South of Love

Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari NAUFAL FAKHRUDDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita tidak pernah benar-benar berbicara.
Tidak pernah ada percakapan panjang antara kita. Tidak pernah ada pesan yang sengaja dikirim untuk sekadar menanyakan kabar. Bahkan, aku tidak pernah benar-benar tahu seperti apa suaramu ketika memanggil namaku.
Kita hanya saling pandang.
Sesederhana itu.
Namun, entah mengapa, dari tatapan-tatapan singkat itu ada sesuatu yang perlahan tumbuh. Sesuatu yang tidak pernah kita ucapkan, tetapi seolah-olah sama-sama kita ketahui.
Mungkin terdengar aneh.
Bagaimana dua orang bisa saling mengetahui perasaan tanpa pernah benar-benar berbicara?
Mungkin karena ada seseorang yang menjadi perantara di antara kita.
Teman kita.
Dari dialah aku mengetahui bahwa ternyata kamu pernah memiliki perasaan kepadaku. Bahwa di balik tatapan yang selama ini kuanggap biasa, ternyata ada sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan.
Dan mungkin kamu juga mengetahui tentangku melalui orang yang sama.
Kita tidak pernah mengatakan apa-apa secara langsung, tetapi seolah-olah ada percakapan panjang yang terjadi melalui orang ketiga.
Kamu mengatakan sesuatu kepadanya.
Lalu aku mengetahuinya.
Aku mengatakan sesuatu kepadanya.
Lalu mungkin kamu mengetahuinya.
Begitu seterusnya.
Sampai akhirnya kita menjadi dua orang yang saling mengetahui, tetapi tidak pernah benar-benar saling mengenal.
Tatapan yang Terlambat Kusadari
Dulu, ketika aku mengetahui bahwa kamu menyukaiku, aku tidak melakukan apa-apa.
Aku hanya diam.
Mungkin karena aku tidak tahu harus bagaimana. Mungkin karena aku terlalu takut untuk merespons sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu katakan secara langsung.
Atau mungkin, saat itu aku memang belum memiliki perasaan yang sama.
Hari-hari berlalu.
Kita masih sesekali bertemu.
Dan setiap kali mata kita bertemu, selalu ada beberapa detik yang sulit dijelaskan.
Tatapanmu.
Tatapanku.
Lalu salah satu dari kita mengalihkan pandangan.
Tidak ada yang terjadi setelahnya.
Tidak ada yang berani memulai.
Namun, semakin lama, aku justru semakin sering mengingatnya.
Aku mulai bertanya-tanya tentang tatapan yang dulu tidak pernah kupikirkan.
Apakah waktu itu kamu memang sedang melihatku?
Apakah kamu masih memiliki perasaan yang sama?
Atau sebenarnya semua yang kurasakan hanya berasal dari pikiranku sendiri?
Dan perlahan aku menyadari sesuatu yang tidak pernah kuperkirakan.
Aku mulai jatuh cinta kepadamu.
Ironisnya, perasaan itu datang ketika kita bahkan tidak pernah memiliki satu percakapan pun.
Terlalu Banyak Pertanyaan
Sebagai seseorang yang terlalu banyak berpikir, aku sering berdebat dengan diriku sendiri.
Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.
Namun, bahkan sebelum satu kata keluar, kepalaku sudah dipenuhi banyak kemungkinan.
Bagaimana kalau kamu sudah tidak menyukaiku?
Bagaimana kalau perasaanmu dulu hanya sementara?
Bagaimana kalau selama ini aku salah memahami tatapanmu?
Bagaimana kalau kamu sudah menemukan seseorang yang lain?
Dan pertanyaan yang paling membuatku diam:
Bagaimana kalau aku datang terlambat?
Aku tidak tahu jawabannya.
Sebab kita tidak pernah membicarakannya.
Aku hanya mengetahui tentangmu melalui seseorang yang menjadi perantara.
