Ketika Sopan Santun Jadi Ketinggalan Zaman

Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Naufal Daffa Guswani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sopan santun pernah menjadi kebanggaan masyarakat kita. Ia bukan sekadar basa-basi, melainkan napas dari nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Di ruang makan, di jalan, bahkan dalam percakapan biasa, sopan santun adalah benang merah yang menjahit interaksi antar manusia Indonesia. Tapi hari ini, sopan santun seperti barang antik: disanjung tapi ditinggalkan, dikenang tapi tak dihidupi.
Fenomena ini muncul dengan berbagai rupa. Anak muda yang terlalu santun dianggap kaku. Orang yang mengucap “maaf” atau “terima kasih” malah dikira sedang cari muka. Bahkan di ruang digital, sopan santun sering kalah cepat dengan komentar sinis, nyinyiran, dan sarkasme tanpa dasar. Ada apa sebenarnya dengan kita?
Budaya Baru: Kecepatan, Bukan Kepekaan
Kita hidup dalam zaman yang serba cepat. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan algoritma konten telah membentuk budaya instan: semua ingin cepat, semua ingin viral, semua ingin to the point. Di tengah arus ini, sopan santun yang biasanya melibatkan proses berpikir, merasakan, dan memilih kata dengan hati-hati itu terlihat seperti kemewahan yang tak praktis.
Bayangkan percakapan sederhana di WhatsApp:
“Pagi, maaf mengganggu waktunya, saya ingin bertanya…”
Teks seperti ini kini dianggap terlalu panjang atau kurang efisien. Sebaliknya, yang ditinggikan justru gaya komunikasi singkat, tajam, bahkan kadang kasar, asal cepat sampai. Tapi, apakah semua yang cepat pasti tepat?
Ketika Ketidaksopanan Dijadikan Simbol Kejujuran
Ada narasi baru yang belakangan tumbuh subur: menjadi kasar dianggap jujur. Kata-kata tajam dibungkus label “aku hanya jadi diriku sendiri”. Orang yang menyindir tanpa tedeng aling-aling malah dianggap berani. Padahal, keberanian sejati bukan soal siapa yang paling keras suara dan ucapannya, melainkan siapa yang tetap bisa menghargai perasaan orang lain meski berbeda pendapat.
Sopan santun bukan topeng. Ia bukan semata-mata pencitraan. Ia adalah bentuk kedewasaan berupa kemampuan untuk menyampaikan kebenaran tanpa menyakiti secara tidak perlu. Tapi sayangnya, banyak dari kita lebih tertarik jadi “blak-blakan” daripada bijaksana.
Di Ruang Publik: Sopan Dikira Lemah
Bukan hanya di media sosial. Di jalan raya, di kantor layanan publik, bahkan di warung makan, kita bisa melihat kecenderungan yang sama: orang yang menuntut dengan suara tinggi cenderung lebih cepat dilayani. Yang bersikap sopan justru “dilewatkan” atau dianggap bisa ditunda.
Seolah-olah, dalam dunia hari ini, sopan santun tak punya daya tawar. Ketegasan dicampur dengan kekasaran. Keramahan dianggap tak kompeten. Padahal, jika kita pikir ulang, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Pendidikan yang Kian Formal, Tapi Kurang Moral
Sopan santun tidak lahir dari hafalan, tapi dari keteladanan. Ironisnya, sistem pendidikan kita seringkali terlalu fokus pada capaian akademik, sementara pendidikan karakter hanya sebatas slogan.
Di sekolah, anak bisa menghafal Pancasila tapi tak tahu bagaimana cara mendengarkan orang bicara dengan hormat. Bisa menjawab soal etika tapi tak tahu cara minta maaf dengan tulus. Di rumah, tak semua orang tua punya cukup waktu untuk menanamkan nilai-nilai itu, karena kehidupan pun memaksa mereka untuk terus bertahan secara ekonomi.
Menghidupkan Lagi Sopan Santun
Mungkin benar, zaman telah berubah. Tapi bukan berarti nilai-nilai lama harus dikubur begitu saja. Sopan santun adalah budaya yang harus terus di-upgrade, bukan ditinggalkan. Ia bisa adaptif tanpa kehilangan esensinya.
Di media sosial, kita bisa berbeda pendapat tanpa perlu merendahkan. Dalam percakapan, kita bisa belajar menahan diri untuk tidak langsung menghakimi. Dalam keseharian, kita bisa mulai dengan hal-hal kecil semisal mengucapkan terima kasih kepada tukang parkir, menyapa tetangga, mendengarkan sebelum memotong pembicaraan.
Sopan santun bukan sekadar kebiasaan, ia adalah bentuk kecintaan terhadap sesama manusia. Kita tidak kehilangan sopan santun karena tidak mampu, tapi karena kita mulai meremehkan nilainya.
Menjadi Aneh karena Sopan?
Jika hari ini orang yang sopan dianggap aneh, maka biarlah kita jadi aneh. Dunia yang terlalu bising butuh lebih banyak orang yang memilih berbicara dengan hati. Dunia yang terlalu cepat butuh lebih banyak orang yang sabar menunggu giliran. Dan dunia yang terlalu keras, butuh lebih banyak orang yang tetap lembut dalam ucapan dan tindakan.
Sopan santun mungkin ketinggalan zaman. Tapi justru karena itu, ia jadi makin langka dan berharga.
