Dari Sekam Jadi Energi, Mahasiswa KKNT IPB Kenalkan Tungku Sekam di Klaten

Mahasiswa Fisika IPB University dengan pengalaman dalam organisasi, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan energi terbarukan, serta koordinasi program.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Naufal Atrasina Mawarid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Klaten, Jawa Tengah — Limbah sekam padi menjadi salah satu potensi pertanian yang menarik perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University 2026 selama menjalankan pengabdian di Desa Jurang Jero, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Selama berada di desa, mahasiswa mengamati secara langsung keberadaan sekam padi yang masih belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian dibakar setelah proses pemanenan dan penggilingan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKNT IPB University kelompok KLATENKAB06 memperkenalkan pemanfaatan sekam sebagai bahan bakar alternatif melalui program SEMAR (Sekam Maju Lestari). Salah satu rangkaian program tersebut berupa pelatihan dan sosialisasi penggunaan tungku sekam yang dilaksanakan pada 26 Juli 2026 di kediaman Bu Istianah, Dukuh Daleman, Desa Jurang Jero.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB tersebut diikuti 44 peserta yang terdiri atas warga dan unsur pengurus dukuh. Kegiatan berlangsung sekitar satu jam dan menjadi sesi pertama yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).
Pada sesi tungku sekam, mahasiswa memaparkan latar belakang, sejarah, prinsip pemanfaatan sekam sebagai bahan bakar, serta cara pengoperasian tungku. Peserta juga mendapatkan booklet SEMAR yang disusun mahasiswa sebagai buku saku mengenai sejarah, pembuatan, penggunaan, dan pemanfaatan tungku sekam.
Teknologi tungku sekam yang diperkenalkan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan teknologi di IPB University. Penelitian tungku sekam telah dilakukan sejak 1998 dan tim penelitinya saat itu dikoordinasikan oleh Prof. Dr. Ir. Irzaman. M.Si.
Pengembangan tersebut kemudian dilanjutkan melalui berbagai penelitian dan kegiatan penerapan tungku sekam di masyarakat.
Setelah pemaparan materi, peserta mengikuti sesi diskusi. Salah satu pertanyaan datang dari Purnomo, pegiat pertanian organik Desa Jurang Jero yang tergabung dalam LPPNU (Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama).
“Apakah efisiensi tungku sekam ini bisa menandingi kompor gas? Lalu, apakah tungku sekam bisa menggantikan posisi kompor gas dalam kebutuhan rumah tangga?”
Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam diskusi. Mahasiswa menjelaskan bahwa tungku sekam belum ditujukan untuk sepenuhnya menggantikan kompor gas. Teknologi ini lebih diarahkan sebagai alternatif dan pelengkap sumber energi, terutama dengan memanfaatkan sekam yang tersedia dari aktivitas pertanian setempat.
Dengan demikian, penggunaan tungku sekam tidak harus diposisikan sebagai pengganti mutlak kompor gas. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan tertentu sekaligus memiliki pilihan sumber energi lain sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada satu jenis bahan bakar.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan tungku. Mahasiswa menunjukkan cara memasukkan sekam ke dalam kerucut penampung sekam, kemudian menyalakannya dari bagian atas. Setelah sekam mulai membara, bagian bawah tungku disodok menggunakan kayu untuk membantu penyebaran panas agar pembakaran berlangsung lebih merata dan api dapat bertahan lebih lama.
Demonstrasi tersebut mendapat perhatian dari peserta. Masyarakat tidak hanya menyimak proses penggunaan tungku, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan mengenai penerapannya untuk kebutuhan rumah tangga.
Bagi sebagian warga, tungku sekam bukan teknologi yang sepenuhnya baru. Partono, salah seorang tokoh masyarakat dan agama setempat, mengatakan bahwa ia pernah menggunakan tungku sekam sebelumnya. Namun, ia menilai pengenalan kembali teknologi tersebut tetap bermanfaat bagi warga Daleman dan Dandansari yang belum mengenalnya.
“Kalau saya dulu sudah pernah menggunakan tungku sekam, jadi sebenarnya ini bukan hal yang baru bagi saya. Tetapi bagi warga Daleman dan Dandansari, ini tentu menjadi hal yang baru. Terima kasih sudah mengenalkan kembali tungku sekam kepada masyarakat,” ujar Partono.
Program SEMAR berangkat dari pengamatan mahasiswa terhadap kondisi pertanian di Desa Jurang Jero selama kurang lebih dua minggu. Luasnya lahan pertanian di sekitar Daleman dan Dandansari membuat sekam padi menjadi salah satu potensi biomassa yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
Mahasiswa tidak memosisikan tungku sekam sebagai solusi tunggal atas persoalan limbah pertanian. Program ini menjadi salah satu upaya mengenalkan alternatif pemanfaatan sekam sekaligus membuka wawasan masyarakat mengenai potensi biomassa lokal sebagai sumber energi.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, satu unit tungku sekam kemudian diserahkan kepada pihak dukuh untuk menjadi inventaris yang dapat dimanfaatkan dan dipelajari masyarakat. Tungku tersebut sebelumnya telah dibuat oleh tim Prof. Irzaman. Mahasiswa KKNT KLATENKAB06 kemudian melakukan pemolesan dan menambahkan watermark KKNT IPB 2026 atas izin Prof. Irzaman.
Melalui SEMAR, mahasiswa KKNT IPB University berupaya menghubungkan potensi pertanian lokal dengan teknologi yang telah dikembangkan di lingkungan kampus. Sekam yang sebelumnya dipandang sebagai limbah diperkenalkan kembali sebagai biomassa yang masih memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pilihan sumber energi bagi masyarakat.
