Konten dari Pengguna

Generation 8 Creative

NAUFAL FAKHRUDDIN

NAUFAL FAKHRUDDIN

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Arsip pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Arsip pribadi

Generation 8 Creative merupakan sebuah tim kreatif yang lahir dari tugas perkuliahan. Beranggotakan sepuluh orang, tim ini menjadi ruang bagi kami untuk belajar, bereksperimen, dan menuangkan gagasan melalui karya audiovisual. Berawal dari kebutuhan akademis, kami mulai melihat film bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan, melainkan juga medium untuk menyampaikan pandangan, keresahan, dan kritik terhadap realitas yang terjadi di sekitar kita.

Sejauh ini, Generation 8 Creative telah memproduksi dua film pendek, yaitu "Generasi Terburuk Seni" dan "Fatamorgana". Keduanya memiliki cerita dan pendekatan yang berbeda, tetapi sama-sama menjadi bagian dari perjalanan kami dalam membangun identitas sebagai sebuah tim produksi. Bagi kami, proses membuat film bukan hanya tentang merekam gambar dan menyusun adegan, melainkan juga tentang bagaimana sebuah cerita dapat meninggalkan kesan dan mengajak penontonnya untuk berpikir.

Membangun Identitas Visual yang Hangat

Dalam membangun identitas visual, Generation 8 Creative memilih tone warna yang cenderung hangat untuk karya-karya filmnya. Pilihan ini menjadi salah satu pendekatan visual yang ingin kami kembangkan agar karya kami memiliki karakter yang mudah dikenali. Warna hangat memberikan kesan tersendiri dalam gambar, baik melalui pencahayaan, pengaturan warna, maupun suasana yang dibangun dalam setiap adegan.

Identitas tersebut juga kami bawa ke media sosial melalui penggunaan warna kuning dan hitam. Kombinasi keduanya menjadi bagian dari visual branding yang kami gunakan untuk membangun konsistensi antara karya audiovisual dan tampilan media sosial. Dengan begitu, Generation 8 Creative tidak hanya hadir sebagai nama di balik sebuah film, tetapi juga sebagai tim yang berusaha memiliki ciri khas visualnya sendiri.

Bagi kami, visual branding bukan sekadar persoalan memilih warna yang menarik. Lebih dari itu, branding menjadi cara untuk membangun identitas dan memperkenalkan karakter tim kepada audiens. Kami ingin setiap karya yang dipublikasikan memiliki keterkaitan dengan identitas Generation 8 Creative, sehingga penonton dapat mengenali karakter visual yang kami bangun secara bertahap.

Film sebagai Medium Kritik Sosial

Selain membangun identitas visual, Generation 8 Creative juga berusaha menyisipkan kritik sosial melalui karya-karya yang kami produksi. Salah satu pendekatan yang kami gunakan adalah sarkasme, yaitu menyampaikan kritik melalui sindiran, ironi, atau situasi yang mengandung makna tertentu.

Dalam beberapa bagian film, kami menyelipkan sindiran terhadap pemerintah Indonesia sebagai bentuk respons terhadap berbagai kebijakan dan kinerja pemerintah yang kami anggap layak untuk dipertanyakan. Bagi kami, film dapat menjadi ruang untuk menyuarakan keresahan tanpa harus selalu menyampaikannya secara langsung dan serius. Terkadang, sindiran yang dibungkus melalui cerita justru dapat membuat penonton lebih tertarik untuk memahami pesan yang ingin disampaikan.

Pendekatan ini bukan berarti setiap film harus selalu berbicara tentang politik atau pemerintahan. Namun, kami percaya bahwa karya audiovisual memiliki potensi untuk membicarakan persoalan yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Film dapat menjadi sarana refleksi, membuka ruang diskusi, dan mengajak penonton melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Melalui Generasi Terburuk Seni, misalnya, kami mengangkat persoalan kebebasan berekspresi mahasiswa yang berhadapan dengan peraturan kampus yang dianggap membatasi ruang gerak mereka. Cerita tersebut menjadi cara kami membicarakan relasi antara mahasiswa dan institusi, termasuk bagaimana aturan dapat dipertanyakan ketika dirasa tidak memberikan ruang yang cukup bagi kreativitas dan kebebasan berekspresi.

Sementara itu, Fatamorgana membawa pendekatan cerita yang berbeda dengan menempatkan persoalan psikologis dan persepsi terhadap realitas sebagai bagian penting dari ceritanya. Kehadiran dua film ini menunjukkan bahwa Generation 8 Creative masih terus mengeksplorasi beragam tema dan pendekatan bercerita untuk mengembangkan kemampuan kami dalam produksi film.

Belajar Berkarya di Tengah Keterbatasan

Sebagai rumah produksi yang berawal dari tugas kuliah, perjalanan Generation 8 Creative tentu tidak selalu berjalan mulus. Proses produksi menuntut kami untuk belajar bekerja sama, membagi tanggung jawab, mengatur waktu, serta menyatukan ide dari sepuluh orang dengan pemikiran yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat dan keterbatasan selama produksi menjadi bagian dari proses yang harus kami hadapi bersama.

Namun, justru melalui proses tersebut kami belajar bahwa membuat film bukan hanya tentang kemampuan teknis menggunakan kamera, menyusun pencahayaan, melakukan penyuntingan, atau membangun komposisi gambar. Produksi film juga membutuhkan komunikasi, kedisiplinan, kreativitas, dan kemampuan untuk memahami visi bersama.

Bagi kami, setiap film yang selesai diproduksi bukan hanya hasil akhir dari sebuah tugas, tetapi juga dokumentasi perjalanan belajar. Ada waktu, tenaga, ide, dan kerja sama yang terlibat di dalamnya. Setiap karya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kekurangan dan mencari cara agar produksi berikutnya dapat berkembang menjadi lebih baik.

Lebih dari Sekadar Tugas Kuliah

Generation 8 Creative mungkin berawal dari ruang perkuliahan, tetapi kami ingin menjadikannya lebih dari sekadar tim yang berkumpul untuk menyelesaikan tugas. Kami ingin membangun ruang kreatif yang memungkinkan setiap anggotanya berkembang, mencoba hal baru, dan menghasilkan karya yang memiliki karakter.

Dua film pendek yang telah kami produksi menjadi langkah awal dalam perjalanan tersebut. Identitas visual dengan tone hangat, branding media sosial berwarna kuning dan hitam, serta keberanian menyelipkan kritik sosial merupakan bagian dari proses kami menemukan karakter sebagai sebuah rumah produksi.

Kami menyadari bahwa perjalanan untuk membangun nama di industri kreatif tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Masih banyak hal yang perlu dipelajari, mulai dari pengembangan cerita, sinematografi, penyuntingan, hingga strategi publikasi karya di media sosial.

Namun, bagi Generation 8 Creative, yang terpenting bukan hanya seberapa banyak film yang berhasil dibuat, melainkan juga bagaimana setiap karya dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan. Sebab, bagi kami, film bukan hanya gambar bergerak yang ditonton lalu dilupakan. Film juga bisa menjadi cara untuk menyampaikan keresahan, mempertanyakan keadaan, dan membuka percakapan tentang hal-hal yang sering kali luput dari perhatian.

Generation 8 Creative adalah awal dari perjalanan kami untuk terus berkarya, menemukan identitas, dan menyampaikan suara melalui film.