Konten dari Pengguna

Lelah Menyaksikan Negeri Sendiri

NAUFAL FAKHRUDDIN

NAUFAL FAKHRUDDIN

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 9 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: AI

Di tengah persoalan pribadi, ada pula beban lain yang terus hadir melalui layar ponsel kita.

Setiap hari, berita tentang bencana alam, kerusakan lingkungan, konflik kepentingan, dan kebijakan publik yang menuai kritik memenuhi ruang digital. Kita menyaksikan masyarakat yang terdampak bencana, lingkungan yang rusak, serta berbagai persoalan yang memunculkan pertanyaan tentang arah pembangunan negeri ini.

Terkadang, kita membuka ponsel hanya untuk mencari hiburan setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan, kita justru menemukan kabar yang membuat pikiran semakin penuh. Beranda media sosial yang awalnya menjadi tempat untuk beristirahat perlahan berubah menjadi ruang yang dipenuhi kecemasan.

Belum selesai memikirkan masa depan sendiri, kita sudah dihadapkan pada persoalan yang lebih besar.

Tentu, mengikuti perkembangan berita merupakan hal penting. Sebagai warga negara, kita perlu mengetahui apa yang sedang terjadi dan memahami keputusan yang memengaruhi kehidupan bersama. Ketidakpedulian terhadap keadaan sekitar bukanlah solusi, terlebih ketika berbagai persoalan tersebut memiliki dampak langsung terhadap kehidupan kita.

Namun, ketika berita buruk datang silih berganti, rasa lelah bisa muncul. Kita merasa marah, kecewa, sedih, bahkan tidak berdaya. Kita ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak selalu tahu harus memulai dari mana.

Lebih melelahkan lagi ketika kita merasa harus memikirkan masa depan pribadi sekaligus mengkhawatirkan masa depan negeri.

Ketika Masa Depan Terasa Semakin Mahal

Bagi sebagian anak muda, memasuki usia dewasa seharusnya menjadi awal untuk membangun kehidupan. Kita mulai memikirkan pekerjaan, mengejar karier, melanjutkan pendidikan, menabung, dan perlahan mewujudkan berbagai keinginan yang dahulu hanya menjadi angan-angan.

Akan tetapi, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Mendapatkan pekerjaan yang layak bukan perkara mudah. Persaingan di dunia kerja semakin menuntut banyak hal, mulai dari pengalaman, keterampilan, kemampuan beradaptasi, hingga portofolio yang terkadang sulit dimiliki oleh seseorang yang baru memulai karier.

Kita diminta memiliki pengalaman untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi pada saat yang sama membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh pengalaman. Kita didorong untuk terus meningkatkan kemampuan diri, mengikuti perkembangan teknologi, dan memperluas jaringan profesional. Semua itu penting, tetapi prosesnya juga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.

Belum lagi persoalan penghasilan dan biaya hidup.

Ketika harga kebutuhan sehari-hari terus menjadi pertimbangan, keinginan sederhana seperti memiliki tabungan, membeli kendaraan, atau menyiapkan tempat tinggal sendiri terasa membutuhkan perjuangan yang panjang. Membeli rumah, misalnya, bukan lagi sekadar persoalan menabung dengan disiplin. Ada harga properti, uang muka, cicilan, lokasi, dan penghasilan yang harus diperhitungkan secara bersamaan.

Pada akhirnya, kita mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah penghasilan yang kita miliki nantinya benar-benar cukup untuk membangun kehidupan yang kita inginkan?

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi anak muda yang sedang merintis kehidupan, jawabannya tidak selalu menenangkan.

Kita tidak sedang menuntut kehidupan yang serba mudah. Kita memahami bahwa membangun masa depan membutuhkan usaha, pengorbanan, dan kesabaran. Namun, bukankah usaha juga seharusnya memberikan kesempatan yang masuk akal untuk memperbaiki kehidupan?

Ada perbedaan antara berjuang untuk mencapai sesuatu dan terus berjuang hanya untuk mempertahankan keadaan agar tidak semakin buruk.

Kita ingin bekerja keras untuk berkembang, bukan sekadar bertahan. Kita ingin menabung untuk mewujudkan cita-cita, bukan terus-menerus mengkhawatirkan apakah uang yang tersisa cukup untuk memenuhi kebutuhan bulan berikutnya.

Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar tentang bagaimana anak muda mengatur keuangan atau meningkatkan keterampilan. Kita juga perlu membicarakan keadaan yang membentuk kesempatan mereka: kualitas lapangan kerja, akses pendidikan, biaya hidup, ketersediaan hunian, dan kebijakan yang memengaruhi mobilitas sosial.

Sebab, tidak semua orang memulai perjalanan dari garis yang sama.

Kita Diminta Beradaptasi, tetapi Apakah Keadaannya Juga Berubah?

Ada nasihat yang sering kita dengar ketika menghadapi kesulitan: tingkatkan kemampuan diri, jangan mudah menyerah, perluas relasi, dan jangan terlalu banyak mengeluh.

