FEBI UINSA Gelar AISDEE ke-4, Dorong Inovasi Global Berbasis Nilai Lokal

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Naufal Febri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SURABAYA – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kembali menyelenggarakan The 4th Annual International Summit on Development and Economic Empowerment pada Selasa–Rabu, 20–21 Oktober 2026. Mengusung tema “Cutting-Edge Technology: Adapting Local Values Into Global Innovation for Sustainable Future”, konferensi internasional ini menjadi ruang akademik untuk mempertemukan gagasan, riset, dan kolaborasi lintas negara dalam merespons perkembangan teknologi serta tantangan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Kegiatan yang dipusatkan di Amphiteater Lantai 3, Kampus Ahmad Yani UIN Sunan Ampel Surabaya, dibuka secara langsung oleh Rektor UINSA, Prof. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi kepada FEBI UINSA atas konsistensinya menyelenggarakan konferensi internasional selama empat tahun berturut-turut.
Menurutnya, konsistensi tersebut merupakan langkah penting dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pertukaran gagasan, dan kolaborasi internasional.
Dalam konteks tema konferensi, Rektor menekankan pentingnya memahami kekayaan nilai dan budaya lokal sebagai landasan pengembangan inovasi global. “Indonesia memiliki kompleksitas budaya yang sangat beragam. Bahkan, di Jawa Timur saja terdapat beragam bahasa dan tradisi, termasuk bahasa Jawa dan Madura.” ungkap Prof. Masdar. Keragaman tersebut merupakan potensi yang dapat menjadi sumber inspirasi dalam pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Rektor juga mendorong penguatan kolaborasi akademik, khususnya melalui joint project publikasi ilmiah yang dihasilkan dari konferensi internasional. Kolaborasi tersebut diharapkan melibatkan UINSA bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Pangasinan State University Alaminos City Campus (PSU) Filipina, serta School of Engineering and Energy, Murdoch University, Australia.
Transformasi Digital dan Keuangan Syariah untuk Ekonomi Inklusif
Memasuki agenda seminar, sesi pertama dipandu oleh Nita Yalina, S.Kom., M.MT., Ph.D., dengan tema “Leveraging Digital Transformation and Islamic Finance for Inclusive and Sustainable Global Economic Development”. Sesi ini menghadirkan Professor Ts. Dr. Shafinar Ismail dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Selangor, Malaysia, serta Dr. Potenciano D. Conte Jr. dari Pangasinan State University Alaminos City Campus, Filipina.
Salah satu fokus pembahasan adalah bagaimana perubahan teknologi membentuk kembali pola pertumbuhan ekonomi global. Transformasi digital membuka peluang bagi perluasan akses layanan keuangan, peningkatan efisiensi kegiatan ekonomi, serta pengembangan inovasi yang dapat menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum terlayani secara optimal.
Dalam perspektif keuangan Islam, pemanfaatan teknologi juga perlu diarahkan untuk mendukung inklusi keuangan dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Inovasi teknologi finansial tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan dan efisiensi, tetapi juga perlu memperhatikan nilai-nilai lokal, prinsip syariah, dan kebutuhan masyarakat.
Akuntansi, Kecerdasan Buatan, dan Tata Kelola Keberlanjutan
Sesi kedua dipandu oleh Dr. Imam Buchori, S.E., M.Si., dengan tema “Accounting Innovation, Artificial Intelligence, and Sustainability Governance”. Narasumber Dr. Sutan Emir Hidayat dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menyoroti pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang berorientasi pada penciptaan dampak positif.
Ia menekankan bahwa dampak AI sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan. AI dapat menjadi instrumen yang mendukung kemajuan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak negatif apabila tidak diarahkan secara tepat. Karena itu, pengembangan dan pemanfaatan teknologi perlu disertai landasan etika serta nilai-nilai lokal dan syariah.