Dan mungkin kamu juga hanya mengetahui tentangku dengan cara yang sama.
Betapa anehnya sebuah perasaan.
Kita bisa mengetahui bahwa seseorang pernah mencintai kita, tetapi tidak pernah mengetahui apakah perasaan itu masih ada hari ini.
Aku Ingin Berbicara
Ada saat ketika aku ingin menghentikan semua perantara itu.
Aku ingin untuk pertama kalinya berbicara langsung kepadamu.
Tidak melalui teman.
Tidak melalui pesan yang disampaikan orang lain.
Tidak melalui tatapan yang harus kutafsirkan sendiri.
Aku ingin bertanya langsung.
“Apakah kamu masih memiliki perasaan yang dulu?”
Namun, keberanian itu selalu berhenti tepat sebelum aku benar-benar melangkah.
Mungkin karena aku takut dengan jawabanmu.
Bukan karena aku tidak siap mendengar bahwa kamu tidak mencintaiku.
Aku hanya tidak siap kehilangan satu-satunya kemungkinan bahwa mungkin kamu masih merasakan hal yang sama.
Selama kita tidak pernah berbicara, kemungkinan itu masih ada.
Dan mungkin itulah alasan aku terus diam.
Sebab diam terkadang terasa lebih aman daripada sebuah kepastian yang menyakitkan.
Bagaimana Jika Kita Bertemu Lagi?
Aku tidak tahu apakah kisah ini akan pernah menjadi sebuah hubungan.
Mungkin kita memang hanya akan menjadi dua orang yang pernah saling memandang.
Dua orang yang pernah mengetahui perasaan masing-masing melalui seorang teman.
Dua orang yang mungkin sebenarnya memiliki kesempatan, tetapi terlalu takut untuk mengambil langkah pertama.
Namun, aku masih ingin percaya bahwa cerita kita belum benar-benar selesai.
Bukan karena aku yakin kamu masih mencintaiku.
Aku tidak tahu apakah kamu masih memiliki perasaan itu.
Aku hanya ingin memberikan sedikit ruang bagi kemungkinan.
Mungkin suatu hari kita akan bertemu lagi.
Di tempat yang tidak pernah kita rencanakan.
Di kota yang tidak pernah kita kenal.
Di perjalanan yang tidak pernah kita pikirkan.
Mungkin di suatu tempat jauh di selatan bumi.
Aku menyebut tempat itu "South of Love".
Bukan karena tempat itu benar-benar ada.
Tetapi karena aku ingin menyimpan harapan di sana.
Harapan tentang dua orang yang pernah saling memandang, tetapi tidak pernah saling berbicara.
Tentang dua orang yang pernah mengetahui perasaan masing-masing, tetapi tidak pernah cukup berani untuk mengatakannya secara langsung.
Dan jika suatu hari kita benar-benar bertemu di sana, aku berharap kali ini kita tidak hanya saling pandang.
Aku berharap salah satu dari kita cukup berani untuk memulai percakapan.
Mungkin aku.
Mungkin kamu.
Dan jika akhirnya kamu bertanya mengapa aku baru mengatakannya sekarang, mungkin aku hanya akan tersenyum dan menjawab:
“Karena dulu aku tidak tahu bahwa tatapanmu akan menjadi sesuatu yang begitu sulit untuk kulupakan.”
Aku tidak tahu apakah kamu masih mencintaiku.
Aku juga tidak tahu apakah perasaan yang dulu pernah kamu miliki masih tersisa.
Tetapi sekarang aku tahu satu hal.
"Aku mencintaimu."
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin perasaan itu hanya menjadi percakapan yang disampaikan melalui orang lain.
Jika memang kita tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi satu, biarlah kisah ini menjadi sebuah cerita tentang dua orang yang pernah saling menyukai dalam diam.
Namun jika takdir masih memberikan kesempatan...
Semoga kita bertemu lagi.
Somewhere south of love.
