Terraforming Mars, Mengubah Mars Menjadi Planet Layak Huni

Murid SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Naufal Fathi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengubah Mars Menjadi Rumah Kedua

Terraforming Mars atau mengubah Mars agar layak huni seperti Bumi, mungkin adalah hal baru bagi beberapa kalangan orang namun, tidak bagi para ilmuwan yang dari dulu sudah merencanakan bagaimana hal ini dapat terwujud. Sudah banyak ide yang bermunculan mengenai teori agar Mars dapat diubah layaknya Bumi namun, pada kenyataanya dengan teknologi yang ada sekarang masih mustahil untuk dapat melakukan Terraforming Mars. Beberapa faktor juga menjadi alasan utama mengapa Terraforming di Mars ini perlu segera diwujudkan. Seperti kondisi Bumi yang semakin mengkhawatirkan akibat ulah manusia yang terus - menerus merusak Bumi. Mulai banyaknya populasi manusia di Bumi juga menjadi penyebab mengapa Bumi mulai menjadi tidak nyaman untuk dihuni lagi. Menurut perhitungan tim peneliti dari Stanford University di California, AS, menyatakan bahwa ukuran ideal populasi manusia di Bumi antara 1,5 dan 2 miliar orang. Namun sayangnya pada tahun 2024 ini, populasi manusia di Bumi diperkirakan akan mencapai 8.2 miliar jiwa yang dinilai akan menambah kompleks permasalahan.
Permasalahan seperti ancaman perang nuklir, bencana alam, perubahan iklim, dan overpopulasi menjadikan manusia harus segera mencari “Bumi Kedua”. Dengan berbagai pertimbangan dan hasil penelitian dalam waktu yang sangat lama, para ilmuwan pun setuju kalau Mars bisa dijadikan opsi untuk menjadi hunian baru bagi umat manusia. Kondisi geografinya yang mirip dengan Bumi serta jaraknya yang tidak begitu jauh menjadi faktor mengapa Mars dipilih untuk menjadi opsi jangka panjang untuk keberlangsungan umat manusia.
Penjelajahan yang dilakukan manusia ke Mars yang dilakukan semenjak tahun 1960 sampai saat ini telah membuat kita lebih mengetahui tentang keadaan sebenarnya yang ada di Mars. Dimulai dari Uni Soviet yang pertama kali melakukan terbang lintas diatas permukaan Mars dan melakukan pendaratan keras yang kemudian disusul oleh NASA pada 14-15 Juli 1965 dengan menggunakan Wahana Antariksa Mariner 4. Semenjak saat itu berbagai hasil tangkapan yang sangat mengejutkan juga banyak ditemukan seperti gambaran permukaan Mars yang berbatu mirip dengan Bumi, adanya lapisan es yang tebal dan rata di Kutub Mars, adanya gunung bernama Olympus Mons yang merupakan gunung tertinggi di Tata Surya, serta adanya bekas jejak lautan purba di Mars yang menjadi petunjuk kalau Mars dulunya sangat mirip dengan Bumi. Karena penemuan mengejutkan itulah para ilmuwan sangat yakin kalau proses Terraforming di Mars benar - benar bisa terwujud.
Meskipun teknologi saat ini belum memungkinkan kita untuk melakukan terraforming secara langsung, data yang kita kumpulkan dari misi-misi eksplorasi Mars menunjukkan potensi besar planet merah ini. Proyek Mars Direct yang diusulkan oleh Robert Zubrin, misalnya, menawarkan roadmap yang realistis untuk membangun koloni manusia di Mars dalam waktu beberapa dekade. Dengan investasi yang konsisten dalam penelitian dan pengembangan teknologi, mimpi untuk mengubah Mars menjadi rumah kedua bagi umat manusia bukanlah hal yang mustahil. Terlebih lagi, krisis lingkungan yang semakin mendesak di Bumi semakin mendesak kita untuk mencari solusi jangka panjang.
Melakukan terraforming atau mengubah Mars agar layak huni merupakan impian para ilmuwan sejak puluhan tahun yang lalu tetapi, untuk melakukan terraforming di Mars juga bukan hal yang mudah, perlu kerjasama dari berbagai pihak dan juga rencana yang benar - benar matang untuk meminimalisir adanya kegagalan atau hal yang tidak diinginkan. Sebelum kita bisa berpindah ke planet lain, untuk saat ini mari kita prioritaskan untuk memperbaiki kondisi Bumi. Investasi dalam teknologi hijau, pelestarian lingkungan, dan pemecahan masalah global akan memberikan manfaat langsung bagi kita semua, sekaligus mempersiapkan kita lebih baik untuk anak cucu kita dan keberlangsungan umat manusia.