Dr. Sutan Emir Hidayat turut menekankan pentingnya semangat “Learn, Collaborate, Impact” sebagai pendekatan untuk mendorong perubahan. Belajar menjadi fondasi pengembangan kapasitas, kolaborasi mempertemukan berbagai keahlian, sedangkan dampak menjadi tolok ukur manfaat yang dihasilkan.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian utama. Persoalan kebersihan disoroti sebagai salah satu masalah mendasar yang masih perlu mendapatkan perhatian. Sementara itu, keberlanjutan perlu dipahami melalui keterkaitan aspek lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance), yang dikenal sebagai ESG. Akuntansi dan teknologi diharapkan dapat berkontribusi dalam mengukur, mengelola, serta mendorong pencapaian tujuan keberlanjutan tersebut.
Kapabilitas Strategis sebagai Kunci Daya Saing Bisnis
Sesi ketiga menghadirkan dua perspektif yang saling melengkapi, yakni manajemen strategis dan inovasi bisnis serta perilaku keuangan dan keberlanjutan usaha kecil dan menengah (UKM). Sesi yang dipandu oleh Dr. Binti Shofiatul Jannah, S.E., M.SA., CSRS., CSRA., CPIA., ini menghadirkan Prof. Nur Kholis, M.Ed., Admin., Ph.D., serta Dr. Andriani Samsuri, M.M.
Dalam pemaparannya mengenai “Strategic Management, Digital Transformation, and Business Innovation”, Prof. Nur Kholis menegaskan bahwa kelimpahan teknologi digital tidak secara otomatis menjamin keunggulan kompetitif. Organisasi yang memiliki akses terhadap teknologi belum tentu mampu menghasilkan kinerja lebih baik apabila tidak dapat mengintegrasikannya ke dalam strategi bisnis.
Untuk menjelaskan hal tersebut, ia mengaitkan transformasi digital dengan sejumlah perspektif strategis, antara lain Resource-Based View yang dikembangkan Jay Barney, Competitive Positioning dari Michael Porter, Dynamic Capabilities dari David Teece, serta perspektif pemangku kepentingan dan tata kelola.
Berbagai perspektif menunjukkan bahwa keunggulan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya atau kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan organisasi dalam mengelola sumber daya, merespons perubahan, dan menciptakan nilai.
Transformasi digital, dalam kerangka yang ada, perlu diarahkan untuk membangun kapabilitas strategis, mendorong inovasi bisnis, dan memperkuat daya saing berkelanjutan. Tantangan strategis perusahaan bukan sekadar menjadi lebih digital, melainkan memastikan bahwa digitalisasi mampu menghasilkan nilai nyata bagi pelanggan, organisasi, dan lingkungan bisnisnya.
Prof. Nur Kholis juga menekankan pentingnya mengubah percakapan dan gagasan menjadi nilai. Dengan demikian, strategi tidak berhenti pada perencanaan, tetapi diwujudkan dalam tindakan dan inovasi yang memberikan manfaat konkret.
Sementara itu, Dr. Andriani Samsuri membahas “Financial Behavior, Business Innovation, and Sustainability of SME”. Ia menyoroti perilaku keuangan masyarakat, khususnya dalam menghadapi perkembangan layanan keuangan digital dan pinjaman daring.
Kelompok masyarakat kelas menengah menjadi salah satu segmen demografis yang disoroti dalam pembahasan mengenai pengguna pinjaman daring. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat mampu memahami risiko, mempertimbangkan kemampuan finansial, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Dr. Andriani menjelaskan keterkaitan literasi keuangan dengan perilaku keuangan yang berhati-hati (prudent financial behavior), kualitas pengambilan keputusan, dan ketahanan usaha. Literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen kognitif untuk membantu individu menghadapi berbagai pilihan finansial.
Ia juga mengangkat perspektif teori prospek (prospect theory), yang menjelaskan bahwa individu dapat merasakan keuntungan dan kerugian secara berbeda meskipun nilainya sama. Dalam situasi tertentu, seseorang cenderung lebih cepat merealisasikan keuntungan, tetapi enggan menerima atau mengakui kerugian. Pola tersebut dapat memengaruhi keputusan keuangan maupun keputusan bisnis.
Karena itu, disiplin dalam proses pengambilan keputusan menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan usaha. Keputusan pembelian, misalnya, idealnya tidak semata-mata didasarkan pada kesukaan, tetapi juga pada kebutuhan, manfaat, dan pertimbangan finansial yang rasional.
