Konten dari Pengguna

Generasi Terburuk Seni: Perlawanan Mahasiswa demi Kebebasan Berekspresi

NAUFAL FAKHRUDDIN

NAUFAL FAKHRUDDIN

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Footage pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Footage pribadi

Description: Sebuah film pendek tentang empat mahasiswa yang berjuang mempertahankan kebebasan berekspresi di tengah aturan kampus yang membatasi kreativitas dan menyisakan pertanyaan tentang arti pendidikan.

Kampus sering kali dipandang sebagai tempat mahasiswa mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan kreativitas. Di dalamnya, mahasiswa seharusnya memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi ide, menyampaikan pendapat, dan menghasilkan karya. Namun, bagaimana jika ruang yang seharusnya mendukung perkembangan tersebut justru dipenuhi aturan yang membatasi kebebasan berekspresi?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu gagasan utama dalam film pendek berjudul Generasi Terburuk Seni, sebuah karya yang saya buat bersama teman-teman sebagai bagian dari tugas kuliah. Film ini mengangkat cerita tentang empat mahasiswa yang menghadapi berbagai aturan kampus yang mereka anggap tidak masuk akal, hingga akhirnya mendorong mereka untuk melawan dan mempertanyakan kebijakan yang berlaku.

Keempat tokoh dalam film ini memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda. John adalah seorang pelukis, Paul merupakan fotografer, Boy adalah seorang pemusik, sedangkan Muljono digambarkan sebagai sosok yang baik hati dan sedikit lugu. Meskipun memiliki kepribadian dan bidang seni yang berbeda, mereka dipertemukan oleh persoalan yang sama, yaitu keinginan untuk mendapatkan kebebasan dalam mengekspresikan diri di lingkungan kampus.

Konflik mulai berkembang ketika peraturan yang seharusnya menjadi bagian dari tata tertib justru dipandang sebagai penghalang bagi kreativitas dan kebebasan mereka. Dalam cerita ini, kampus tidak hanya menjadi latar tempat berlangsungnya aktivitas pendidikan, tetapi juga menjadi ruang konflik antara mahasiswa yang ingin berekspresi dan pihak yang memiliki kewenangan untuk mengatur.

Melalui keempat tokohnya, Generasi Terburuk Seni menggambarkan bahwa setiap individu memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan gagasan. John mengekspresikan dirinya melalui lukisan, Paul melalui fotografi, dan Boy melalui musik. Sementara itu, Muljono menghadirkan perspektif yang berbeda melalui sifatnya yang cenderung polos. Perbedaan karakter tersebut memperlihatkan bahwa kebebasan berekspresi tidak selalu memiliki bentuk yang sama, tetapi sama-sama membutuhkan ruang untuk berkembang.

Salah satu hal yang ingin disampaikan melalui film ini adalah pentingnya mempertanyakan aturan yang diterapkan tanpa mengabaikan tujuan dan dampaknya terhadap mahasiswa. Peraturan memang dibutuhkan untuk menjaga keteraturan lingkungan kampus. Namun, ketika aturan dianggap tidak relevan, diterapkan secara tidak adil, atau digunakan untuk membatasi ruang kreativitas, mahasiswa dapat mempertanyakan bagaimana kebijakan tersebut seharusnya dijalankan.

Film ini juga menggambarkan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh pihak kampus dalam cerita. Konflik tersebut menjadi bagian dari kritik terhadap penggunaan kekuasaan yang tidak semestinya. Dalam konteks ini, perlawanan keempat mahasiswa bukan semata-mata tentang menolak aturan, melainkan juga tentang mempertanyakan keadilan, transparansi, dan hak mereka untuk menyampaikan aspirasi.

Bagi saya, Generasi Terburuk Seni bukan hanya cerita tentang mahasiswa yang berhadapan dengan pihak kampus. Film ini juga menjadi gambaran tentang bagaimana kreativitas dapat berbenturan dengan sistem yang terlalu membatasi. Ada kalanya seseorang memiliki gagasan dan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu, tetapi tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengembangkannya karena lingkungan yang kurang mendukung.

Proses pembuatan film ini bersama teman-teman juga menjadi pengalaman tersendiri dalam memahami bagaimana sebuah gagasan dapat diterjemahkan menjadi karya audiovisual. Cerita yang awalnya hanya berupa ide kemudian dikembangkan menjadi karakter, konflik, dan adegan yang membawa pesan tertentu. Melalui proses tersebut, kami berusaha menyampaikan pandangan tentang kebebasan berekspresi melalui medium film pendek.

Pada akhirnya, Generasi Terburuk Seni mengajak penonton untuk melihat kembali hubungan antara aturan, kekuasaan, dan kebebasan berekspresi di lingkungan pendidikan. Kampus bukan hanya tempat untuk mengikuti peraturan dan memperoleh nilai akademik, tetapi juga ruang untuk bertumbuh, berdiskusi, berkreasi, dan mengembangkan pemikiran kritis.

Sebab, pendidikan tidak seharusnya berhenti pada kemampuan mahasiswa untuk mengikuti aturan. Pendidikan juga perlu memberikan ruang bagi mereka untuk bertanya, menyampaikan pendapat, menciptakan sesuatu, dan mengkritik hal-hal yang dianggap tidak tepat. Melalui film ini, kami ingin menyampaikan bahwa kebebasan berekspresi dan kreativitas merupakan bagian penting dari pengalaman mahasiswa, bukan sesuatu yang seharusnya dipandang sebagai penghalang bagi kehidupan kampus.