Nasihat tersebut tidak sepenuhnya salah. Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan untuk belajar dan beradaptasi memang penting. Anak muda perlu mengambil tanggung jawab atas keputusan yang dibuat, mengenali peluang, serta mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Namun, ada satu hal yang terkadang luput dari pembicaraan: sejauh mana persoalan yang kita hadapi benar-benar bisa diselesaikan hanya dengan memperbaiki diri sendiri?

Ketika seseorang kesulitan mendapatkan pekerjaan, apakah jawabannya selalu karena ia kurang berusaha? Ketika anak muda belum mampu membeli rumah, apakah itu semata-mata karena mereka kurang pandai menabung? Ketika masyarakat terdampak kerusakan lingkungan, apakah mereka cukup diminta untuk lebih peduli tanpa adanya perbaikan dalam pengelolaan lingkungan?

Kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan motivasi sebagai cara untuk menyederhanakan persoalan yang sebenarnya lebih kompleks.

Usaha individu tetap penting, tetapi kesempatan yang tersedia juga menentukan sejauh mana usaha tersebut dapat menghasilkan perubahan. Seseorang bisa bekerja keras, tetapi hasilnya akan sangat dipengaruhi oleh akses terhadap pendidikan, kondisi pasar kerja, dukungan sosial, dan kebijakan yang berlaku.

Karena itu, membicarakan kesulitan generasi muda tidak cukup hanya dengan menyuruh mereka menjadi lebih tangguh.

Kita juga perlu bertanya apakah sistem yang ada telah memberikan kesempatan yang adil bagi mereka untuk berkembang.

Generasi muda tidak membutuhkan janji bahwa semua masalah akan selesai dengan kerja keras. Mereka membutuhkan ruang untuk berusaha, kesempatan untuk belajar dari kegagalan, dan lingkungan yang memungkinkan mereka membangun kehidupan secara layak.

Keresahan terhadap Negeri Bukan Berarti Kita Tidak Bersyukur

Di tengah berbagai persoalan tersebut, kita juga berhadapan dengan keadaan negeri yang tidak selalu memberikan ketenangan.

Bencana alam mengingatkan kita tentang pentingnya kesiapsiagaan dan perlindungan terhadap masyarakat. Kerusakan lingkungan menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi tempat tinggal yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sementara itu, kebijakan publik yang menuai kritik dapat memunculkan pertanyaan mengenai prioritas pembangunan dan sejauh mana suara masyarakat benar-benar dipertimbangkan.

Tentu, setiap persoalan memiliki penyebab dan konteks yang berbeda. Tidak semua bencana dapat dicegah, tidak semua kebijakan memberikan dampak yang sama kepada setiap kelompok masyarakat, dan tidak semua kritik otomatis benar. Karena itu, kita perlu melihat informasi secara kritis, memeriksa fakta, serta memahami persoalan sebelum menarik kesimpulan.

Namun, sikap kritis juga tidak seharusnya dianggap sebagai bentuk ketidak bersyukuran.

Mencintai negeri bukan berarti kita harus menerima semua keadaan tanpa pertanyaan. Justru karena kita ingin hidup di tempat yang lebih baik, kita merasa perlu menyampaikan kritik ketika melihat sesuatu yang perlu diperbaiki.

Kritik yang didasarkan pada fakta dan kepentingan publik merupakan bagian penting dari kehidupan demokratis. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan kebijakannya, mendengarkan masyarakat, dan mengevaluasi keputusan yang menimbulkan dampak buruk.

Sebaliknya, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, menghormati fakta, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Keduanya merupakan bagian dari hubungan yang seharusnya saling menguatkan dalam kehidupan demokrasi.

Sebab, generasi muda bukan hanya penerima dampak dari keputusan hari ini. Kami juga merupakan bagian dari masyarakat yang akan menjalani konsekuensinya dalam jangka panjang.

Kebijakan yang dibuat sekarang dapat memengaruhi kesempatan kerja, kualitas pendidikan, kondisi lingkungan, hingga kemampuan generasi berikutnya untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Wajar jika kami ingin mengetahui ke mana arah negeri ini berjalan. Wajar pula jika kami berharap agar pembangunan tidak hanya diukur melalui angka pertumbuhan, tetapi juga melalui kualitas hidup masyarakat, pemerataan kesempatan, dan keberlanjutan lingkungan.

Terlalu Banyak Berita, Terlalu Sedikit Ruang untuk Bernapas

Ada hal lain yang tidak kalah penting untuk dibicarakan: bagaimana semua informasi tersebut memengaruhi keadaan emosional kita.

Media sosial memungkinkan kita mengetahui berbagai kejadian dalam waktu singkat. Dalam beberapa menit, kita dapat membaca berita ekonomi, menyaksikan video bencana, mengikuti perdebatan politik, dan menemukan cerita orang lain yang sedang mengalami kesulitan.

Informasi tersebut membuat kita lebih terhubung dengan keadaan sekitar. Namun, ketika dikonsumsi tanpa jeda, arus informasi yang terus-menerus juga dapat membuat kita merasa kewalahan.