Rangkaian sesi pada hari pertama kemudian dilanjutkan dengan parallel offline session yang diselenggarakan di Lantai 6 dan Lantai 7 FEBI UINSA.
Memperkuat Kolaborasi Akademik dan Perspektif Global pada Hari Kedua
Pada Rabu, 21 Oktober 2026, konferensi memasuki hari kedua dengan melanjutkan agenda seminar melalui sesi keempat, kelima, dan keenam. Rangkaian kegiatan ini memperluas pembahasan dari transformasi digital dan inovasi bisnis menuju kolaborasi internasional, transformasi ekonomi Islam, serta penguatan keuangan sosial Islam.
Sesi keempat dipandu oleh Achmad Room Fitrianto, S.E., M.Si., M.A., Ph.D., dengan menghadirkan Mr. Matthew Satchwell, Manajer Programs and Project Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies (ACICIS), Perth, Australia; Prof. Tania Urmee dari School of Engineering and Energy, Murdoch University, Australia, yang bergabung secara daring; serta Ms. Oumama Kabli dari U.S. Consulate General.
Sesi kelima dipandu oleh Dr. Ana Toni Roby Candra Yudha, M.SEI., dengan menghadirkan Prof. Dr. Muhammad Nur Rianto Al Arif dari Universitas Islam Negeri Jakarta dan Retno Fitrianingsih, Asisten Direktur Bank Indonesia wilayah Jawa Timur. Keduanya membahas tema “Reimagining Islamic Economics for Sustainable and Inclusive Global Transformation in the Digital Era”.
Tema yang dikaji menempatkan ekonomi Islam dalam konteks perubahan global dan perkembangan teknologi digital. Pengembangan ekonomi Islam membutuhkan pendekatan yang adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Orientasi inklusivitas dan keberlanjutan menjadi penting agar transformasi ekonomi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Sesi keenam sekaligus menjadi sesi seminar terakhir, dipandu oleh Saqofa Nabila Aini, S.E., M.Sc., dengan menghadirkan Prof. Dr. Ali Arifin, M.M., dan Dr. Ir. Muhamad Ahsan, M.M., CHRMP. Sesi ini mengangkat tema “Transforming Islamic Social Finance Through Digital Governance, Smart Waqf, and Sustainable Social Impact”.
Pembahasan mengenai transformasi keuangan sosial Islam menyoroti relevansi tata kelola digital, pengembangan wakaf cerdas (smart waqf), serta penciptaan dampak sosial yang berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan keuangan sosial Islam membuka ruang bagi penguatan tata kelola dan pengembangan layanan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Inovasi digital perlu berjalan beriringan dengan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan orientasi kemanfaatan. Teknologi bukan sekadar instrumen modernisasi, melainkan sarana untuk memperkuat kontribusi keuangan sosial Islam terhadap kesejahteraan masyarakat.
Dilanjutkan dengan Guest Lecture dan Sesi Paralel Daring
Setelah sesi seminar keenam berakhir, rangkaian konferensi dilanjutkan dengan guest lecture di ruang Al-Ghazali, Lantai 7, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. Kegiatan kemudian diteruskan dengan online parallel session sebagai bagian dari agenda akademik konferensi.
Penyelenggaraan konferensi internasional selama dua hari ini mempertemukan beragam perspektif mengenai transformasi digital, keuangan syariah, akuntansi, kecerdasan buatan, manajemen strategis, perilaku keuangan, dan keberlanjutan. Berbagai topik yang dikaji menunjukkan bahwa tantangan pembangunan ekonomi masa kini memerlukan pendekatan lintas disiplin yang mengintegrasikan inovasi teknologi, nilai lokal, dan tanggung jawab sosial.
Adapun pesan dari ketua panitia bahwa melalui penyelenggaraan The 4th Annual International Summit on Development and Economic Empowerment, FEBI UINSA menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun jejaring akademik internasional sekaligus mengembangkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Semoga manfaat dan keberdampakan AISDEE bisa dirasakan dan diterapkan untuk semua pihak terkait, mulai mahasiswa, mitra dalam dan luar negeri” ucap Dr. Ana Toni Roby Candra Yudha, M.SEI. [mij]
