saat ini, narasi tersebut sengaja mengungkit kembali trauma masa lalu dan kejahatan perang untuk memicu kemarahan publik di kawasan Asia.
Strategi ini sengaja dibuat untuk membungkam perdebatan di media sosial. Dengan menggambarkan lawan sebagai "ancaman lama yang bangkit kembali", pemerintah dapat memicu kemarahan emosional masyarakatnya. Hal ini sendiri dilakukan agar rakyat memberikan dukungan penuh tanpa keraguan terhadap kebijakan luar negeri pemerintah yang keras dan agresif. Selain itu, propaganda ini digunakan untuk menakut-nakuti negara lain di kawasan Indo-Pasifik. Tujuannya bukan hanya untuk menjatuhkan posisi diplomasi Jepang, tetapi juga untuk memberikan peringatan keras kepada negara-negara tetangga agar mereka tidak berani ikut campur atau berpihak kepada Jepang dalam perang narasi tersebut.
Strategi yang dilakukan Cina ini juga menyudutkan Jepang dan hubungannya dengan Taiwan sebagai penyebab utama kekacauan di kawasan, sekaligus menjadi ancaman terselubung bagi negara-negara ASEAN. Melalui propaganda ini, pesan yang disampaikan sudah jelas: negara mana pun yang bekerja sama dengan Jepang dalam urusan keamanan akan langsung dianggap sebagai sekutu musuh.
Situasi ini pada akhirnya membuat negara-negara berkembang di Asia Tenggara berada dalam pilihan yang sulit. Padahal, kerja sama ekonomi dan investasi dari Jepang bertujuan untuk kemajuan bersama di kawasan. Namun, propaganda tersebut sengaja memutar niat Jepang dan menggambarkannya sebagai upaya untuk menguasai wilayah. Akibatnya, negara-negara lain terpaksa membatasi hubungan diplomatik mereka dengan Jepang hanya karena takut terkena sanksi atau balasan politik dari Cina.
Dampak paling parah dari propaganda ini adalah rusaknya peluang perdamaian jangka panjang. Ketika sebuah negara terus-menerus dicap sebagai musuh melalui serangan narasi, ruang untuk negosiasi dan menurunkan ketegangan secara objektif menjadi tertutup. Upaya diplomasi yang biasanya mengutamakan kompromi dan kepentingan bersama kini tidak bekerja. Hubungan antara Cina-Jepang serta krisis Taiwan akhirnya terjebak dalam ketegangan yang tidak ada ujungnya. Ironisnya, kebijakan luar negeri yang seharusnya dipikirkan secara logis kini justru rusak, karena pemerintah mereka sendiri terjebak oleh mesin yang awalnya hanya dibuat untuk menekan lawan.
Memanipulasi sejarah, upaya menakut-nakuti negara lain, dan hilangnya akal sehat dalam berdiplomasi membuktikan bahwa taktik propaganda ini sangat merusak keseimbangan kawasan. Bukannya meredam ketegangan, tindakan ini justru menutup jalan damai. Agar kawasan tetap bebas dan terbuka, negara-negara di dalamnya harus bersatu agar tidak mudah termakan narasi, sehingga masa depan kawasan tidak hancur oleh permusuhan yang sudah direncanakan.