Kita mungkin tidak mengalami bencana secara langsung, tetapi gambar dan cerita tentang penderitaan orang lain tetap dapat menimbulkan kesedihan. Kita mungkin tidak terlibat dalam pengambilan keputusan politik, tetapi perdebatan yang muncul setiap hari dapat menguras energi. Kita mungkin sedang berusaha menikmati kehidupan sendiri, tetapi kabar tentang ketidakpastian ekonomi membuat kita kembali memikirkan masa depan.

Pada akhirnya, kita bisa merasa bersalah ketika mencoba beristirahat.

Seolah-olah, ketika kita berhenti membaca berita, kita sedang mengabaikan penderitaan orang lain. Seolah-olah, ketika kita memilih menikmati waktu bersama teman atau melakukan hobi, kita sedang bersikap tidak peduli terhadap keadaan negeri.

Padahal, kepedulian tidak harus diwujudkan dengan terus-menerus menyerap semua kabar buruk.

Kita tetap dapat menjadi warga negara yang peduli tanpa harus mengikuti setiap perdebatan di media sosial. Kita tetap dapat memahami persoalan publik tanpa harus mengorbankan seluruh waktu dan ketenangan pikiran.

Membatasi konsumsi berita, memilih sumber informasi yang kredibel, dan menyediakan waktu untuk beristirahat bukan berarti kita menutup mata terhadap kenyataan. Itu merupakan cara untuk menjaga agar kita tetap memiliki energi dalam menjalani kehidupan dan merespons persoalan secara lebih rasional.

Kita perlu mengingat bahwa tidak semua persoalan dapat kita selesaikan sendirian. Ada hal-hal yang berada di luar kendali pribadi, dan menerima kenyataan tersebut bukan berarti menyerah.

Terkadang, kita perlu berhenti sejenak agar bisa kembali melihat keadaan dengan lebih jernih.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ketika persoalan yang dihadapi terasa begitu besar, pertanyaan mengenai solusi sering kali berakhir pada kebingungan. Kita ingin memperbaiki keadaan, tetapi perubahan sosial dan kebijakan publik tidak dapat diwujudkan hanya melalui keinginan satu orang.

Meski begitu, bukan berarti kita tidak memiliki ruang untuk bertindak.

Pertama, kita dapat memulai dari kehidupan yang berada dalam jangkauan kita. Mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan, mengelola keuangan sesuai kemampuan, dan membangun kebiasaan yang sehat tetap merupakan langkah penting. Kita tidak harus memiliki seluruh jawaban tentang masa depan untuk mulai mempersiapkannya.

Kedua, kita perlu membangun kebiasaan mengkonsumsi informasi secara kritis. Jangan terburu-buru mempercayai setiap unggahan yang muncul di media sosial. Periksa sumbernya, bandingkan informasi dari beberapa media, dan pahami konteks sebelum menyebarkannya. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan membedakan fakta dan opini menjadi semakin penting.

Ketiga, kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata. Kita dapat terlibat dalam kegiatan sosial, membantu masyarakat sesuai kemampuan, mendukung upaya pelestarian lingkungan, atau berpartisipasi dalam diskusi publik yang sehat. Kita juga dapat menyampaikan aspirasi melalui saluran yang tersedia, mengawasi kebijakan, dan menggunakan hak sebagai warga negara secara bertanggung jawab.

Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama. Ada yang memiliki waktu untuk menjadi relawan, ada yang bisa berkontribusi melalui pekerjaannya, dan ada pula yang memulai dengan membantu orang-orang di sekitarnya.

Tindakan kecil memang tidak otomatis menyelesaikan persoalan struktural. Namun, tindakan tersebut dapat menjadi bagian dari perubahan ketika dilakukan bersama-sama dan disertai upaya untuk mendorong perbaikan yang lebih luas.

Keempat, kita perlu belajar membangun solidaritas, bukan sekadar membandingkan kesulitan. Media sosial terkadang membuat kita merasa bahwa semua orang sedang berlari lebih cepat daripada kita. Ada teman yang telah mendapatkan pekerjaan, ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang mulai membangun usaha, dan ada pula yang terlihat telah mencapai banyak hal pada usia muda.

Tanpa disadari, kita mulai mengukur kehidupan sendiri berdasarkan pencapaian orang lain.

Padahal, setiap orang memiliki keadaan, sumber daya, tanggung jawab, dan perjalanan yang berbeda. Kita tidak selalu mengetahui kesulitan yang tersembunyi di balik pencapaian seseorang. Begitu pula, orang lain tidak selalu mengetahui perjuangan yang sedang kita jalani.

Daripada terus-menerus menjadikan satu sama lain sebagai pesaing, bukankah lebih baik jika kita juga belajar menjadi tempat untuk saling menguatkan?

Kita dapat berbagi informasi pekerjaan, membantu teman mengembangkan keterampilan, mendukung usaha kecil, atau sekadar mendengarkan seseorang yang sedang mengalami masa sulit.

Solidaritas tidak menghilangkan persoalan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan. Namun, solidaritas dapat membuat kita tidak harus menghadapi semuanya sendirian.