"Tumbuh di Tanah Kering: Ketika Guru Menanam, Tapi Orang Tua Tak Menyiram

Mahasiswa uin jakarta, yang berkuliah sambil bekerja
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Naufal Hafizh Sulisyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seorang guru di kelas. Setiap hari ia menanam benih kebaikan, pengetahuan, dan nilai moral ke dalam hati dan pikiran muridnya. Ia menyiramnya dengan kesabaran, pupuk kasih sayang, dan cahaya inspirasi. Tapi ketika anak itu pulang, benih-benih itu justru dibiarkan kering, tidak dijaga, bahkan dilenyapkan oleh lingkungan rumah yang abai.
Pertanyaannya: Apa jadinya anak-anak itu nanti?
Peran Ganda dalam Tumbuh Kembang Anak
Pendidikan bukanlah tugas satu pihak. Guru memang punya tanggung jawab besar, tapi mereka bukan penyihir. Anak-anak butuh lingkungan rumah yang selaras—yang mendukung nilai-nilai baik yang diajarkan di sekolah.
Guru bisa mengajarkan kejujuran, tapi jika orang tua memamerkan cara-cara curang di rumah, anak akan bingung.
Guru bisa membangun semangat belajar, tapi jika di rumah anak dibiarkan tenggelam dalam gawai tanpa arah, semua semangat itu akan luntur.
Guru bisa menumbuhkan akhlak dan sopan santun, tapi jika di rumah anak terbiasa mendengar teriakan atau umpatan, benih kebaikan itu perlahan akan mati.
Tidak sedikit anak menjadi takut, minder, di rumah karena sebab judgement yang di lontarkan tanpa berfikir dua kali.
Mengapa Orang Tua Harus 'Menyiram'?
Anak-anak tumbuh seperti tanaman. Butuh keselarasan antara guru sebagai penanam dan orang tua sebagai penyiram. Ketika keduanya selaras, karakter anak akan kuat. Tapi ketika salah satunya abai, tumbuh kembang anak bisa pincang.
Menurut banyak studi psikologi perkembangan, anak yang mendapat konsistensi antara nilai di rumah dan sekolah memiliki self-esteem dan kontrol emosi yang lebih baik. Mereka lebih siap menghadapi tantangan, lebih mudah diarahkan, dan lebih stabil secara sosial.
Kolaborasi Adalah Kunci
Jika pendidikan adalah perjalanan, maka guru dan orang tua adalah dua roda utama yang harus bergerak bersamaan. Tanpa dukungan orang tua, guru akan kelelahan. Tanpa arah dari guru, orang tua bisa kehilangan pijakan.
Kolaborasi ini bisa dimulai dari hal sederhana:
• Menanyakan kegiatan anak di sekolah.
• Menyelaraskan disiplin rumah dengan aturan sekolah.
• Berkomunikasi aktif dengan guru.
• Memberikan contoh nyata dari nilai yang diajarkan.
Anak Adalah Amanah, Bukan Proyek Musiman
Anak bukan proyek satu semester. Mereka adalah amanah jangka panjang. Guru bisa menanam, tapi jika orang tua tak menyiram, maka anak bisa tumbuh layu. Atau lebih buruk: tumbuh liar tanpa arah.
Mari kita rawat mereka bersama. Karena ketika guru dan orang tua bersatu, anak akan tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga berkarakter.
