Konten dari Pengguna

Belajar Bekerja Sama dari Balik Layar: Pengalaman Bersama Generation 8 Creative

NAUFAL FAKHRUDDIN

NAUFAL FAKHRUDDIN

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi

Bagi sebagian mahasiswa, tugas kuliah mungkin hanya dianggap sebagai kewajiban yang harus diselesaikan untuk mendapatkan nilai. Namun, bagi saya, sebuah tugas dapat menjadi ruang untuk mendapatkan pengalaman yang tidak selalu bisa diperoleh melalui pembelajaran di dalam kelas.

Hal tersebut saya rasakan ketika bergabung dalam sebuah tim produksi bernama Generation 8 Creative. Tim ini dibentuk sebagai bagian dari tugas perkuliahan yang mengharuskan kami membuat karya audiovisual berupa film pendek. Dalam prosesnya, kami berhasil mengerjakan dua film pendek berjudul “Generasi Terburuk Seni” dan “Fatamorgana”.

Dalam tim tersebut, saya mendapatkan tanggung jawab sebagai juru kamera dan editor. Dua peran tersebut membuat saya tidak hanya terlibat ketika proses pengambilan gambar berlangsung, tetapi juga harus ikut memikirkan bagaimana setiap gambar nantinya disusun menjadi sebuah cerita melalui proses editing.

Dari Tugas Kuliah Menjadi Proses Belajar

Pada awalnya, membuat film mungkin terdengar seperti sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Membawa kamera, mengambil gambar, menentukan angle, kemudian menyusun hasil rekaman menjadi sebuah film.

Namun, setelah menjalaninya secara langsung, saya menyadari bahwa produksi film tidak sesederhana itu.

Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan. Mulai dari menentukan konsep, membagi tugas, menyesuaikan jadwal setiap anggota, mempersiapkan peralatan, melakukan pengambilan gambar, hingga menyelesaikan proses editing.

Setiap tahapan memiliki tantangannya masing-masing.

Sebagai juru kamera, saya harus memastikan gambar yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan cerita. Sementara sebagai editor, saya harus kembali melihat hasil rekaman dan menentukan bagaimana potongan-potongan gambar tersebut dapat disusun agar memiliki alur dan emosi yang sesuai.

Di situlah saya mulai memahami bahwa sebuah film bukan hanya tentang kamera atau hasil visual yang terlihat bagus. Di balik sebuah karya terdapat proses panjang dan kerja banyak orang.

Pengorbanan Waktu dan Biaya

Salah satu hal yang paling saya rasakan selama menjalani proses produksi adalah pengorbanan.

Produksi film membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kami harus menyisihkan waktu di tengah kesibukan sebagai mahasiswa untuk berdiskusi, melakukan persiapan, menjalani proses shooting, hingga menyelesaikan editing.

Tidak jarang jadwal yang sudah direncanakan harus disesuaikan kembali karena adanya kesibukan anggota atau kendala lain di lapangan.

Selain waktu, ada pula pengorbanan dari segi biaya. Kebutuhan produksi terkadang membuat kami harus mengeluarkan uang untuk berbagai keperluan yang mendukung proses pembuatan film.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa membuat sebuah karya membutuhkan komitmen. Ketika seseorang memutuskan untuk terlibat dalam sebuah proyek, ada waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya yang harus dikorbankan.

Namun, pengorbanan tersebut terasa lebih ringan ketika dilakukan bersama-sama.

Kebersamaan dan Ketegangan Kecil

Bekerja dalam sebuah tim tentu tidak selalu berjalan mulus.

Selama proses produksi, kami juga mengalami berbagai perbedaan pendapat dan ketegangan kecil antaranggota. Hal tersebut merupakan sesuatu yang menurut saya cukup wajar ketika beberapa orang dengan karakter, pemikiran, dan cara kerja yang berbeda harus bekerja untuk mencapai satu tujuan.

Terkadang terdapat perbedaan pandangan mengenai konsep, pembagian tugas, waktu pengerjaan, maupun keputusan dalam proses produksi.

Namun, dari situ saya justru mendapatkan pelajaran penting. Kerja sama bukan berarti semua anggota harus selalu memiliki pendapat yang sama. Kerja sama berarti setiap orang mampu menyampaikan pendapat, mendengarkan anggota lain, kemudian mencari jalan tengah untuk menyelesaikan persoalan.

Di luar ketegangan tersebut, ada pula banyak momen kebersamaan yang membuat proses produksi menjadi pengalaman yang berkesan.

Mulai dari berdiskusi mengenai konsep, mempersiapkan shooting, menunggu proses pengambilan gambar, hingga menyelesaikan pekerjaan bersama. Hal-hal sederhana tersebut justru menjadi bagian yang membuat perjalanan bersama Generation 8 Creative terasa berbeda dari sekadar mengerjakan tugas kuliah.

Belajar Lebih dari Sekadar Perfilman

Dua film pendek yang kami buat memberikan saya banyak pengalaman mengenai dunia perfilman. Saya belajar mengenai pengambilan gambar, komposisi, penggunaan kamera, proses editing, serta bagaimana visual dapat digunakan untuk menyampaikan cerita.

Namun, setelah menyelesaikan kedua film tersebut, saya menyadari bahwa pelajaran terbesarnya bukan hanya mengenai perfilman. Saya belajar mengenai kerja sama.

Sebuah project tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu orang. Setiap anggota memiliki peran masing-masing yang saling berkaitan. Ketika satu bagian mengalami masalah, bagian lain juga dapat ikut terdampak.

Saya juga belajar mengenai tanggung jawab. Ketika mendapatkan tugas sebagai juru kamera dan editor, saya harus menyelesaikan bagian tersebut dengan sebaik mungkin karena hasil pekerjaan saya akan berpengaruh terhadap hasil akhir film.

Selain itu, saya belajar bahwa komunikasi menjadi salah satu hal penting dalam sebuah tim. Ide yang bagus tidak akan banyak berarti jika tidak dikomunikasikan dengan baik kepada anggota lainnya.

Generation 8 Creative dan Pengalaman yang Akan Dibawa

Bagi saya, Generation 8 Creative bukan hanya sebuah nama kelompok untuk menyelesaikan tugas kuliah. Tim ini menjadi tempat saya mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana sebuah project dikerjakan bersama-sama.

“Generasi Terburuk Seni” dan “Fatamorgana” mungkin merupakan dua film pendek yang lahir dari tugas perkuliahan. Namun, proses di balik pembuatannya memberikan pengalaman yang jauh lebih besar daripada sekadar mendapatkan nilai.

Saya belajar bahwa sebuah karya membutuhkan proses, pengorbanan, tanggung jawab, komunikasi, dan kerja sama. Saya juga memahami bahwa perbedaan pendapat dalam sebuah tim tidak selalu menjadi hambatan. Jika dapat dikelola dengan baik, perbedaan tersebut justru dapat menjadi bagian dari proses untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Pada akhirnya, pengalaman bersama Generation 8 Creative membuat saya melihat tugas kuliah dari sudut pandang yang berbeda. Tugas tidak selalu hanya tentang menyelesaikan kewajiban akademik. Terkadang, tugas tersebut dapat menjadi simulasi kecil dari dunia kerja dan project yang sebenarnya.

Dari balik kamera dan layar editing, saya tidak hanya belajar bagaimana membuat film. Saya belajar bagaimana menjadi bagian dari sebuah tim, menghadapi perbedaan, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, serta menghargai proses yang dilakukan bersama.

Dan mungkin, itulah salah satu hal paling berharga yang saya dapatkan dari dua film pendek tersebut.